http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/05/opini/3574149.htm
=====================

Memperingati Hari Lingkungan Hidup setiap tanggal 5 Juni seharusnya
tidak bisa lagi dilakukan secara rutin dan biasa-biasa saja.

Hari Lingkungan Hidup kini sudah harus digunakan seefektif mungkin
untuk mengingatkan masyarakat, bangsa, dan warga dunia akan nasib Sang
Bumi yang tampak semakin berada di ujung tanduk. Tidak
melebih-lebihkan kalau beberapa waktu lalu di harian ini dimuat sebuah
reportase tentang kemungkinan umur Bumi tinggal satu abad.

Tentu yang dimaksud dengan "umur" di atas adalah batas keterhunian
karena dalam ilmu astronomi ada lagi teori yang mengaitkan hal ini
dengan teori evolusi bintang, yang menyebutkan umur Bumi yang
dikaitkan dengan umur Matahari masih sekitar 4,5 miliar tahun lagi.
Namun, dengan pemanasan global dan terus menurunnya kualitas
lingkungan, sejumlah ilmuwan malah telah mulai menyebut kurun seabad
ke depan sebagai one final century (abad kita yang terakhir).

Ketika akan berlangsung Konferensi Lingkungan Hidup PBB tahun 1972 di
Stockholm, terbit sebuah buku yang penting, ditulis oleh Barbara Ward
dan Rene Dubos, berjudul Only One Earth. Bagaimana kita memaknai fakta
bahwa "Hanya Ada Satu Bumi"? Semestinyalah kita dengan penuh
penghormatan memelihara lingkungannya, hutannya, sungainya, juga
menghormati makhluk yang berbagi ruang hidup di Bumi yang satu ini.

Janganlah lupa, paham lingkungan hidup atau ekologi diturunkan dari
kata Yunani "oikos", yang berarti "rumah" atau "tempat tinggal". Rumah
akan menjadi nyaman atau tidak sepenuhnya terpulang kepada para
penghuni. Semakin banyak penghuni akan semakin panaslah rumah, apalagi
kalau para penghuni gemar menyulut api.

Melihat perkembangan aktivitas di Bumi, kegemaran "menyulut api" tentu
simbolisasi aktivitas manusia baik dalam industri maupun kehidupan
perorangan. Dari sejak industrialisasi mendapatkan momentum melalui
epoh, seperti Revolusi Industri di pertengahan abad ke-19, manusia
telah menyemburkan miliaran ton gas dan debu ke atmosfer, yang tak
sepenuhnya bisa dibawa turun lagi ke permukaan Bumi.

Kerusakan lingkungan juga terjadi tidak saja di atmosfer, tetapi juga
di laut dan di darat. Dalam konteks ini, sejumlah negara—yang
sebenarnya besar andilnya dalam terjadinya pemanasan global—justru
ditengarai tidak mau proaktif dalam upaya mengerem gejala dengan
konsekuensi katastrofik ini. Jelas negara-negara ini tidak mau
menerima realitas, mereka juga hidup dalam "Satu Bumi". Mungkin mereka
mengira, mereka bisa selamat sendiri. Sungguh satu ilusi yang amat
tragis. 

Kirim email ke