Itu kalo honornya gede, Bu. Tapi kalo liat adat kebiasaan di negeri ini, honor 
suka disunat, bahkan honornya penggali kubur. Apalagi kalo yang mati pejabat 
korup. Waktu hidup tukang nyunat uang rakyat, mati pun masih tega-teganya bayar 
murah ke tukang gali kuburnya (malah kalo bisa ngemplang).
   
  Untuk antisipasi, ada baiknya para tukang gali kubur bikin trade union, 
supaya bargaining power-nya tinggi. Kalo honornya disunat, bisa mogok 
rame-rame, sehingga para koruptor itu mesti menggali kuburannya sendiri.
   
  manneke 

Yuliati Soebeno <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Huahaha...pak Manneke ini makin "tajam" saja plesetan nya. 
Ah...ya enggak kasihan dong, pak? Kan makin banyak orang kecil (tukang buat 
peti mati dan penggali kubur, pada lembur) mendapatkan upah, pak? Jadi bisa 
mengongkosi keluarga nya dan rakyat kecil yang akan bunuh diri semakin 
berkurang, ya kan?
Jadi menyenangkan banyak rakyat kecil dapat pekerjaan untuk mendapatkan hasil 
dan meyambung kehidupan. Dan ini namanya rejeki yang "halal", lho pak.
Masak....kok hanya para "pejabat terhormat" saja yang selalu dapat rejeki? Mana 
rejeki "haram" lagi??

Yuli

manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalo saja semua orang Indonesia yang korup punya kesadaran bunuh diri yang 
tinggi kaya pejabat Jepang ini, niscaya Indonesia tak akan mengalami kelebihan 
penduduk :)) Yang kasian tukang gali kubur dan tukang bikin peti mati. Lembur 
mulu kerjanya.

manneke



         

       
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke