Oleh IOANES RAKHMAT
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/31/Bentara/3557107.htm
====================
Tulisan Ioanes Rakhmat di lembaran Bentara Kompas, 5 April 2007,
Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus, telah menyulut pelbagai
kontroversi dan reaksi meluas. Tanggapan terbuka terhadap tulisan itu
telah dimuat di lembaran Bentara pada 5 Mei 2007, Historisasi Makam
Kosong Yesus oleh Deshi Ramadhani, seorang dosen tafsir Perjanjian
Lama dari STF Driyarkara, Jakarta. Berikut ini adalah tanggapan
terhadap tulisan Deshi Ramadhani oleh Ioanes Rakhmat.
Jika ilmu sejarah dipahami dalam pengertian modern, berarti penulisan
sejarah adalah penulisan tentang sebuah peristiwa di masa lampau yang
asal-usul kejadiannya harus dicari hanya pada penyebab-penyebab
empiris natural, sosiologis, dan kultural. Penulisan sejarah bukanlah
penulisan sebuah teologi. Di dalam teologi (khususnya di dalam
agama-agama monoteistik), penyebab-penyebab sebuah kejadian dalam
dunia dijelaskan tidak terlepas dari keterlibatan Allah di dalamnya,
keterlibatan faktor nonempiris supernatural, nonsosiologis, dan
nonkultural. Adalah asumsi dasariah dalam teologi bahwa Allah
bertindak di dalam kehidupan dunia manusia; teologi hanya bisa
dijalankan jika asumsi ini diterima. Sedangkan asumsi dasariah dalam
penulisan sejarah adalah segala sesuatu dapat terjadi dalam dunia ini
hanya karena sebab-sebab empiris natural, sosiologis, dan kultural.
Jikalau seorang sejarawan menulis sebuah uraian sejarah dengan ke
dalamnya ia melibatkan intervensi Allah ke dalam dunia kodrati, maka
ia berhenti menjadi seorang sejarawan, berubah menjadi seorang teolog,
dan karya tulisnya berubah menjadi sebuah teologi. Beberapa ilustrasi
dapat diajukan.
Ketika seorang pakar sejarah Indonesia sedang menulis, misalnya,
tentang Perang Diponegoro, dan di dalam tulisannya itu ia menyatakan
bahwa Pangeran Diponegoro mendapatkan keberanian dan mampu
mengembangkan taktik dan strategi tempur melawan kolonial Belanda
karena Allah dan bala tentara surgawi membantu Sang Pangeran secara
langsung, maka sang ahli sejarah ini bukan sedang menulis sejarah,
melainkan sedang menulis sebuah teologi atau sebuah epos religius.
Tentu saja dalam perjuangannya Pangeran Diponegoro bisa saja
dipengaruhi sangat kuat oleh imannya kepada Allah, dan karenanya bisa
saja ia dapat mendaku bahwa Allah telah membantunya dalam perang
melawan Belanda. Namun, ketika seorang sejarawan modern menulis
tentang Perang Diponegoro, maka ia akan menyatakan bukan bahwa Allah
dengan kuasa-Nya telah membantu dan menopang Pangeran Diponegoro,
melainkan bahwa Sang Pangeran sangat dipengaruhi oleh ideologi
keagamaannya. Seorang sejarawan tidak berurusan dengan Allah yang
dipercaya Pangeran Diponegoro, tetapi dengan ideologi religius Sang
Pangeran sebagai sebuah variabel sosiokultural historis yang ikut
berperan dalam kiprah-kiprah kejuangannya.
Kitab Kisah Para Rasul adalah sebuah dokumen dalam Perjanjian Baru
yang mengisahkan kelahiran dan pertumbuhan gereja-gereja Kristen
perdana berkat kerja keras para rasul, terutama Rasul Paulus, berawal
di Palestina lalu meluas ke kawasan dunia Laut Tengah kuno di luar
Palestina, sampai ke Kota Roma. Dilihat dari perspektif modern tentang
penulisan sejarah, apa yang dituturkan penulis kitab Kisah Para Rasul
ini bukanlah sebuah tulisan sejarah, tetapi sebuah teologi karena di
dalamnya dilaporkan bahwa kelahiran dan perluasan gereja Kristen oleh
para rasul itu terjadi karena Roh Kudus atau Roh Yesus Kristus
menyertai mereka dan melalui mereka mengadakan banyak mukjizat.
"Mirakulisasi" atau pengajuan klaim bahwa suatu kejadian adalah
mukjizat (Latin: miraculum) ilahi diperlukan hanya dalam teologi,
bukan dalam penulisan sejarah. Tentu ada beberapa catatan sejarah
faktual di dalam dokumen yang dinamakan Kisah Para Rasul ini, tetapi
secara keseluruhan dokumen ini bukanlah dokumen sejarah dalam
pengertian modern.
Ketika seorang dokter Kristen sedang menangani seorang pasien yang
sedang sakit berat dan ia diharapkan dapat menyembuhkan sang pasien,
ia tidak bisa berdiam diri secara pasif saja dengan menyerahkan sang
pasien kepada Yesus untuk secara ajaib menyembuhkannya. Jika ia
melakukan hal ini, ia bisa dituntut dan diajukan ke pengadilan dengan
suatu tuduhan bahwa ia telah tidak menjalankan tugas profesionalnya
sebagai seorang dokter yang wajib (karena ia berada di bawah sumpah!)
melakukan serangkaian prosedur medik ilmiah untuk mengobati sang
pasien. Seorang dokter bisa percaya bahwa mukjizat bisa terjadi dalam
dunia ini; tetapi ketika dia menjalankan profesinya sebagai seorang
dokter, ia wajib mewujudkan kesembuhan untuk pasiennya dengan memakai
segenap kemampuan profesionalnya dan mengikuti semua prosedur keilmuan
yang dikuasainya. Sebagai seorang dokter, ia tidak boleh menyerah pada
keganasan penyakit yang sedang diderita pasiennya, tetapi harus tetap
tekun dan taat asas melaksanakan tugas-tugas profesionalnya sebagai
seorang dokter.
Begitulah, seorang sejarawan yang melakukan kajian sejarah terhadap
figur Yesus, ia harus tetap konsisten berjalan pada jalur ilmiah dari
ilmu sejarah, ilmu yang memperhitungkan hanya faktor-faktor empiris
natural, sosiologis, dan kultural. Taat asas dalam prosedur keilmuan
bidangnya adalah suatu syarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang
yang mendaku diri ilmuwan. Pencampuradukan profesi sebagai seorang
sejarawan dengan profesi sebagai seorang teolog akan menimbulkan
ketidakdisiplinan ilmiah, perancuan kategoris, dan penyesatan
informasi. Meskipun jelas tidak ada uraian sejarah yang obyektif
sepenuhnya, dan selalu akan ada faktor subyektif dari si sejarawan
yang ikut berperan, si sejarawan harus pasti dalam satu hal, yakni
bahwa ia akan memperhitungkan hanya faktor-faktor empiris natural,
sosiologis, dan kultural dalam menyusun suatu historiografi.
Kisah-kisah tentang mukjizat
Yang ditemukan dalam Alkitab bukanlah mukjizat-mukjizat, tetapi
kisah-kisah tentang mukjizat. Pembaca masa kini bukanlah penyaksi
mukjizat-mukjizat yang dikisahkan di dalamnya, tetapi hanya sebagai
para pembaca kisah-kisah itu. Kisah-kisah tentang mukjizat harus
diterima apa adanya, yakni sebagai kisah-kisah. Memperlakukan
kisah-kisah tentang mukjizat sebagai sama dengan fakta-fakta mukjizat
empiris obyektif adalah suatu lompatan yang terlampau jauh, melampaui
keterbatasan kisah-kisah yang ditulis sebagai karya-karya sastra. Lagi
pula, dalam Perjanjian Baru, kisah-kisah tentang mukjizat Yesus
ditulis bukan oleh para saksi mata. Selalu akan ada kesenjangan antara
apa yang dikisahkan dan apa yang faktual telah terjadi.
Sebagai kisah-kisah, kisah-kisah tentang mukjizat dapat dianalisis
secara rasional ilmiah dengan mengajukan antara lain pertanyaan
berikut: dalam konteks sosial-kultural historis dan religius apa kisah
itu ditulis; faktor apa yang berperan di dalam penulisan kisah itu;
untuk kisah tentang mukjizat dalam Perjanjian Baru, adakah kisah
paralel yang dapat ditemukan dalam dunia Greko-Romawi; apa tujuan
penulisan kisah tentang mukjizat dalam konteks luas dunia
Greko-Romawi; ditempatkan dalam konteks zamannya dan dalam konteks
temuan arkeologis mutakhir dan kajian antropologis lintas-budaya,
apakah ada hal yang dikisahkan yang tidak mungkin terjadi dalam
sejarah; termasuk ke dalam jenis sastra (literary genre) apakah kisah
tentang mukjizat itu; dalam konteks seluruh dokumen sastra yang memuat
kisah mukjizat itu, apa fungsi sastrawi dari kisah tentang mukjizat
itu, dan mengapa kisah ini muncul dalam suatu konteks sastra tertentu
dan bukan dalam konteks sastra lainnya.
Mengajukan serangkaian pertanyaan rasional semacam di atas bukanlah
melakukan demirakulisasi ('penghilangan mukjizat') atas kisah-kisah
tentang mukjizat, tetapi suatu keharusan prosedural metodologis untuk
merekonstruksi sejarah kehidupan dari orang-orang atau
komunitas-komunitas yang membuat kisah tentang mukjizat tersebut.
Ambil sebuah contoh, yakni kisah tentang Yesus memberi makan 5.000
orang (laki-laki) dengan lima roti dan dua ekor ikan (Matius 14:13-21
dan paralelnya). Di sini kita berhadapan dengan kisah Injil tentang
mukjizat Yesus, bukan dengan mukjizat Yesus itu sendiri. Hanya dalam
Injil Yohanes dikatakan bahwa Yesus sendiri langsung membagi-bagikan
makanan itu kepada lima ribu orang itu (Yohanes 6:11); sedangkan dalam
Injil-injil lainnya para murid Yesus-lah yang membagi-bagikan makanan
yang sebelumnya mereka telah terima dari Yesus. Bukan tempatnya di
sini mengajukan semua pertanyaan di atas kepada kisah ini.
Terhimpunnya dalam satu hari laki-laki sampai lima ribu orang (belum
termasuk perempuan dan anak-anak) bukanlah kejadian mudah; ini adalah
sebuah tindakan yang tidak mungkin dilakukan Yesus dengan aman-aman
saja mengingat baik Herodes Antipas (penguasa Galilea dan Perea)
maupun Roma akan segera bereaksi secara represif militeristik terhadap
setiap usaha menghimpun massa dalam jumlah besar, seperti telah
terjadi pada Yohanes Pembaptis (yang dibunuh Herodes Antipas) dan pada
kegiatan sejenis lainnya seperti telah dilaporkan antara lain oleh
sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus. Jadi, dilihat dari konteks
sosio-politis zaman Yesus, sangat mustahil kalau Yesus bisa menghimpun
5.000 laki-laki dengan diri-Nya tetap aman-aman saja.
Ada tiga golongan penafsir atas kisah tentang mukjizat pemberian makan
5.000 orang ini. Yang pertama adalah kalangan supernaturalis, yang
menyatakan bahwa Yesus betul-betul faktual pernah melakukan mukjizat
memberi makan 5.000 orang dengan lima roti dan dua ikan, dengan sisa
dua belas bakul (dari mana bakul-bakul ini berasal?). Masalah dari
tafsiran kalangan supernaturalis ini adalah kesulitan orang baik untuk
membayangkan terhimpunnya bergunduk-gunduk roti dan ikan mendadak
sehabis makanan ini didoakan Yesus maupun untuk membayangkan bahwa di
tangan para murid yang membagi-bagikan makanan itu akan langsung
muncul roti-roti dan ikan-ikan baru tidak habis-habisnya sampai semua
orang yang duduk berhimpun mendapatkan makanan.
Penafsir kedua adalah dari golongan rasionalis. Mereka menyatakan
bahwa prakarsa Yesus dan para murid membagikan makanan itu kepada
beberapa orang yang sedang duduk di barisan terdepan telah mendorong
orang-orang lain di dalam perhimpunan besar itu untuk juga
membagi-bagikan makanan yang mereka telah bawa dari rumah
masing-masing kepada orang-orang lainnya sehingga akhirnya semua orang
mendapatkan roti dan ikan yang cukup, tanpa perlu mukjizat terjadi.
Kesulitan dari tafsiran rasionalis ini adalah teks Injil-injil
jelas-jelas tidak berbicara tentang sharing of bread dan sharing of
fish semacam itu. Sebaliknya, dalam Injil-injil dikatakan bahwa
orang-orang yang berhimpun di situ sama sekali tidak membawa makanan
apa pun, kecuali hanya lima roti dan dua ekor ikan (yang ada pada
seorang anak).
Tafsiran ketiga yang paling mungkin diterapkan adalah dengan
memperlakukan kisah ini sebagai sebuah kisah teologis, bukan kisah
sejarah. Tafsiran teologis sesuai dengan hakikat Kitab Suci sebagai
kitab keagamaan, kitab teologis. Bagi teologi penulis Injil Matius,
Yesus adalah "Musa yang baru", yang membawa hukum yang baru, dan yang
mengulangi kembali bahkan melampaui kisah-kisah besar yang pernah
dikisahkan tentang Nabi Musa. Kalau dulu untuk memelihara umat Israel
yang sedang berada dalam perjalanan di padang gurun di bawah pimpinan
Musa (dan Harun) Allah telah memberi mereka makan "daging" dan "roti"
(yang disebut manna) (lihat Keluaran 16), maka kini, untuk umat Allah
yang baru, yaitu Israel baru, Yesus sebagai Musa yang baru atau bahkan
lebih besar dari Musa juga telah memberi himpunan besar para
pengikut-Nya roti dan daging ikan sampai mereka kenyang, langsung dari
tangan-Nya sendiri. Di tangan penulis Injil Matius, Musa adalah
tipologi dari Yesus yang muncul kemudian dalam sejarah Israel.
Nah, memperlakukan kisah tentang mukjizat Yesus memberi makan 5.000
orang ini sebagai kisah teologis, bukan kisah sejarah, bukanlah
melakukan demirakulisasi, tetapi diharuskan oleh sifat-sifat kisah
tentang mukjizat ini sendiri.
Makam keluarga Yesus dan kajian sejarah
Ada pada kita bukti material obyektif arkeologis berupa sebuah makam
keluarga di Talpiot yang berisi osuarium yang bertuliskan nama "Yesus
anak Yusuf" dan osuarium lain yang bertuliskan lima nama lain yang
berhubungan erat dengan Yesus sebagai satu keluarga, yang hampir
semuanya adalah nama-nama yang ditemukan di dalam Perjanjian Baru. Dan
ada juga pada kita sebuah osuarium lain yang sudah dipastikan berasal
dari makam yang sama, yakni osuarium yang berinskripsi "Yakobus anak
Yusuf, saudara dari Yesus". Ini adalah fakta obyektif material
arkeologis, bukan rekayasa Yahudi untuk (seperti dituduhkan banyak
orang Kristen belakangan ini) menjatuhkan agama Kristen. Juga ada data
ilmiah dari ilmu statistik modern bahwa temuan arkeologis makam
keluarga di Talpiot ini sangat unik, dengan peluang (menurut
Feuerverger yang hanya memperhitungkan empat nama saja) hanya satu
kali dari antara 600 kasus (1:600). Belakangan, John Koopmans juga
melakukan perhitungan statistik serupa, tetapi kali ini dengan
memperhitungkan tujuh nama yang ada, termasuk nama "Yakobus anak
Yusuf, saudara dari Yesus", dan dengan melipatgandakan penduduk kota
Jerusalem sampai 30 kali dari angka rata-rata yang sebenarnya. Menurut
Koopmans, peluangnya adalah 1:42.723.672. Artinya, hanya akan ada satu
makam keluarga seperti makam Talpiot dari 42.723.672 keluarga di
Jerusalem pra-tahun 70. Angka-angka statistik ini telak menunjukkan
tidak akan ada lagi kasus semacam makam Talpiot.
Yang baru dicatat di atas adalah fakta-fakta, bukan kesimpulan
sejarah. Kesimpulan sejarah hanya akan bisa dihasilkan, apakah makam
Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth (Yesus yang
dipercaya orang Kristen sebagai Tuhan dan Kristus), apabila dilakukan
kajian-kajian prosopografis lebih lanjut untuk menemukan "fit" atau
"kecocokan" antara data material arkeologis dan data dari teks-teks
kuno, termasuk teks-teks Perjanjian Baru. Usaha membuktikan makam
Talpiot adalah makam keluarga Yesus dari Nazareth sama sekali bukanlah
usaha demirakulisasi, melainkan usaha bidang kajian prosopografis
untuk menemukan kecocokan sejarah antara bukti material arkeologis dan
keterangan-keterangan di dalam teks-teks kuno. Biarkanlah mereka yang
sedang melakukan pengkajian prosopografis ini bekerja dengan taat asas
di alur disiplin ilmu kajian arkeologis dan ilmu sejarah; jangan
mereka dikecam atas nama teologi Kristen apa pun.
IOANES RAKHMAT Mendalami Studi tentang Yesus, Tinggal di Jakarta