http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/04/Politikhukum/3573351.htm
======================

Bersama 60 anggota rombongan, Wakil Presiden M Jusuf Kalla dan Ny
Mufidah Jusuf Kalla mengadakan perjalanan ke Malang, Jawa Timur; dan
Solo, Jawa Tengah, Sabtu (2/6). Kalla mengaku malu jika sering
melakukan perjalanan ke daerah setelah menjadi Wapres karena
rombongannya harus besar. "Tentu ongkos yang disediakan tuan rumah
sangat besar untuk memberi makan rombongan," ujarnya dalam temu kader
Partai Golkar se-Jatim di Malang, Sabtu itu.

Menurut Kalla, rombongan jadi besar karena ada tambahan dari
pemerintah daerah. "Ditambah pemerintah provinsi sebanyak 30 orang dan
pemerintah kota atau kabupaten 20 orang. Jadi, rombongan saya kalau
berkunjung ke satu titik bisa menjadi 100 orang," ujarnya.

Rombongan besar juga punya dampak pahit bagi wartawan yang ikut dari
Jakarta. Di kendaraan, wartawan sering tidak mendapat tempat duduk.
Selain itu, kendaraan "khusus" wartawan secara protokoler selalu
ditempatkan di urutan terbelakang (dalam barisan sekitar 10-15 mobil).
Ini membuat wartawan selalu terlambat sampai di tempat acara.

Ketika mengunjungi korban tragedi Pasuruan di Rumah Sakit Saiful
Anwar, Malang, wartawan dari Jakarta tidak bisa melihat dari dekat
karena terlambat sampai di tempat itu. Ketika sampai di situ, pintu
ruangan sudah ditutup dan dikunci.

Hal yang sama juga terjadi ketika Wapres berdialog dengan sejumlah
mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang. Wartawan tulis Jakarta sama
sekali tidak bisa meliput. Tatap muka mahasiswa dan Wapres ini
dikelilingi puluhan anggota rombongan resmi dari Jakarta, Surabaya,
dan Malang.

Hal aneh

Rombongan besar juga membuat banyak anggotanya tidak punya kerja atau
kesibukan. Supaya kelihatan sibuk atau kerja, kadang-kadang ada "hal
aneh" yang dibuat anggota rombongan. Ini antara lain terjadi ketika
Wapres datang ke kantor Gubernur Sulawesi Utara tanggal 23 Januari
2007 lalu.

Hadirin, termasuk wartawan dari Jakarta, dipersilakan masuk ke ruang
pertemuan. Saat masuk, wartawan dibentak komandan kompleks (danplek).
Danplek marah karena wartawan menginjak karpet merah yang digelar di
pintu itu. Padahal, tidak mungkin lewat pintu itu tanpa menginjak
karpet itu.

Hal aneh semacam itu juga terjadi ketika Wapres berjumpa anggota
keluarga korban musibah pesawat AdamAir di Makassar, Sabtu, 6 Januari
2007 lalu. Ada larangan acara tersebut diliput karena tidak jauh dari
tempat itu diparkir pesawat terbang tempur. Wartawan melancarkan aksi
mogok meliput kedatangan Wakil Presiden.

Untung asisten pribadi Jusuf Kalla, Yadi, dan Wakil Komandan
Paspampres Brigjen TNI (Mar) M Alfan Baharudin bisa memberi jalan
keluar sehingga peristiwa itu tetap diliput wartawan. Kelincahan
bergerak Jusuf Kalla rupanya membutuhkan pembaruan protokol
kepresidenan. (J Osdar)



Kirim email ke