Mungkin ada baiknya budaya nrimo dan pasrah masyarakat Indonesia terhadap kondisi negerinya, perlu dirubah menjadi budaya sadar dan peduli.
Ingatlah kutipan ini: The only thing necessary for the triumph of evil is for good man to do nothing. (Edmund Burke 1729-1797) Artinya: Satu-satunya alasan kejahatan menang karena orang baiknya diam saja. Maka mungkin memang banyak orang baik di Indonesia, tetapi mereka kebanyakan diam saja, tercermin dari sikap pasrah dan nrimo. Akibatnya orang2 rakus dan biadab itu tumbuh subur. Terhadap pernyataan Ulil saya setuju sekali. (1) Yang poin pertama bisa tercermin seperti sikap penolakan busway pada awalnya, penolakan impor beras, penolakan pembangunan taman menteng, dan lain2. Awalnya masyarakat sangat sinis, tetapi akhirnya kan ada manfaat dan tujuannya yang baik. (2) Contoh poin yang kedua bisa tercermin dalam sikap beberapa LSM yang "aneh". Contoh pernah ada LSM yang mengatasnamakan lingkungan menolak pembangunan taman menteng karena menghancurkan cagar budaya stadion Menteng yang berumur lebih dari 30 tahun dan merusak lingkungan. Di London yang menjadi kiblat pemerintahan yang maju, ada stadion Highburry yang berumur lebih 100 tahun disulap menjadi taman. Penolakan ini aneh karena dasar merusak lingkungan itu tidak tepat. Lapangan sepakbola tua disulap menjadi taman kota justru tujuannya adalah peningkatan lingkungan yang lebih asri dan nyaman. Dan contoh lain, banyak klub perserikatan sepakbola mengkritisi pemerintah karena aturan melarang klub menggunakan APBD. Kita bisa lihat yang berteriak itu yang memang bukan klub yang profesional dan tidak becus mengurus administrasinya. Bagaimana menuntut sepakbola Indonesia menuju profesional dan ke jenjang dunia kalau aturan ini saja masih banyak yang berteriak dan menghujat?! (3) Contoh yang ketiga ini yang sering saya temui. Contoh yang sering kita temui sehari2, banyak sekali dan seringkali kita ini menghujat angkot, bus metromini/kopaja, bus patas yang seenaknya ngetem sembarangan. Kita jarang/sedikit sekali yang memahami atau setidaknya mencari tahu latar belakang kenapa mereka ini seperti itu? Ditertibkan lalu kembali lagi semrawut. Kita selalu mengharapkan mereka bersikap disiplin (bermoral tinggi). Padahal, (1) kita sendiri belum tentu disiplin, (2) kita sendiri tidak tahu/ tidak paham akar permasalahannya (kenapa mereka selalu nakal/mengetem sembarangan). Kalau ada pengusaha angkutan umum mungkin sekali mengiyakan komentar saya. Karena memang dasarnya mereka itu begitu karena KETERPAKSAAN akibat dari sistem yang dibentuk. Yang membentuk sistem siapa? Silahkan cari tahu sendiri. (4) Poin keempat bisa tercermin dari sikap masyarakat yang selalu menuntut permasalahan bisa diselesaikan secara instan tanpa melihat konteks prosesnya. Contoh: PSSI yang getol memecat pelatih timnas HANYA karena hasil akhirnya tidak sesuai dengan selera dan harapan PSSI, walaupun dalam pengembangan tim menunjukkan pengembangan teknik dan karakter tim yang semakin membaik. Contoh anyar dipecatnya Peter Withe, padahal masa kontraknya belum habis. Akibatnya PSSI tetap harus membayar sisa kontraknya, plus merekrut pelatih baru dengan atmosfir yang baru pula. Dengan catatan sebentar lagi timnas menjadi bulan2an di Piala Asia. Apa ini yang diharapkan? (5) Tidak mungkin ada pemimpin yang bisa memuaskan semua pihak. Nabi yang jadi pemimpin saja juga tidak dapat memuaskan semua pihak. Karena itu namanya sifat alami manusia. Masalahnya sebenarnya banyak sekali orang baik di negeri ini, tapi kebanyakan mereka "diam". Akibatnya yang jahatnya justru yang berkuasa. Diam disini bukan maksudnya diam sama sekali, tetapi diam yang merepresentasikan sikap acuh, tidak peduli, pasrah dan nrimo. p --- In [email protected], "Sulaeman Herisuwendi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > (1). Satu perkara yang saya setuju dari tulisan sdr Ulil adalah tentang > perlunya budaya kritik sehat. Memang kritikan berbobot mesti berlandaskan > sifat fair, terbuka, punya argumentasi akurat dan bertanggungj-awab. Kritik > tidak boleh menjadi media penyamaran dari hasrat ingin ngedumel, > mengeluarkan uneg-uneg, menumpahkan kemarahan atau memancing situasi untuk > menangkap udang dibalik batu..Ini tidak terkecuali kepada kritikan yang > diajukan kepada pemerintah yang tengah berkuasa. > > (2) Tanpa mengurangi respek saya terhadap perbedaan pendapat, dua perkara > yang saya tidak sepaham dengan argumentasi sdr. Ulil yaitu: (a). Penyakit > Masyarakat (b). Tidak mungkin mengharap pemimpin yang baik dari masyarakat > yang jelek. Alasan saya sbb: > > a. Betulkah masyarakat kita mengidap gejala Panca -penyakit seperti yang > dirinci satu-persatu sdr. Ulil? Bagi saya ini sebuah diagnosa prematur dan > salah alamat. Semua penyakit yang disebutkan itu sebenarnya penyakit akut > orang-orang politik beserta para jongos dan simpatisan aktifnya, bukan > penyakit masyarakat awam yang tak tersentuh bau keringatnya politik aktif. > Adalah tidak fair perangai satu dua juta orang dilingkaran politik aktif > lalu di-claim sebagai perangai masyarakat Indonesia yang 252 juta penduduk > ini. Tanyalah berapa orang sih di Indonesia yang peduli amat ngurusin > apa itu dana non-bujeter dan reshuffle kabinet? Orang yang berpenyakit > seperti contoh yang dikemukakan sdr Ulil hanyalah dominant dijumpai pada > orang yang suka ngurusin politik, sementara rakyak jelata hanaylah pasrah > dan nrimo apa yang terjadi sambil berharap semoga badai cepat berlalu..Yang > tengah sakit bukanlah masyarakat biasa tapi justeru gajah-gajah dan kutunya > yang terus sikut-sikutan memperebutkan lahan kekuasaan. Bagi saya masyarakat > kita adalah masyarakat yang baik tapi para pelaku politiknya justeru yang > berpenyakit sehingga mengotori dan mengeruhkan ketentraman hidup orang awam. > > b. Apa betul pemimpin yang unggul hanya bisa muncul dari masyarakat yang > bagus? Bagi saya pemimpin dan masyarakat tidak selalu punya korelasi kuat. > Contoh kecil dalam lingkungan keluarga. Jangan fikir kalau sang ayah > adalah seorang yang alim dan pemimpin masyarakat yang dihormati karena > keteladanannya lantas anaknya akan meniru seperti sebaik ayahnya. Jangan > pula berburuk sangka dan melecehkan seorang anak yang lahir dari tetesan > mani seorang ayah yang biadab tukang bunuh dan perkosa. Anak itu bisa saja > jadi pemimpin besar walau ayahnya manusia biadab. > Iman dan kepemimpinan tidak bisa diwariskan, karena meskipun anda mau > mewariskannya orang yang diwarisi belum tentu mau dan bisa. Dalam scope > keluarga besar seperti sebuah negara, jangan sampai orang keliru > menyimpulkan karena Hitler itu jahat maka pasti Orang jerman itu masyarakat > yang jelek. Karena Polpot itu jahat maka pasti Orang Kamboja itu masyarakat > yang jelek. Jangan pula fikir semua negara yang sekarang dianggap bagus itu > dulunya punya nenek-moyang dan sejarah hidup yang bagus. Australia dulunya > adalah tempat buangan narapidana Inggris. Tapi kini Australi menjadi negara > yang adil makmur gemah-ripah lohjinawi dengan leadership yang bagus dan > moralitas tinggi. Jadi jangan mencari justifikasi kebobrokan pemimpin karena > masyarakatnya jelek. Sebab kalau logika ini dimasyarakatkan maka para > pemimpin bangsa yang bobrok akan punya sandaran atas prilakunya sambil > berkata sinis :" Hai , emang Gue pemimpin slebor karena gue dilahirkan dari > masyarakat yang brengsek. Jadi elu masyarakat jangan protes" > Sh
