Permintaan saya hanya satu kepada para marinir yang masih punya rasa hormat
kepada sesama. Hargailah sesama rakyat karena mereka juga punya hak untuk
bicara dan didengar, jangan asal main dor...dor....dor...dor...dor (wafat lima
dan beberapa luka2) dan ini katanya tertembak dan bukan ditembak. Memangnya
kita2 yang baca dan mengikuti berita2 ini bisa dibodohin. Zaman ngebodohin
sudah kadaluwarsa pak Jenderal, bersikaplah kesatria sesuai sumpah kalian2
sewaktu diberi seragam yang notabene juga uang rakyat.
Sing bodo iki sopo Pak Jen. Berhentilah membohongi masyarakat. Bela dan
amankan tanah air dan jangan menjajah bangsa sendiri.
Salam
BS
hartoyo toyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dari berita kompas tanggal 31 Mei 07 yang isinya bahwa delapan orang
luka dan empat orang tewas setelah TERTEMBAK prajurit Marinir TNI AL pada hari
rabu (30 Mei 07) karena dipicu oleh sengketa tanah.
menurut saya apa yang dilakukan Marinir bukan TERTEMBAK, tetapi DITEMBAK. Jadi
warga DITEMBAK Bukan Tertembak oleh Marinir. Ini yang saya pikir mesti di
perjelas, masak tertembak kok sampai lima orang tewas dan delapan orang luka -
luka. Ini kan ada faktor sengaja memang diarahkan oleh prajurit Marinir ke
warga. Lagian ibu - ibu dan anak - anak juga menjadi korban.
Selain itu pernyataan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyatakan :
1. Merasa yakin ada yang menyebabkan terjadinya bentrokan tersebut, pernyataan
seperti selalu diutarakan oleh para penguasa dan akhirnya akan mengkambing
hitamkan pihak lain seakan ada yang menyebabkan kelompok lain sebagai
provokator dalam peristiwa itu terjadi. Capek deh... alasan ini...
Selain itu pihak Marinir menyatakan bahwa akan menanggung biaya pengobatan
korban dan pemakaman korban yang meninggal.
Sepertinya minta maaf dan menanggung biaya pengobatan dan pemakaman korban itu
sangat tidak cukup??
karena kejadian itu tidak akan terjadi jika Marinir tidak arogansi dan benci
terhadap warga.
Jadi bagi saya sangat tidak cukup pengobatan dan pemakaman saja tetapi
bertanggung jawab dan diadili seberat2nya dari mulai pelaku langsung maupun
para panglima TNI.
kalau memang tidak bisa menangani anak buahnya lebih baik mundur saja Panglima
TNI. Soalnya kejadian ini bukan yang pertama terjadi di Indonesia dan saya
yakin akan terjadi terus dan terus.
Dan semua itu negara yang melakukan kekerasan dan pelanggaran ham terhadap
warga negara.
kasus ini nasibnya mungkin akan sama dengan kasus - kasus yang terdulu seperti
peristiwa trisakti, pembunuhan munir, 27 Juli yang gak jelas sampai dimana
kasusnya. kalaupun ditindak hanya para anak buah saja.
Dimana letak kemanusiaan para anggota Marinir, saya pikir sangat biadab sekali.
Lahan yang sudah ditanami oleh rakyat dengan ketela pohon kemudian di traktor
dan akan digantikan oleh tebu.
sementara rakyat terus kelaparan dan tidak mempunyai lahan sama sekali,
sementara negara (marinir) mempunyai lahan 539 hektar.
saya yakin sekali rakyat miskin Pasuruan banyak yang tidak mempunyai lahan
sehingga menggarap tanah tersebut.Padahal tanah tersbut adalah tanah dan bumi
merak sejak jaman dahulu.
Dimana letak keadilannya, mana bukti pemerintah bertanggung jawab kepada
rakyatnya.Mana bukti bahwa TNI sebagai pelindung bagi rakyatnya dari rasa takut
dan mendapatkan rasa aman.
Jadi apapun alasannya Tindakan Marinir sangat tidak bisa dibenarkan dan ini
pelanggaran HAM berat. Rakyat Miskin dan Negara mempunyai kekuatan yang tidak
seimbang.
Rakyat miskin sangat tidak mempunyai kekuasaan dan kekuatan tetapi negara
(dalam hal ini Marinir) sangat power full.
La wong senjata nya dibeli rakyat tetapi malah untuk nembak rakyat...Gila dan
benar - benar Gila
Inalillahi wainalilah rojiun ................atas kebiadaban negara kepada
rakyatnya....
Jangan katakan lagi ini oknum Marinir pelakunya ( yang selalu dikatakan oleh
para penguasan apabila melakukan kekarasan kepada rakyatnya).
Ini sudah korps yang melakukan karena tindakan ini selalu dilakukan oleh para
anggota TNI, baik marinir, TNI AD dan juga pihak kepolisian yang sama saja
dengan tindakan para TNI.
Turut berduka cita atas bagi semua korban, dan mari lakukan perlawanan bagi
para pelaku pelanggaran HAM.
wasalam
Toyo