Ini sepertinya contoh cinta sejati ya... salut deh utk pasangan Din dan Jak ini...
----- Original Message ----- From: "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]> > Oleh Yenti Aprianti > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/24/utama/3553607.htm > ===================== > > Hidup serasa di ambang kematian. Tak ada lagi harapan ketika HIV > dinyatakan bersemayam di tubuh. Tak heran, banyak orang dengan > HIV/AIDS atau ODHA pada awalnya mengalami masa sedih yang mendalam. > Bagi para ODHA perempuan, sejuta pertanyaan menghantui diri. Adakah > orang yang mau menikahi? Bisakah ia hamil lalu melahirkan? > > Din, sebut saja begitu, juga merasakan itu. Pada masa lalunya, ia > menjalankan seks bebas dengan kekasihnya. Kehidupan bebas berakhir > ketika ia bertemu Jak (27), kekasih baru yang dikenalnya menjalani > hidup sehat. Dua minggu sebelum menikah, Din menjalani serangkaian tes > kesehatan dan mendapatkan kenyataan pahit bahwa ia mengidap HIV. Bumi > serasa runtuh hari itu. Padahal, pertunangan sudah dilaksanakan. > > Mengetahui kondisi anaknya, orangtua Din pun tak memaksa calon > menantunya untuk melanjutkan rencana pernikahan. "Kalau Jak mau > membatalkan, silakan. Tetapi kalau tetap menikahi anak saya, namanya > mukjizat," ujar orangtua Din. > > Jak memang galau. Ia menemui ibunya. "Ibu bilang, kematian hanya Tuhan > yang menentukan. Tak ada manusia yang bisa memperkirakan kematian > orang. Bahkan dokter sekalipun," ujar Jak menirukan kata-kata ibunya > yang penuh pengertian dan sama sekali tak memiliki stigma terhadap > ODHA. Nasihat itu meneguhkan Jak menikahi Din. > > "Orangtua Din mengatakan pernikahan mereka mukjizat. Namun, saya > merasa itu cinta," kata Jak yang disambut tepuk tangan puluhan ODHA > yang hadir dalam Malam Renungan AIDS, Senin (21/5) di Gedung Yayasan > Pusat Kesenian, Jalan Naripan, Kota Bandung. > > "I love you," teriak para ODHA kepada Jak yang memberikan testimoni > malam itu. Maklum saja, banyak ODHA sangsi ada orang bukan ODHA mau > hidup bersama mereka, apalagi sampai membagi hidupnya. Kata-kata Jak > rupanya mengobarkan rasa dihargai dan semangat untuk hidup. > > Jak melanjutkan kisahnya. Ia mengaku hidup sehat, tidak merokok, tidak > minum alkohol, serta tidak melakukan seks bebas. Hidup bersih itu pula > yang membuatnya yakin bisa mendampingi istrinya dalam keadaan sehat > dan sakit. > > Pada awal pernikahan, Jak dan Din pergi ke beberapa tempat, mencari > berbagai informasi. Mereka dapat berumah tangga dengan wajar seperti > pasangan bukan ODHA lainnya. Syaratnya, istrinya yang ODHA harus minum > obat Antiretroviral (ARV) setiap 12 jam, tak boleh absen selama satu > tahun. > > Istrinya pun tak boleh minum soda. Soda menyebabkan luka di lambung. > Ini akan sangat merepotkan. Bagi orang tanpa HIV, luka lambung bisa > sembuh dalam tiga hari, tetapi bagi ODHA bisa memakan waktu sebulan. > > ODHA juga tak boleh minum alkohol agar kekebalan tubuhnya tak mudah > turun. Mereka juga tak boleh begadang agar tak mudah terserang flu. > Flu bisa menggerogoti kekebalannya dalam waktu cukup lama. Lalapan > atau sayur mentah pun tidak boleh lagi dikonsumsi karena lalapan > kurang steril bagi mereka. > > Din taat menjalani aturan itu. Akhirnya, setelah setahun, ia mengikuti > tes. Hasilnya sel darah putihnya kurang dari 400/mm dan virus HIV > tidak terdeteksi. Dokter mengizinkan Din hamil. Jak dan Din segera > mengikuti program memiliki anak. Mereka dapat berhubungan tanpa > kondom. Tak lama, Din pun hamil. > > Selama hamil, ia terus melakukan terapi ARV untuk menekan jumlah > virusnya. "Kebetulan istri saya cocok menggunakan ARV dengan dosis > ringan sehingga tidak ada keluhan," ujar Jak. > > Jak terus membantu istrinya agar bisa makan sehat sesuai anjuran > dokter. "Asalkan makan empat sehat lima sempurna, kekebalan tubuhnya > tidak akan drop. Hidup dengan ODHA perempuan mudah, kok," ujar Jak > yang yakin bahwa dengan hidup sehat segala penyakit bisa diatasi. > > Saat melahirkan menjadi saat yang mengkhawatirkan. Namun, dokter terus > mendampingi dan memberikan wawasan-wawasan baru sehingga mereka makin > yakin menghadapi hari yang bagi perempuan tanpa HIV pun merupakan > masa-masa sangat menegangkan. > > "Dokter mengatakan, berdasarkan hasil penelitian, jika ODHA perempuan > melahirkan normal, kemungkinan bayi terinfeksi HIV sebanyak 3 persen > karena ia akan melewati lubang vagina ibunya dan kemungkinan cairan > vagina itu menginfeksinya," kata Jak. > > Sedangkan jika dilakukan caesar, kemungkinan penularannya hanya 0,03 > persen. "Kami pilih caesar," ujar Jak. > > Kini bayi mereka berusia dua minggu. Sejak pertama dilahirkan, bayinya > sudah mendapatkan air susu ibu (ASI). Namun, karena gen dari ibunya > masih sangat berpengaruh, bayinya pun harus mendapatkan obat ARV > setiap delapan jam sehari. "Obat itu kami teteskan ke mulutnya. Untung > anak saya tidak rewel," ujar Jak. > > Bayinya baru akan dites setelah usianya 1,5 bulan. "Kami cukup tenang > menghadapinya. Mudah-mudahan hasilnya negatif," harap Jak. > > 397 kasus > > Menurut Ronald Jonathan, Konsultan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) > untuk Jawa Barat, provinsi ini memiliki ODHA perempuan cukup banyak. > Hingga Desember sudah tercatat 397 orang. > > Ronald juga mengatakan bahwa ODHA perempuan tetap berkesempatan untuk > hamil dan memiliki anak. Berdasarkan penelitian, hanya 25-40 persen > bayi yang dilahirkan ODHA perempuan terinfeksi HIV. > > Risiko penularan tersebut bisa dihindari jika ibu dan ayahnya > melakukan hubungan seks pada saat virus tak terdeteksi. > > "Sayangnya untuk tes tersebut biayanya mahal, Rp 850.000. Jadi jarang > juga ada pasangan ODHA yang melakukannya, kecuali mereka yang berasal > dari kalangan ekonomi atas," ujar Ronald. > > Namun, virus bisa tak terdeteksi jika ODHA perempuan rajin melakukan > terapi ARV setidaknya selama 1-1,5 tahun sebelum merencanakan hamil. > > Artinya, asalkan disiplin, ODHA perempuan bisa hidup sehat dan meraih > impiannya....
