mbak fau kita memang harus berani mencontoh bangsa korea, mantan presiden chun do hwan ketika lengser didakwa melakukan abuse of power termasuk melakukan penembakan kepada mahasiswa yang dikenal dengan insiden Kwangju, dia diadili dimuka pengadilan, photonya yang sedang memakai seragam tahanan warna biru dengan tangan terborgol, dipublikasikan ke seluruh dunia, mantan diktator militer itu menghadapi tuntutan maksimal mati, namun pengadilan korea menjatuhkan hukuman seumur hidup dan setelah menjalani penjara beberapa tahun chun do hwan akhirnya mendapat amnesti dan hidup menjadi biksu di biara. dan sekarang korea menjadi bangsa yang maju bersama dengan jepang. bagaimana kita ???? kita tidak punya nyali untuk melakukannya. salam iwan
fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Iwan, mungkin rakyat bingung. Mau dihukum atau dimaafkan? lha orangnya nggak merasa (apalagi mengaku) bersalah dan tidak pernah dibuktikan di pengadilan. Jadi yang berjalan adalah persepsi masing2: yang menganggap pak harto salah ya bisa (cuma) sepuasnya mencaci dan menumpahkan semua kesalahan (termasuk yg mungkin bukan kesalahannya) ke pak harto, kan sama2 tidak legally proven. Yang masih mencintainya ya selalu bilang maafkan2.. ingat jasa2nya.. Padahal "rumus"nya kan gampang dan semua juga tau: Kalau orang bersalah A dan berjasa B, maka hukumlah buat A-nya dan balaslah jasa B-nya melalui legal institution. Apakah mau dimaafkan (mis. lewat referendum yang sah) kan nggak masalah, asalkan (dalam pandangan hukum) yang bisa dimaafkan hanya yang terbukti bersalah secara hukum pula. Buat apa memaafkan orang yang "tidak bersalah"? Saya duga persoalan Pak Harto ini akan jadi duri dalam daging sepanjang sejarah bangsa. Karena tidak pernah diselesaikan secara hukum. Rumus gampang tadi juga seharusnya berlaku umum, buat Amien, Megawati, GD, Habibie, SBY (Rokhmin gate misalnya). rumusnya gampang, melaksanakannya susah. Mungkin karena kita memang tidak serius mereformasi institusi/ governance system. Sehingga transaksi politik yang gagal (tidak efisien) memberi gangguan serius terhadap tujuan ekonomi. Makroekonomi kita boleh stabil, tapi kita gagal tumbuh secara optimum. Dunia politik dan ekonomi kita disesaki oleh rent seekers yang sayangnya tidak dibatasi oleh aturan yang sesuai dan ditegakkan. > kenapa Tommy bisa cepat diterima dimana-mana setelah keluar dari bui, memaafkan dan mulai melupakan, itulah begonya kita, jangan kaget kalau tahun 2009 tommy jadi calon anggota legislatif bahkan mungkin mencalonkan diri jadi gubernur DKI ? walahualam. > Kalo soal short-memory dan "lapang dada" nya (atau bodohnya?) orang2 kita, ada temennya tuh.. tetangga kita, Philippines. Anak laki2nya Marcos jadi Gubernur sampe tiga kali masa jabatan dan thn ini akan menggantikan saudara perempuannya di DPR sana, yang juga sudah sampe tiga kali masa jabatan sbg congresswoman... pantes aja.. sama2 gak maju2.. dah ah.. tambah mumet.. salam, fau
