Penanganan lumpur Sidoarjo,"Relief Well" Masih Ditawarkan sebagai Solusi
Kompas/30-05-07




Jakarta, Kompas - Teknologi sumur penyelamat atau relief well masih 
ditawarkan sebagai solusi untuk mengatasi semburan lumpur panas 
Sidoarjo. Hingga setahun usia semburan, belum satu pun teknologi yang 
berhasil mengatasinya.

"

Teknologi relief well masih yang terbaik. Dulu berhenti dioperasikan 
karena persoalan dana, bukan karena gagal menyumbat sumber semburan," 
kata mantan Ketua Tim Investigasi Independen Luapan Lumpur Sidoarjo Rudi 
Rubiandini dalam dialog publik Peringatan Satu Tahun Semburan Lumpur 
Panas Sidoarjo yang diadakan Perhimpunan Peningkatan Keberdayaan 
Masyarakat (PPKM) dan Koalisi Masyarakat Peduli Korban Lapindo di 
Jakarta, Selasa (29/5).
Keseluruhan proses penghentian semburan melalui sumur penyelamat, lanjut 
Rudi, memerlukan biaya sekitar 50 juta dollar Amerika Serikat.

Tiga cara

Waktu hingga dua bulan dibutuhkan untuk menyiapkan alat dan proses 
pengeboran. Proses penyuntikan lumpur berat hanya 160 menit. Itu sudah 
diperhitungkan benar, dengan melibatkan ahli dari Amerika Serikat.

Bila itu gagal, cara lain adalah mengebor dua lubang sebagai "jalan 
keluar" lain lumpur yang secara perlahan akan mematikan semburan. Cara 
terakhir adalah meledakkan lapisan bawah tanah sumber semburan. "Bila 
ketiganya gagal, baru sampai di situlah kemampuan manusia," kata dia.

Mengenai pembiayaan, Rudi yang juga Kepala Laboratorium Teknik 
Pengeboran Institut Teknologi Bandung (ITB) mengusulkan skema tanggung 
bersama di antara pengelola industri minyak dan gas. "Jadi, beberapa 
industri migas iuran untuk itu. Ibaratnya, ada tetangga yang kebakaran 
rumah, lalu saling membantu," kata dia.

Nilai 50 juta dollar AS setara dengan 1 persen total belanja industri 
migas, yang mencapai 7 miliar dollar AS per tahun. Rudi menyayangkan 
selama ini hal itu tidak dibahas di antara pelaku industri migas.

Tuntut perhatian

Memasuki satu tahun bencana lumpur Sidoarjo, korban terus menuntut 
perhatian pemerintah dan Lapindo, di antaranya melalui unjuk rasa 
ratusan wakil korban di Tugu Proklamasi, Jakarta. Mereka menuntut janji 
uang muka 20 persen ganti rugi warga atas rumah dan tanahnya yang 
terendam lumpur. Hingga kini, dari ribuan korban baru puluhan di 
antaranya yang menerima ganti rugi.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Reform Institute Yudi Latif dalam 
dialog publik mengatakan, penanganan kasus lumpur panas Sidoarjo 
merupakan ujian bagi demokrasi. "Kalau hak-hak rakyat yang adalah ’ibu 
kandung’ demokrasi itu diabaikan, jelaslah bagaimana mentalitas dan 
komitmen moral pemimpin negara ini," kata dia.

Satu tahun ini, gejala itulah yang menonjol, hak-hak publik yang 
seharusnya dilindungi justru "digadaikan" kepada kuasa-kuasa privat. 
Tanah, yang secara teologis dan psikologis memiliki keterikatan dengan 
manusia, hanya dihitung sebagai statistik.

"Para pemimpin negara ini tidak berhak lagi bicara patriotisme karena 
sudah dikubur bersama lumpur panas Sidoarjo," kata dia. (GSA)




=====================================================
Pojok Milis Komunitas FPK:

1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke