http://www.kompas.co.id/ver1/Nasional/0705/31/103047.htm
======================
CANBERRA, KAMIS - Kepala Pemerintah Negara Bagian New South Wales
(NSW), Morris Iemma, menolak meminta maaf kepada Sutiyoso sehubungan
dengan kasus masuknya dua anggota polisi NSW ke kamar hotel Gubernur
DKI Jakarta itu saat berkunjung ke Australia 29 Mei lalu.
Kepastian tentang sikap Premier NSW Morris Iemma itu disampaikan
stasiun televisi Channel 7 Australia dalam "breaking news"-nya Kamis
pagi (31/5). Channel 7 menyebutkan Premier Iemma menolak meminta maaf
atas insiden yang dianggap Gubernur Sutiyoso sebagai pelecehan
terhadap dirinya selaku tamu pemerintah NSW. Alasannya, Iemma
menganggap kedua polisi itu hanya ingin menyerahkan surat pemanggilan
pengadilan "Coroner Inquest Balibo Five 1975" kepada Sutiyoso.
Sebelumnya, dalam wawancara khusus Channel 7 dengan seorang
koresponden senior politik media tersebut, diungkapkan bahwa adanya
ungkapan permintaan maaf dari Premier Morris Iemma akan meredakan
dampak politis yang ditimbulkan oleh insiden Sydney itu. Disebutkan
bahwa pemerintah federal tidak akan meminta maaf atas insiden ini
karena yang paling tepat menyampaikan permintaan maaf adalah Premier
Morris Iemma.
Pemerintah Australia juga menepis tuntutan berbagai kalangan di
Indonesia agar ada permintaan maaf atas perlakuan tidak pantas
terhadap Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso ketika berada di Sydney sebagai
tamu Pemerintah NSW karena Departemen Luar Negeri dan Perdagangan
(DFAT) di Canberra menganggap kasus itu sebagai masalah (pengadilan)
koroner dan polisi NSW.
"Ini adalah masalah pihak Koroner dan Polisi New South Wales,
sedangkan Pemerintah Australia tidak mengontrol proses koronial (kasus
Balibo Five 1975-red.) itu," kata seorang jurubicara DFAT dalam
pernyataannya sebelumnya. Jurubicara DFAT yang tidak hendak disebutkan
namanya itu mengatakan, pihaknya telah dihubungi KBRI Canberra yang
menyampaikan keprihatinan atas kejadian 29 Mei 2007 itu. "Kami
jelaskan perihal independensi pengadilan koroner dan memperhatikan
pernyataan deputi koroner...," katanya.
Terkait dengan masalah penyampaian surat pemanggilan terhadap Gubernur
Sutiyoso untuk memberikan kesaksian di pengadilan koroner kasus
tewasnya lima wartawan Australia di Balibo, Timor Timur, tahun 1975
yang kemudian dikenal dengan istilah "Balibo Five", Deputi Koroner NSW
Dorelle Pinch mengaku bahwa dia memang memanfaatkan kedatangan
Sutiyoso ke Sydney itu.
Suratkabar "The Australian" menyebutkan, Dorelle Pinch mengirim dua
polisi itu untuk menyampaikan surat pemanggilan kepada Gubernur DKI
Jakarta Sutiyoso setelah tahu Sutiyoso sedang berkunjung ke Sydney
atas undangan Premier Morris Iemma. Hal itu dilakukan karena "sangat
kecilnya peluang buat saya untuk memastikan kehadirannya (Sutiyoso)",
kata Pinch seperti dikutip The Australian.
Sementara itu, Jurubicara KBRI Canberra, Dino Kusnadi, mengatakan,
pihaknya hingga Kamis Pukul 10.30 waktu Canberra belum menerima
tanggapan resmi dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT)
atas surat KBRI yang dikirim Rabu.
Mengenai pernyataan Mark Tedeschi QC, konsel (penasehat) yang membantu
pengadilan koroner Sydney dalam kasus "Balibo Five" bahwa ada bukti
yang tak terbantahkan tentang keterlibatan TNI dalam terbunuhnya lima
wartawan Australia itu, Dino mengatakan, ia tidak mau mengomentari hal
itu karena masalah Balibo Five sudah dianggap selesai oleh Pemerintah
Indonesia. "Masalah Balibo itu sudah final, dan itu adalah keputusan
dari Pemerintah Indonesia, bukan KBRI Canberra." katanya.
Dalam pernyataannya hari Rabu (30/5), Tedeschi mengatakan,
"setidaknya tiga orang wartawan tewas ditembak setelah ada perintah
Kapten Yunus Yosfiah dan yang kelima ditikam (serdadu) Christoforus Da
Silva".
Insiden Sydney yang memicu berbagai tanggapan di Jakarta dan Canberra
itu bermula dari datangnya dua polisi NSW ke kamar hotel Gubernur
Sutiyoso untuk menyampaikan surat panggilan menghadiri pemeriksaan
jaksa "Coroner Inquest" kasus "Balibo Five" 1975. Mereka masuk ke
kamar Sutiyoso dengan menggunakan kunci master kamar hotel.
Juru Bicara KBRI Canberra Dino Kusnadi mengatakan, akibat insiden yang
terjadi di kamar Hotel Shangri-La Sydney No 3107 tempatnya menginap
itu, Gubernur Sutiyoso dan rombongan pejabat Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta yang mengunjungi Sydney sebagai tamu Pemerintah NSW itu
mempercepat kunjungannya.
Sutiyoso adalah lulusan Akademi Militer Nasional 1968 dan pernah
dilibatkan dalam operasi Flamboyan dan Seroja di Timor Timur pada
1975. Namun, Sutiyoso sendiri menjelaskan bahwa dia dan para
anggotanya tidak pernah memasuki Balibo ketika itu.
Sumber: Antara
Penulis: wsn
Copyright 2006 Kompas Group