Oleh DAHONO FITRIANTO
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/27/kehidupan/3559625.htm
========================

Iklan adalah bahasa untuk menjual sesuatu. Apa sebenarnya yang ada di
benak para penjual saat menginginkan orang membeli barang buatannya?

Menurut Stefanus Indrayana, Direktur Pemasaran PT Samsung Electronics
Indonesia, kualitas produk yang bagus saja tak cukup untuk menarik
orang mau membeli produk itu. Maka sejak tahun 2005, Samsung terkenal
dengan kampanye iklan yang berjudul Imagine. Mulai dari kampanye iklan
di media cetak dan elektronik (biasa disebut kampanye above the line),
maupun kampanye nonmedia (below the line) di seluruh dunia harus
sejalan dengan konsep dasar Imagine.

Salah satunya yang bisa kita lihat setiap hari adalah sebuah replika
bingkai televisi LCD berukuran besar di dekat pintu masuk tempat
parkir Plaza Senayan, Jakarta. Di bagian bawah "televisi" itu tertera
tulisan besar "Imagine Reality" atau "bayangkan sebuah kenyataan".
Bayangkan, sebuah kenyataan disuruh untuk dibayangkan, diimajinasikan.

Pada bagian layar televisi di tengah bingkai itu dibiarkan bolong.
Sebagian orang yang lewat mengira itu reklame iklan yang sudah bobrok.
"Padahal memang sengaja dibiarkan bolong seperti itu, sehingga yang
terlihat di "layar" adalah pemandangan yang sesungguhnya, kenyataan.
Kami ingin bilang bahwa gambar-gambar di TV LCD Samsung senyata
reality, dunia nyata yang sesungguhnya," kata Indra.

Jadi, jangan protes kalau gambar di layar TV Anda jelek karena
jangan-jangan yang jelek itu kenyataan di luar sana, bukan TV-nya.

Imajinasi

Dengan kata Imagine itu juga hendak ditekankan kemajuan teknologi yang
telah dicapai produsen alat elektronik asal Korea ini. Maksudnya
kira-kira begini, saat orang lain baru berimajinasi tentang suatu
bentuk teknologi baru, Samsung sudah membuatnya dan tersedia di
toko-toko terdekat. "Saat orang membayangkan ada satu HP yang bisa
menampung kartu GSM dan CDMA aktif bersamaan, kami sudah punya. Saat
orang mengkhayalkan teknologi yang lebih canggih dari 3G, kami sudah
menjual HP 3,5G," imbuh Indra.

Pemosisian merek yang spesifik melalui konsep iklan yang terarah juga
dilakukan merek mobil mewah asal Jerman, BMW. Sudah sejak lama
produsen mobil ini memakai tagline atau semboyan "The Ultimate Driving
Machine". Artinya, mobil BMW baru terasa keunggulannya saat
dikemudikan, tidak hanya sekadar dinaiki sebagai penumpang.

Itu sebabnya pengalaman mengemudikan sebuah BMW menjadi penting
sebelum orang memutuskan membeli mobil mahal itu. Maka, BMW Indonesia
setiap tahun menggelar acara "BMW Driving Experience" yang terbuka
untuk umum. Setiap orang diberi kesempatan mencoba secara langsung
mengemudikan mobil-mobil terbaru.

Namun, tetap saja ada orang yang membeli BMW meski tidak untuk
dikemudikan sendiri. Orang-orang seperti itu merasa cukup puas duduk
di kursi belakang sebuah BMW, tanpa merasakan keunggulan sesungguhnya
mobil itu. Ah, yang penting kan mobilnya BMW....

"Yah, minat orang memang berbeda-beda. Ada orang yang membeli BMW
karena tertarik dengan keunggulan teknologinya, ada juga yang memilih
karena faktor kenyamanan, serta ada juga yang membeli karena faktor
brand, karena mereknya," ungkap Presiden Direktur BMW Indonesia Joerg
Kelling kepada Kompas di sela-sela acara "BMW Driving Experience" yang
sedang berlangsung Parkir Timur Senayan.

Justru ketertarikan terhadap merek itulah yang menjadi fokus pemasaran
BMW di Indonesia. Menurut Kelling, saat ini pihaknya sedang membangun
kepercayaan publik terhadap merek BMW. "Tujuan utama kami bukan
sekadar jualan mobil. Menjual mobil itu gampang. Kami bisa kasih
diskon besar-besaran dan pasti penjualan akan meningkat. Tetapi
setelah itu, citra kami akan rusak. Merek kami tak akan dipercaya
lagi," tandasnya.

Citra menjadi kata kunci dalam bahasa iklan. Dan, saat bicara citra,
maka kita tidak lagi bicara tentang bentuk fisik, realita kasar, atau
"kasunyatan". Citra ada di dalam angan-angan manusia, sebuah realita
bayangan yang hanya bisa disentuh dengan sarana imajinasi.

Citra

Maka, wajar saja saat acara promosi produk sabuk peramping tubuh uZap
di Senayan City, awal Mei lalu, tidak disertai penjelasan detail dan
ilmiah bagaimana sabuk yang dari luar hanya terlihat bergetar-getar
itu bisa menghancurkan lemak di pinggang, paha, dan bokong sehingga
tiga bagian tubuh itu bisa jadi langsing. Alih-alih, di panggung cukup
hadir sesosok "bidadari" yang ayu dan langsing, lengkap dengan sayap
besar berwarna hijau (warna merek atau brand color uZap) membentang di
punggungnya.

Artika Sari Devi, Putri Indonesia 2005, yang terpilih menjadi model
"bidadari" itu harus menanggung beban sayap buatan seberat lebih dari
8 kg itu setiap acara promosi langsung seperti itu digelar berkeliling
Indonesia.

Tak lupa di bagian belakang pentas tempat bidadari itu berdiri
terpampang mantra iklan "Slimmer Body, Angelic Beauty". Tubuh lebih
ramping, cantik seperti bidadari. "Angel mencitrakan keindahan. Cantik
dan indah seperti bidadari itu impian wanita di mana-mana. Cantik
seperti bidadari itu kesempurnaan yang didambakan wanita," tutur Tedy
Marco, Business Development Manager OSIM, produsen uZap.

Sedemikian pentingnya citra itu sehingga kadang produk yang dicitrakan
setinggi langit sebenarnya bukan target utama penjualan. Indra
mengatakan, di Samsung dikenal istilah hero products, yakni
produk-produk berkualitas top yang ditampilkan di iklan-iklan terbaru
mereka. "Yang dikomunikasikan ke masyarakat adalah hero products
dengan kualitas tertinggi itu. Padahal, barang yang kami pasarkan
sangat bervariasi. Istilahnya, we promote the best, and selling the
rest," ujarnya.

Jadi, yang diiklankan itu produk-produk paling tinggi, yang biasanya
harganya juga mahal dan sulit terjangkau orang kebanyakan. Harapannya,
citra yang melekat di produk-produk "pahlawan" itu menular ke
produk-produk dengan kasta lebih rendah, lebih murah, dan masuk
kategori "the rest" itu tadi.

Indra memberi contoh, salah satu hero product-nya adalah televisi
layar kristal alias LCD TV. Di bawah produk tersebut, Samsung juga
memproduksi TV yang disebut SlimFit dengan harga terjangkau. "TV
SlimFit ini tampilannya persis seperti LCD TV, tetapi sebenarnya
teknologinya masih TV tabung biasa. Penjualannya sangat sukses, bisa
tujuh kali lipat dari penjualan LCD TV yang kami iklankan," ungkap
Indra. (FRANS SARTONO/BRE REDANA) 

Kirim email ke