Kompas Minggu edisi 2 Juni 2007 kemarin memuat artikel soal kasus bunuh 
diri pejabat di Jepang dan penegakan hokum di China. Maksudnya tentu untuk 
menyentil karakter kebanyakan politisi maupun aparat di negeri ini, yang 
katanya ber-Pancasila, paling sering bolak-balik naik haji, dan tentunya mencap 
diri paling beragama. 
   
  Yang kurang di negeri ini tentunya adalah contoh, lebih tepatnya teladan dari 
mereka yang menamakan dirinya para pemimpin. Pejabat korup, pengusaha hitam, 
dan aparat brengsek cuma uneg2 yang tokh dalam bulan puasa bisa “dicuci” kadar 
dosanya untuk terus diulang setelah hari lebaran lewat. Tokh, selain bangsa 
kita dikenal sebagai bangsa pelupa, juga pemaaf, jadi diperlakukan tak adil pun 
dianggap sebagai cobaan dari atas. Dasar keblinger ! Tidak ada penyesalan 
maupun pertobatan, nyaris setiap penyelewengan dilakukan tanpa rasa malu.
   
  Bila dalam hikayat China kita mengenal sosok tegas Judge Bao, lha Indonesia 
punya ? Oh, menurut babad dongeng leluhur dulu, kita punya sosok Malin Kundang 
yang durhaka dan sang ibu yang tega main kutuk anaknya sendiri. Kita punya 
kisah Sangkuriang yang pengen selingkuh dengan ibunya. Kita punya sejarah 
petaka keris Empu Gandring yang memulai pertumpahan darah dalam generasi Ken 
Arok. Jangan lupa dongeng pengantar tidur soal perseteruan Bawang merah vs 
bawang putih, yang mau tak mau bisa dibilang mewakili wajah rakyat negeri ini 
yang suka sirik dan demen gontok-gontokan.
   
  Sinetron2 Indonesia juga punya andil menampilkan kisah2 azab Tuhan dalam 
cerita2 yang diklaim religius. Jadi hukuman atas sang tokoh antagonis tidak 
pernah ditampilkan dalam sosok ruang pengadilan, namun lewat adegan kesamber 
petir, ketabrak mobil, sampai jenazah dirubung rayap. Apa kabarmu pak hakim, 
pak jaksa, pak polisi, dan pak sipir penjara ?
   


   
   

                
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
 http://id.mail.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke