Saya ikut manggut-manggut dalam hati setelah membaca tulisan James Gwee ini. 
Kisahnya sederhana, tetapi filosofinya sangat dalam, seperti ungkapan China 
klasik, "perjalanan 1000 mil, dimulai dengan satu langkah".
   
  Memang di Singapore saya melihat sendiri banyak orang-orang tua seperti Pak 
Lim di kisah James, yang dengan tekun, sabar dan tabah menjalani tugas 
sehari-hari yang nampaknya "sepele".
   
  Saya rasa ini terkait dengan falsafah Confucius yang banyak dijalankan oleh 
etnis China, yang menjadi mayoritas warga Singapore, dan umumnya masih 
dijalankan dengan sungguh-sungguh oleh generasi tua (usia 50 - 60 tahun) yang 
sempat mengalami masa-masa sulit di tahun-tahun awal berdirinya Singapore.
   
  Kalau di Indonesia juga hampir sama. Mayoritas etnis Tionghoa yang terkenal 
ulet dan jago berdagang, umumnya adalah generasi tua berusia 40 - 60 tahun yang 
pernah mengalami masa-masa sulit pada tahun 60-an (ingat ketika orang antri 
beras dan minyak?)
   
  Sedangkan generasi muda, lazim dikenal sebagai "Gen-X" dan "Gen-Y", yang 
lahir tahun 70an sampai 80an, umumnya sudah mengalami "zaman normal", dan 
umumnya relatif hidup lebih mudah dibandingkan dengan masa muda orang tua 
mereka.
  Akibatnya, mereka cenderung jadi "spoil child" dan sangat konsumtif. 
   
  Mereka adalah sasaran empuk para produsen city car, apartemen mewah, paket 
liburan luar negri dll yang dikemas dalam paket "luxury life style". Mereka 
juga pengunjung tetap klub-klub eksklusif, clubber yang menjamur di berbagai 
kota besar saat ini.
  Mereka juga anggota komunitas elit, socialite, yang tidak segan-segan merogoh 
kocek sampai puluhan juta rupiah untuk mendapatkan ponsel cerdas edisi terbaru.
   
  Tidak mengherankan kalau mereka jadi mendewakan kesuksesan materi dan 
cenderung menganggap remeh orang yang tingkat ekonominya kurang sukses atau 
dibawah level mereka.
   
  Trend ini berlaku universal, entah di Indonesia, Singapore, Jepang sampai USA.
   
  Krisis ekonomi awal tahun 90an yang melanda USA, telah melenyapkan generasi 
yuppies yang hedonis. Krisis ekonomi akhir 90an yang melanda Indonesia dan 
beberapa negara Asia juga telah merontokkan kelas menegah, namun kini nampaknya 
muncul kembali, seiring dengan mulai pulihnya pertumbuhan ekonomi di Asia, yang 
dipicu oleh pesatnya laju ekonomi di China.
   
  Kesimpulan saya, nilai-nilai Confucian yang masih dipegang teguh oleh 
generasi tua seperti Pak Lim di Singapore dan Pak Lim - Pak Lim lain di 
Indonesia, nampaknya sudah mulai langka, bahkan hampir punah, seiring dengan 
berubahnya trend ekonomi dan nilai-nilai sosial yang dianut generasi muda saat 
ini.
   
  Salam.
  

Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Makna Pekerjaan Anda...
By James Gwee

Beberapa waktu yang lalu saya memberikan pelatihan mengenai sikap
kerja disebuah hotel berbintang lima di Singapura. Salah satu peserta
pelatihan adalah Pak Lim, seorang pria berusia 60 tahunan yang
bekerja di hotel tersebut. Bagi saya pekerjaan sehari-hari Pak Lim
sangatlah monoton dan membosankan. Setiap hari, dengan membawa sebuah
daftar, dia mengecek engsel pintu setiap kamar hotel.

Saya akan menceritakan sedikit bagaimana tugas Pak Lim sebenarnya. Pak
Lim memulai rangkaian tugasnya dengan mengecek engsel pintu pintu kamar
1001 dan memastikan bahwa engsel dan fungsi kunci pintu berfungsi dengan
baik. Pengecekan yang dilakukannya bukanlah pengecekan "seadanya",
namun pengecekan yang saksama di setiap engsel dan memastikan bahwa
setiap pintu bisa dibuka-tutup tanpa masalah.

Untuk mengecek satu pintu saja, Pak Lim berulang kali membukan dan
menutup pintu tersebut hanya untuk memastikan bahwa semuanya berfungsi
dengan baik. Barulah setelah puas, dia memberi paraf pada daftar yang
dibawanya dan mengecek pintu kamar berikutnya, kamar 1002, dia melakukan
hal yang sama, begitu seterusnya. Dalam sehari, Pak Lim bisa mengecek
pintu 30 kamar.

Anda tentu bertanya, berapa hari waktu yang dibutuhkan Pak Lim
untuk mengecek pintu semua kamar di hotel itu. kurang lebih
sebulan! Tidak mengejutkan sebenarnya karena hotel berbintang lima ini
memiliki sekitar 600 kamar.

Tugas pengecekan Pak Lim dapat diibaratkan sebagai lingkaran.
setelahpintu kamar terakhir selesai dicek, Pak Lim akan kembali lagi ke
kamar pertama, kamar 1001. Rangkaian tugas ini terus berjalan seperti
itu, dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun demi tahun. Pekerjaan
semaca ini jelas merupakan pekerjaan monoton, tanpa variasi dan
membosankan! saya sendiri tidak habis pikir, bagaimana mungkin Pak Lim
masih bisa cermat dan teliti mengecek setiap engsel pintu dalam
menjalani tugas yang membosankan ini. saya membayangkan, seandainya 
saya sendiri yang diminta melakukan hal semacam ini, mungkin saya akan
memeriksa setiap engsel sekedarnya saja.

Karena sangat penasaran, suatu hari saya bertanya kepada Pak Lim apa
yang sebenarnya membuatnya begitu tekun menjalani pekerjaan rutin
itu. Jawabannya sungguh diluar dugaan saya.

Dia mengatakan,"James, dari pertanyaan Anda, saya bisa menyimpulkan
bahwa Anda tidak mengerti pekerjaan saya. Pekerjaan saya bukan sekedar
memeriksa engsel, tetapi lebih dari itu. Begini. Tamu-tamu kami di hotel
berbintang lima ini jelas bukan orang sembarangan. mereka biasanya
adalah Kepala Keluarga, CEO sebuah perusahaan, Direktur atau Manajer
Senior. Dan saya tahu mereka semua jelas bertanggung jawab atas
kehidupan keluarga mereka, dan juga banyak karyawan dibawahnya yang
jumlahnya mungkin 20 orang, 100 atau bahkan ribuan orang.

"Nah, kalau sesuatu yang buruk terjadi di hotel ini, misalnya
saja kebakaran dan pintu tidak bisa dibuka karena engselnya rusak,
mereka bisa meninggal didalam kamar. akibatnya bisa Anda bayangkan, 
pasti sangat mengerikan, bukan hanya untuk reputasi hotel ini, tetapi juga
bagi keluarga mereka, karyawan yang berada dibawah tanggungan mereka.
Keluarga mereka akan kehilangan sosok Kepala Keluarga yang menafkahi
mereka dan karyawan mereka akan kehilangan sorang pimpinan senior yang
bisa jadi mengganggu kelancaran perusahaan. Sekarang Anda mungkin
dapat mengerti bahwa tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel, tapi
menyelamatkan Kepala Keluarga dan Pimpinan unit bisnis sebuah 
perusahaan. Jadi, jangan meremehkan tugas saya."

Saya benar-benar terperangah mendengar penjelasan panjang lebar Pak
Lim. Dari situlah saya mengerti bahwa jika seseorang tahu benar makna
dibalik pekerjaannya, dia akan melakukan pekerjaannya dengan bangga,
dengan senang hati, dengan penuh tanggung jawab. Sebaliknya,
seandainya saja Pak Lim tidak mengerti makna pekerjaannya, dia akan
mengatakan bahwa tugasnya hanya sebagai tukang periksa engsel.

Sekarang, coba tanyakan pada diri sendiri. Apakah anda tahu benar
makna dibalik pekerjaan Anda? Katakanlah Anda adalah seorang Staff,
Kepala Bagian, Manajer unit bisnis, Kadiv, apakah Anda tahu makna 
dibalik pekerjaan anda sebagai seorang Staff, Kepala Bagian, Manajer atau
Kadiv ?

Ingatlah bahwa jika seorang tahu makna pekerjaannya, dia pasti
akan melakukan pekerjaan dengan rasa bangga, dan yang terpenting,
dia akan membuat pekerjaannya penuh arti, bagi dirinya, bagi
keluarganya dan bagi perusahaannya.

Regards,
JAMES GWEE


Kirim email ke