Pak Bambang, rasanya sudah semua tempat wisata di Indonesia memang
diperlakukan perbedaan tarif masuk untuk yang wisman dan local.

Pengalaman saya selama ini ditemukan perbedaan tarif masuk lainnya
adalah di TMII, Kraton Solo, juga.  Mungkin juga di tempat2 wisata
lainnya ya?.
Yang menyedihkan keadaan Kraton Solo, yang tidak terawat baik karena
menurut guide-nya - mereka tidak punya cukup dana.

Mungkin kalau mau yang sama tarifnya, hanya kalau pergi ke Dufan dan
BonBin ya?.

Sayang sekali devisa jadi kurang pemasukan, karena perbedaan tarif
tsb.

Kalau menurut saya pribadi, kalau tarifnya tidak di-beda2kan, dan
banyak pengunjung yang datang - ini kan jadi lebih banyak pemasukan.
Daripada dibuat tarif yang tinggi, tapi pemasukan cuma sedikit.
Juga agar kenyamanan juga lebih diperhatikan, di samping faktor tarif
tsb.


Lily




--- In [email protected], Bambang Soetedjo
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Memang kelestarian Candi Borobudur sudah dirusak oleh para pedagang
yang memaksa untuk membeli barang dagangan mereka jadi para turis
sudah segan untuk masuk ke candi Borobudur. Kapan pak menteri
menertibkan situasi ini. Saya pernah 2 tahun lalu kjuga mengalami hal
yang sma saat mengantar wisman dimana jelas2 tarif masuknya beberapa
kali lipat dari tarif lokal dan banyak wisman yang membatalkan masuk
ke candi. Sayang kan karena ini adalah ulah para pejabat kita yang
kurang menghargai peninggalan2 bersejarah dan sekali lagi tidak ada
ketegasan dari atasan, jadi pasang tarif sak enake udele dewe.
Seragamkan tarif masuk. Turis lokal atau wisman jangan dibedakan
karena dimanapun didunia ini kalau kita mengunjungi tempat2
bersejarah tidak pernah ada perbedaan tarif. Hanya di Indonesia yang
macam2 mengeruk uang sebanyak mungkin dan nantinya dipakai untuk
bancaan.
>
>   Salam
>   BS

Kirim email ke