Oleh Eddy Setiawan http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/31/opini/3563434.htm =========================
Buddha adalah kata yang mengandung makna tercerahkan, bukan monopoli seseorang, tetapi milik semua makhluk, menembus sekat suku, agama, ras, bahkan dimensi. Setiap makhluk memiliki benih kebuddhaan. Untuk menumbuhkannya diperlukan usaha mengikis tiga akar kejahatan, yaitu kebencian, keserakahan, dan kebodohan batin. Di lain pihak, manusia harus mengembangkan Jalan Utama berfaktor Delapan (pengertian, pikiran, ucapan, perbuatan, mata pencarian, usaha, perhatian, dan samadhi-benar). Buddhisme bersumber dari pencerahan Siddhartha Gautama setelah mencari "obat" mengatasi penderitaan semua makhluk. Upaya itu dimulai dengan meninggalkan istana, belajar kepada banyak guru, bertapa secara ekstrem, hingga samadhi tercerahkan di bawah pohon Bodhi. Pencerahan Pencerahan Sidharta adalah satu dari tiga peristiwa yang diperingati sebagai hari Waisak, dua lainnya adalah kelahiran di Lumbini dan Parinibana di Kusinara. Pencerahan pada dasarnya muncul setelah Sidharta mampu memandang hidup yang tidak memuaskan ini apa adanya. Ajaran murni inilah yang menjadi inti Buddhisme, diekspresikan pada Empat Kesunyataan Mulia. Dalam Buddhisme, pemahaman intelektual saja tidak cukup, harus dipraktikkan dalam hidup sehari-hari, menjadi utuh dalam diri. Mengetahui obat dapat menyembuhkan tidaklah menyembuhkan, tetapi dengan minum obat sehingga mengalir dalam darah dan memberi kesembuhan. Kata Buddha, hidup pada dasarnya tidak memuaskan. Karena itu, manusia berusaha mengalihkannya dengan musik, barang mewah, bahkan obat terlarang. Karena manusia tidak berani memandang hidup ini sewajarnya, mereka butuh pelarian, tetapi kekecewaan yang didapat. Kebahagiaan internal tak mungkin didapat dengan hal-hal eksternal. Dipuji-dicela, sedih-bahagia, untung-rugi, adalah kondisi alami. Sebagian besar manusia berusaha mengejar hal-hal positif, seperti dipuji, bahagia, untung, dan berusaha menghindari yang tidak menyenangkan. Tetapi Buddhisme mengajarkan menerima keduanya apa adanya. Umat Buddha diajarkan tidak terikat karena segalanya tidak kekal. Kesadaran Dalam Empat Kenyataan Mulia, yang diajarkan adalah kesadaran akan eksistensi penderitaan, menyadari yang sedang terjadi. Itu semua adalah pencerahan. Karena itu, para intelektual, filsuf, termasuk manusia tercerahkan meski belum holistik. Saat kita memiliki kesadaran bahwa penderitaan adalah sesuatu yang alami dan universal, maka menurut Buddha, kita telah melepaskan sejumlah kekhawatiran yang tidak perlu. Saat seorang pemuda-mahasiswa menyadari penderitaan yang dirasakan juga penderitaan seluruh rakyat, ia sadar hal itu akibat penindasan struktur, sadar bahwa kemiskinan lahir dari berbagai kebijakan penguasa yang menghamba pada modal asing, maka ia telah mengambil langkah penting menuju pembebasan, bagi diri maupun masyarakat. Dalam Pedang Pusaka Kebijaksanaan, Acarya Sheng Yen menyatakan pencerahan adalah pengalaman spiritual yang dalam seketika menyadarkan dan menyempurnakan hidup seseorang yang mengalaminya. Mereka yang mengalami pencerahan menyadari hakikat dirinya serta dunia yang kosong dan sementara. Di sini dapat dianalisis, dunia sudah krisis orang-orang tercerahkan, sebagian besar manusia tersesat, alih-alih mencari pencerahan dengan meninggalkan segala kenikmatan duniawi, manusia justru mengakumulasi kenikmatan duniawi. Tidak puas dengan penghasilannya, orang berkorupsi, bergabung dengan organisasi untuk keuntungan diri. Pengusaha pun tak mau keuntungannya terkurangi untuk kesejahteraan buruh, bahkan penegak keadilan pun masih menghamba sehingga mudah disogok. Pencerahan Sidharta memberi teladan, kebahagiaan tak bersumber dari harta, kekuasaan, dan hal-hal fisik lainnya, tetapi dari keikhlasan melepas. Dengan mengikis kemelekatan terhadap harta, konsepsi, hubungan dan lainnya seseorang akan menjalankan hidup penuh damai, memberi kebahagiaan kepada orang lain, bahkan semua makhluk. Selamat Hari Suci Waisak 2551. Eddy Setiawan Ketua Umum Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI)
