Setuju Pak .. terutama kalimat terakhir anda, tidak akan ada
seorangpun yang berfikiran sehat, yang mampu menyangkal itu ..
kecuali dalam slogan-slogan kampanye, missal: "bersama kita bisa .."
Masalahnya, struktur dasar didalam system melaksanakan pemerintahan,
seperti: pola penanganan masalah, peletakan prioritas, interaksi
vertical dan horizontal, ketegasan menjalankan aturan, pemahaman
TUGAS dan KEWAJIBAN .. dll .. dll .. itu tidak "sedang" atau "akan"
dirobah kearah yang benar oleh yang berwenang. Coba renungkan hal
yang kecil tapi sangat mendasar: "ANDA MASUK WILAYAH TERTIB LALU
LINTAS" .. maksudnya apa neh ?? Orang waras yang sedang berlalu
lintas kan pasti bertanya dan menoleh kebelakang .. emang gue dateng
dari mane ?? Hal-hal seperti ini sekarang telah mengelilingi
keseharian kita, karena setiap "pertanyaan bingung" dari masyarakat
langsung dicap sebagai "kritik" atau bahkan "fitnah" oleh siempunya
wewenang, yang tanpa disadari telah membuat pemikiran masyarakat
menjadi TUMPUL. Kembali ke topik kita, saya sangat setuju dengan
uraiannya pak Iwan Kurniawan, yaitu pemerintah harus menjabarkan
terlebih dahulu secara benar dan transparan mengenai "neraca energi"
negeri ini, menganalisanya secara "seksama dan bersama", bersamaan
dengan itu jabarkan neraca untung-ruginya PLTN yang juga diambil
dari data pengalaman seluruh negara pengguna. Jangan lupa, tetap
realistis, yaitu kita tidak sedang akan "mengembangkan teknologi
nuklir, khususnya PLTN", melainkan kita sedang akan "mengkonsumsi
produk PLTN dari negara lain", berarti, baik saat pembangunan maupun
operationalnya nanti, sadari betul-betul kebergantungannya terhadap
negara lain, baik teknologi, suku cadang maupun bahan baku. Strategi
USA yang menghemat sumber daya energi nya juga patut dicontoh.
Setelah hasil analisa hingga butir-2 ini mengindikasikan PLTN masih
tetap atraktiv, marilah melangkah ke pertimbangan "risiko keamanan".
Saya pribadi melihat risiko terbesar adalah "sabotage dan terror",
terlebih jenis terror sekarang ini telah menjurus kearah "bunuh
diri", sementara pola dasar "kedisiplinan" kita masih seperti contoh
diatas .. "ANDA MASUK WILAYAH TERTIB SEGALA-GALA NYA" .. bisa bisa
seluruh area PLTN akan penuh dengan pemberitahuan-2 seperti itu ..
dan rakyat pun tenteram ??
Salam,
Bodo


--- In [email protected], chie one
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Paulus Yth.
>
>   Kalau boleh saya sedikit kasih komentar, secara pribadi saya
yakin bahwa bangsa kita mampu untuk mengembangkan teknologi nuklir,
khususnya PLTN. Semua orang tau bahwa setiap sesuatu itu pasti ada
keuntungan dan kerugiannya, tinggal bagaimana kita meminimalisir
kerugiannya sehingga tidak menjadi beban bagi bangsa ini.
>
>   Kalau dari kerugian dan bahaya, jelas nuklir itu sangat
berbahaya dan merugikan kita semua, jika kita tidak mengelola
teknologi tersebut dengan sebaik-baiknya, dan sudah tentu harus
memperhatikan faktor keselamatannya.
>
>   Dan saya sangat yakin, para pekerja2 nuklir tidak akan sembrono
dalam memanfaatkan teknologi nuklir, sebab kalau salah sedikit saja
mereka mengelolanya, maka orang yang pertama terkena dampaknya
adalah mereka sendiri. Jelas mereka tidak mau melakukan hal bunuh
diri dooong.
>
>   Jadi, saya pikir Pak Paulus jangan menyangkut pautkan kerja
pemerintahan yang ada sekarang dengan kebutuhan energi kita yang
sekarang ini sangat mendesak. Sebab dengan kondisi sekarang ini,
siapapun yang memegang tampuk pemerintahan, tetap saja yang namanya
korupsi, kolosi dan nepotisme tidak mudah diberantas, hatta (maaf)
orang2 yang sekarang ini sering mengkritik pemerintahan yang ada
sekarang, jika kemudian mereka diberi kesempatan memegang tampuk
pemerintahan, saya sangat yakin, haqqul yaqin, tetap saja tidak jauh
berbeda dengan yang ada sekarang.
>
>   Salam
>   AR

Kirim email ke