http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/titk_lemah_sby070528

Di Mana Titik Lemah SBY?
SBY Marah, SBY Dikritik

Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta

28-05-2007

Kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap kritik 
terselubung Amien Rais soal dana DKP dan dana asing bagi para Capres 
2004, berujung anti-klimaks. Setelah bertemu di bandara Halim 
Perdanakusumah, keduanya menyatakan berdamai. Walaupun Partai Amin, 
PAN, tidak dilibatkan dalam pertemuan perdamaian tersebut, PAN 
mengerti dan menambahkan itu pertemuan dua pemimpin bangsa.

Semula ledakan SBY memberi kesan ketegasan seorang presiden yang 
selama ini dianggap tidak tegas. Tapi, belakangan, unjuk gigi itu 
malah bermuara pada kritik dan penyesalan. Jadi, di mana sebenarnya 
titik lemah, atau 'Achilles heel'-nya Presiden SBY?

Semuanya membantah

Kasus DKP, yaitu penggunaan dana non-bujeter Departemen Kelautan dan 
Perikanan yang diungkap mantan menteri Rokhmin Dahuri, bisa berekor 
panjang. Capres-capres 2004 membantah pernah menerima dana DKP atau 
pun dana asing, kecuali Amien Rais. Maklum Amien menerima 200an juta 
rupiah dana DKP di tangan sendiri. Repotnya, tentang capres-capres 
yang lain, tidak jelas siapa yang menyerahkan dan menerima dana tsb.

Staf Megawati menyangkal, tapi bukan mustahil Mega Center pernah 
menerimanya. Staf SBY membantah, tapi Blora Center diam, sementara 
seorang anggota tim SBY-Kalla mengaku menerima dan menyerahkannya 
kepada sebuah pesantren.

Walhasil, Rokhmin Dahuri naik daun, sementara para politisi partai 
dan terutama petinggi negara, kelimpungan. Maklum, milyaran rupiah 
dana non-bujeter itu mengalir ke segala penjuru DPR dan partai. "Apa 
anehnya, semua menteri tahu kok. Itu sudah terjadi bertahun-tahun!" 
ujar Rokhmin, ketus. Maka Sinterklas Rokhmin menjadi korban 
pemberantasan korupsi "tebang pilih". Sri Bintang Pamungkas dari 
partai PUDI memuji Rokhmin dengan menyebutnya "Rokhmin Hood".

Tapi, kalau Robin Hood, preman Inggris itu, membagi-bagi hasil 
rampokannya kepada rakyat miskin, "Rokhmin Hood" mestinya menyadari 
bahwa ada undang-undang yang melarang pemakaian dana departemen untuk 
kampanye partai.

Maka, publik yang menikmati satire "Republik Mimpi" di teve setiap 
Jumat malam, sejak pekan lalu memahami bahwa kenyataan "Republik 
Munafik" kini sudah telanjang di hadapan mereka. 

Presiden Yudhoyono yang mengaku selama ini menahan diri, merasa perlu 
mengungkap kekesalannya terhadap (kami kutip) "Saudara Amien Rais" 
yang "telah mengolok-olok" dirinya. Pihak Istana telah resmi 
membantah pernah menerima dana DKP atau pun dana asing.

Pulang dari Jepang, Wapres Jusuf Kalla terjun sebagai pemadam 
kebakaran. "Sudahlaah, perselisihan itu tak usah diperpanjang," 
katanya di Denpasar, sambil menunjuk perlunya penyelesaian secara 
hukum. Sedangkan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid yang juga menyesalkan 
meruncingnya polemik, membuka kemungkinan solusi kekeluargaan.

Dekadensi

Bagi para analis di Jakarta, isu DKP dan dana asing itu sebenarnya 
cuma kelanjutan dekadensi dari the ruling class Orde Baru. Tradisi 
kelas penguasa "beambtenstaat" (negara pejabat) memperlakukan 
sumberdaya publik sebagai "appanage" atau kepemilikan pejabat, 
sebagaimana dilakukan aristokrasi Jawa di bawah perlindungan kolonial 
Belanda dulu.

Sekarang, di masa demokrasi, dekadensi dalam bentuk salah-urus duit 
negara itu meluas melalui lembaga perwakilan dan kepartaian. Fraksi-
fraksi DPR dan parpol, terutama partai-partai besar yang maju dengan 
Capres dan Cawapres, terserap ke dalam kepentingan the ruling class. 
Artinya, kabinet yang seharusnya presidensiil dimanfaatkan secara 
besar-besaran oleh parlemennya. Kasus guru besar dari Bogor Rokhmin 
Dahuri itu, hanyalah sebuah puncak gunung es saja dari korupsi yang 
merambah ke pelosok lembaga lembaga negara ini.

Justru karena itulah, isu ini tak perlu berakhir dengan batalnya 
hasil pemilu 2004 dan pemakzulan (impeachment) presiden, sekalipun 
menurut para pakar hukum, pidana ini menyangkut pelanggaran UU pemilu 
dan pencucian uang. Karena hampir seluruh jajaran elite politik 
terlibat, solusi hukum diduga harus berakhir dengan kompromi politik 
semua pihak, alias "solusi-semua-sama-sama-kalah".

Titik lemah SBY

Tapi publik kini mengharapkan pengusutan tuntas. Amarah SBY terhadap 
tokoh PAN, partai yang mendukung kabinet SBY, dan mantan bos 
Muhammadiyah, ormas yang pernah dekat dengan SBY, mirip upaya unjuk 
gigi yang mengesankan SBY siap membangun kredit politik menuju 
Pilpres 2009. Ternyata, semua itu malah memancing kritik.

Dua tokoh oposisi yang berbeda menunjuk pada dampak serupa. Indro 
Tjahjono, Wakil Ketua Hanura, partai barunya Jenderal pur. Wiranto, 
menilai SBY lemah terhadap Amien Rais. "Barisan SBY kedodoran karena 
SBY terpancing pusaran yang dibuat Amien. Kalau semua mau buka data, 
SBY bakal habis," katanya.

M. Fadjroel Rachman dari kelompok sosialis juga menyuarakan kritik 
arus utama yang menganggap ungkapan SBY itu "berlebihan". SBY, 
presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat seharusnya kuat, 
tapi dia terkait rezim Orde Baru. Kaitannya kepada kejahatan HAM dan 
kejahatan korupsi Soeharto, membuat kasus uang Tommy Soeharto sekitar 
60an juta dollar di luar negeri itu tidak mungkin disidangkan di 
bawah SBY.

"Itulah Achilles heel-nya SBY," simpul Fadjroel. Celakanya, tidak 
hanya para menteri, tapi partai partai besar pun memanfaatkannya. 
Itulah Achilles heel warisan Orde Baru.

ends


Kirim email ke