Oleh Aloys Budi Purnomo
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/02/opini/3568914.htm
====================

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Amien Rais mengakhiri "sengketa"
politik mereka terkait dengan kasus dana DKP dengan "duduk bersama"
dan "saling memaafkan".

Dalam perspektif demokratisasi, peristiwa ini bermakna positif. Duduk
bersama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Amien Rais menjadi contoh
konkret menjadikan Pancasila sebagai nurani hidup bangsa. Disadari
atau tidak, tampak penghayatan sila ketiga dan keempat Pancasila.

Duduk bersama adalah ungkapan sederhana awal persatuan. Apalagi yang
duduk bersama adalah dua figur publik, Presiden dan mantan Ketua MPR.
Secara simbolik ini mengungkapkan persatuan demi keutuhan bangsa.
Saling memaafkan buah duduk bersama adalah manifestasi musyawarah atas
dasar hikmat kebijaksanaan yang menghasilkan mufakat.

Dalam perspektif iman, sikap mau duduk bersama dan saling memaafkan
juga merupakan manifestasi penghayatan sila pertama. Tinggallah
memimpikan, semoga sila kedua dan kelima menjadi buah duduk bersama
itu. Kita berharap, dengan duduk bersama SBY dan Amien Rais,
kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia pun ditegakkan!

Martabat nurani

Tanggal 20 Mei lalu saya diundang Hanif (Hati Nurani Interfaith Forum)
Semarang untuk dialog interaktif. Saya bicara tentang membangun
masyarakat Indonesia dengan nurani yang berlandaskan Pancasila.

Diskusi berkembang ke arah pentingnya menjadikan Pancasila sebagai
nurani hidup berbangsa. Rupanya, paparan tentang martabat nurani yang
saya sampaikan menarik perhatian.

Dalam bahasa sehari-hari, nurani disebut suara hati. Suara hati
menggema di kedalaman batin manusia dan mengusik kehendak manusia
untuk mencintai dan melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat.

Nurani yang jernih, bersih, bening, dan hening selalu menggemakan
semacam bisikan kepada manusia yang bersangkutan: Lakukanlah ini
(baik); Hindari itu (jahat)!

Martabat nurani adalah mematuhi hukum. Nurani ialah inti manusia yang
paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama
Allah, yang sapaan- Nya menggema dalam hatinya. Berkat nurani
dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih
terhadap Allah dan terhadap sesama (Gaudium et Spes, 16).

Nurani yang suci selalu mencari kebenaran, atas dasar kebenaran
memberi solusi bijaksana untuk memecahkan berbagai problem
moral-sosial. Ia menjadi tolok ukur paling mendasar tindakan manusia.

Kian nurani berkembang positif, kian positif tindakan dan keputusan
yang diambil, jauh dari kehendak ngawur, membabi buta, dan egoistik.
Kian dikendalikan nurani, kian patuh manusia pada norma-norma moral
obyektif.

Ketika nurani melemah, lemah pula kehendak untuk melakukan yang baik.
Akibatnya, kian kuat kehendak untuk berbuat jahat.

Bangsa beradab

Keretakan hidup bersama, mudahnya terjadi konflik horizontal,
merajalelanya hasrat untuk berkorupsi di kalangan penguasa dan elite
politik, merupakan indikasi lemahnya nurani.

Berbagai kecenderungan berlaku jahat (membuat retak, konflik
berdarah-darah, tindakan anarkis, korupsi) merupakan indikasi lemahnya
komitmen untuk menjadikan Pancasila sebagai nurani bangsa. Akibatnya,
politik kepentingan dan perilaku kekuasaan yang tebang pilih terhadap
pemberantasan korupsi begitu mencolok di Republik ini. Hidup bersama
pun terancam bahaya keretakan, bahkan kehancuran.

Bila Pancasila disadari menjadi nurani hidup berbangsa, niscaya bangsa
ini dijauhkan dari bahaya- bahaya kehancuran, kemerosotan moral, dan
ketidakadaban. Sudah terbukti, keengganan untuk menjadikan Pancasila
sebagai nurani bangsa telah membuat bangsa ini berkembang tanpa arah,
bahkan cenderung menjadi republik yang tuna-adab!

Bahkan, ketika Pancasila dijadikan sebagai alat kekuasaan, kita
melihat betapa Pancasila sebagai nurani mengalami "kesesatan".
Pancasila menjadi alat untuk menggebuk, melibas, dan menghabisi
lawan-lawan politik sebuah rezim.

Dampak negatifnya, bangsa ini terpecah ke dalam dua kubu, mereka yang
ingin "mempertahankan" dan "mengoptimalkan kembali" Pancasila demi
membangun kehidupan berbangsa versus mereka yang ingin "mengaburkan"
dan "menguburkan" Pancasila demi menggantinya dengan ideologi politik
lain.

Buah bila kita menjadikan Pancasila sebagai nurani bangsa adalah
terbentuknya bangsa yang beradab. Dengan Pancasila sebagai nurani
hidup berbangsa, bangsa ini akan menanggalkan cara hidup lama:
korupsi, kekerasan, keretakan, dan menggapai cara hidup baru yang
lebih beradab.

Dewasa ini, kita ditantang untuk "menciptakan habitus baru demi
terbangunnya ruang publik yang berkeadaban dengan mengindahkan
nilai-nilai luhur Pancasila. Perubahan dari habitus lama menuju
habitus baru harus dilaksanakan seluruh bangsa.

Karena itu, memajukan kerja sama dengan semua yang berkehendak baik
harus kita upayakan agar bangsa kita dijauhkan dari bahaya kehancuran.
Kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik itu kian mendesak
dewasa ini karena ada satu hal mendasar yang terkait tata budaya
bernegara di Indonesia yang perlu kita sikapi secara tepat" (Mgr I
Suharyo, Surat Gembala Pemakluman Ardas KAS 2006-2010).

Marilah kita galang kerja sama dengan semua orang yang berkehendak
baik agar seluruh bangsa diberkati Tuhan.

Aloys Budi Purnomo Rohaniwan, Pemimpin Redaksi Majalah Inspirasi,
Lentera yang Membebaskan, Semarang

        


Kirim email ke