Mas menyimpulkan pengalamanny nggak terbalik ??

Bukan krn pencatatan nggak baik ( tak sesaui kaedah ) maka lalu suah 
dikontrol  tapi..

sengaja di buat begitu  supaya mudah diselewengkan.. lalu alibinya... bukan 
penyelewengan tapi sekedar kacau administrasi aja kok...    :(

Menurut saya memang disengaja kok.. nggakdicatat dgn baik...

Salam

At 11:54 AM 5/23/2007, you wrote:

>Salam
>
>Urun rembuk sedikit mas Ulil
>Ini sedikit pengalaman pribadi . Di lembaga2 dan organisasi2
>di Indonesia ini kelemahan mendasar adalah tidak adanya
>pencatatan terhadap aktivitas keuangan sesuai dengan kaedah2
>yang berlaku. Masuk keluarnya uang hanya dibuatkan catatan kecil
>tanpa narasi kegunaanya dari mana, untuk apa, siapa penerima etc.
>Saya pernah membantu mengaudit keuangan salah satu RS pemerintah
>kelas A, saya lihat aktivitas keuangan dengan omset puluhan milyar
>tidak ada sistem akuntansi yang dipakai. Bayangkan bagaimana cara
>menelusuri keluar masuknya uang tanpa bukti2 yang memadai. Saya yakin
>hal yang sama terjadi di lembaga2 pemerintah, sehingga dengan gampang saja
>jika BPK masuk akan ditemukan banyak penyimpangan.
>Balik lagi ke masalah. Okelah, memang ada biaya "sosial" seperti yang mas
>kemukakan di departemen2. Namun jika departemen tersebut "mau" untuk
>menerapkan kaedah2 akuntansi dalam pengelolaan keuangannya, niscaya
>tidak akan muncul istilah non budgeter dsb, sebab suatu sistem akuntansi
>akan mengakomodasi keseluruhan aktivitas keuangan baik itu untuk kepentingan
>finansial sendiri atau kepentingan "sosial" tersebut. Contoh sebuah perusahaan
>sebesar Astra, proposal2 "sosial" pastilah bernilai milyaran rupiah, namun 
>karena
>sistem akuntansinya kredibel, tidak muncul istilah penyalahgunaan biaya 
>"sosial"
>tersebut.
>Pointnya jika pengelolaan lembaga2 tersebut mengadopsi prinsip GCG pada
>korporasi, minimal akan mengurangi kejahatan2 korupsi.
>
>Wasallam

Kirim email ke