Terima kasih untuk tanggapan dari Rekan Retty,

Kartu Tarot hanyalah salah satu medium untuk berkomunikasi dengan alam
bawah sadar seseorang. Segala yang ditanyakan itu sebenarnya telah ada
jawabannya di dalam diri orang yang bertanya. Saya sebagai seorang
pembaca tarot sebenarnya hanyalah memberikan konfirmasi dari apa yang
telah diketahui oleh penanya di dalam alam bawah sadarnya.

Hakekat dari "ramalan" adalah proyeksi ke masa depan. Anda tahu
koordinat X dan Y bukan? Ada empat bidang di koordinat itu. Satu titik
di salah satu bidang bisa diproyeksikan ke bidang-bidang lainnya...
Proyeksi is the Key Word. Jadi, titik-titik yang akan diproyeksikan
itu adalah situasi-situasi saat ini, dan hasil proyeksi adalah
titik-titik di masa depan. Kalau jatuhnya di tempat yang diinginkan,
maka berarti bagus. Kalau jatuhnya di tempat salah, maka jelek. 

Tapi itu proyeksi kan? They are merely projections. 

Jadi, kalau ada "ramalan" yang hasilnya jelek, bukan berarti itu harus
jelek. Kita bisa juga bertanya tentang apa yang harus dilakukan agar
sesuatu yang diproyeksikan jelek itu tidak terjadi. Apa yang harus
dilakukan saat ini agar sesuatu yang diproyeksikan itu menjadi bagus.

So, jadi ada solusinya kan? Ada solusi yang diberikan oleh saya
sebagai pembaca tarot kepada penanya. Solusi itu sebenarnya juga
berasal dari alam bawah sadar penanya sendiri.

Dengan kata lain, ramalan bisa berubah. Hidup bisa berubah. Bisa
menjadi baik, bisa menjadi buruk. Segalanya bergantung pada apa yang
kita lakukan hari ini. Kalau ternyata apa yang saya atau Anda lakukan
akan berakhir pada kejelekan, berarti ada yang harus kita ubah di hari
ini. Saat ini. Agar yang baik yang terjadi, dan yang jelek dihindari.

Tentu saja ada penggunaan intuisi disini. Intuisi adalah knowledge
yang datang sendiri tanpa melalui panca indra. Ada kilatan-kilatan
intuisi yang datang begitu saja ke saya ketika saya membacakan tarot.
Dan memang, saya tidak berpikir ketika membaca tarot. Saya berbicara
apa adanya mengikuti kilatan-kilatan intuisi itu.

Tarot memang termasuk dalam ranah Psikologi, dalam hal ini Psikologi
Transpersonal. Bersama Audifax, saya menulis buku yang berjudul
"Psikologi Tarot" yang akan diterbitkan oleh Penerbit Jalasutra.
Disitu saya paparkan secara jelas teknik-teknik yang saya kembangkan
sendiri, dan gunakan untuk membantu entah berapa ribu orang selama
sekian tahun saya berkiprah di bidang ini.

All the Best,
Leo
HP: 0818-183-615

--- In [email protected], "Maria Margaretta
Vivijanti" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menarik juga bahwa wacana ini dilontarkan oleh seseorang yang juga
> bisa membaca tarot. Saya sendiri tidak ingin mencari pencerahan
> lewat kartu Tarot, tapi saya tertarik membaca artikel itu dan sempat
> menggaris bawahi dari artikel itu adanya keinginan untuk memasukkan
> Tarot menjadi bagian dari studi psikologi.
> 
> Pandangan yang berbeda sangat menarik untuk di ulas sebenarnya
> supaya ada sudut pandang berbeda yang bisa menyeimbangkan pandangan.
> Maklum banyak mahasiswa muda yang bisa jadi membaca artikel tersebut
> dan bisa menjadi fanatik terhadap tarot.
> 
> Pencerahan diri memang bagian dari perkembangan pribadi, soal ada
> yang mengalami pencerahan itu hak pribadi. Tugas media mencegah agar
> tidak terjadi pembentukan opini masyarakat hanya dari satu sisi.
> 
> Salam,
> Retty
> 
> --- In [email protected], leonardo rimba
> <leonardo_rimba@> wrote:
> >
> > Koran Kompas hari ini, Minggu, 27 Mei, 2007,
> > menurunkan tulisan berjudul "Menemukan Pencerahan di
> > Kartu". Di artikel yang a.l. ditulis oleh Maria
> > Hartiningsih itu diceritakan pengalaman seorang
> > pengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia,
> > Dr. Ruby yang, konon, menemukan pencerahan di
> > kartu-kartu tarot...

Kirim email ke