Mungkin ya mungkin tidak, tergantung dasar hukumnya (yang jujur saja 
saya tidak tahu). Sebagai apa Sutiyoso di situ, apa hak-haknya yang 
dilanggar, dana bagaimana penyelesaian yang benar menurut tata krama 
diplomatik (kalau benar Sutiyoso memiliki status tersebut).

Yang saya tanggapi adalah tanggapan sebagian masyarakat yang agak 
berlebihan sebenarnya tidak menunjukkan "harga diri bangsa", tapi 
lebih ke rasa rendah diri kita berhadapan dengan negara yang kita 
anggap lebih maju. 

Cobalah seandainya kejadian ini berlangsung di sebuah hotel di Dili. 
Apakah tanggapan kita akan sama ributnya? Saya rasa tidak. Kita yang 
merasa lebih besar dan lebih maju mungkin akan menjadi "abang yang 
dewasa" dan menyelesaikan masalah ini dengan tenang dan santun.

Cuma karena kebetulan mental inlander sebagian kita ini masiiih saja 
tidak hilang-hilang, jadilah momen ini sepertinya dimanfaatkan 
Sutiyoso untuk menjaring simpati masyarakat.

Andi

--- In [email protected], pramudito pram 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Konteksnya adalah Pak Sutiyoso diceroboh masuk di dalam hotel oleh 
polisi Australia..tidak dihargai, tidak di'wong'ke, dll di negeri 
orang. 
>    
>   Saya tidak tahu, adakah di antara kita rela diperlakukan hal 
yang sama?
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Mungkin mau mempraktekkan resep SBY dulu, Pak. Menjaring 
simpati 
> sebagai korban perlakuan sewenang-wenang. 2009 kan sudah semakin 
> dekat.
> 
> Andi
>


Kirim email ke