Oleh Seto Mulyadi
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/08/opini/3585907.htm
======================

Pelajaran kejujuran sedang berlangsung di sebuah sekolah yang bernama
Indonesia. Para murid adalah rakyat dan gurunya adalah para pemimpin
bangsa ini.

Seperti pelajaran di sekolah, para murid dengan cepat menangkap
pelajaran yang diberikan jika guru menguasai materi pelajaran dan
mampu mengajarkannya dengan benar.

Pelajaran yang sedang diajarkan adalah perilaku jujur dalam kehidupan
sehari-hari. Kata-katanya bisa dipercaya, tidak berbohong, tidak
mencuri, tidak korupsi, dan sejumlah "tidak" lainnya. Jika guru dan
siswa menjalankan kejujuran, dijamin bangsa ini kelak terhindar dari
kehancuran. Maka, selain dituntut mampu menerangkan teori, para guru
pun dituntut mampu memberi contoh kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam psikologi belajar dikenal prinsip modelling. Artinya, murid
dengan mudah akan melakukan suatu perilaku tertentu melalui proses
peniruan pada sang model. Model ini bisa siapa pun yang bertindak
sebagai model. Apakah itu orangtua, guru, maupun orang-orang yang
dikaguminya.

Jangan berharap anak akan senang belajar jika di satu sisi anak
disuruh rajin belajar, sementara ibunya lebih asyik menyaksikan
sinetron di televisi. Atau jangan berharap anak berperilaku jujur jika
orangtua atau guru menyuruh sang anak berbohong atau bertindak tidak
jujur. Di sekolah anak akan malas belajar matematika jika sang guru
tidak menunjukkan minat pada matematika atau kurang menguasai mata
pelajaran itu.

Seorang guru yang mengajar mata pelajaran dengan sikap gembira,
kreatif, dan penuh antusiasme akan menghasilkan siswa yang antusias
pula pada pelajaran itu dan mampu menguasainya dengan lebih mudah.

Keteladanan guru

Lalu, bagaimana dengan pelajaran kejujuran yang sedang berlangsung di
negeri ini? Apakah para guru sudah mengajarkannya dengan cara-cara
yang benar melalui berbagai contoh atau keteladanan yang nyata?

Misalnya kasus aliran dana nonbudgeter Departemen Kelautan dan
Perikanan (DKP) yang menyangkut para tokoh terhormat di negeri ini.
Atas kasus itu, apakah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan jujur
akan berani memanggil semua pihak yang diduga menerima aliran uang itu
sebagaimana disebutkan oleh saksi di persidangan mantan Menteri
Kelautan dan Perikanan? Apakah pengakuan seorang tokoh yang
menggemparkan itu secara jujur juga berani diakui oleh pihak-pihak
terkait, lalu memicu prakarsa untuk berani membongkar borok korupsi
yang tertutup rapi di balik kekuasaan formal yang dimiliki beberapa
pemimpin bangsa?

Begitu pula kasus kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN).
Apakah pihak-pihak terkait dengan jujur berani mengakui kenyataan yang
ada dan membawa kasus yang merusak citra pendidikan ini ke depan meja
hijau? Atau dengan jujur berani mengevaluasi kembali manfaat
pelaksanaan UN sebagai penentu kelulusan siswa? Atau dengan jujur
berani mengakui bahwa ada intimidasi terhadap para guru yang telah
mengungkap kecurangan dalam UN? Bagaimanapun juga, pengungkapan
kecurangan itu merupakan bukti kerisauan atas kecurangan dalam
pelaksanaan UN. Adakah mereka diberi perlindungan?

Dalam kasus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), kejujuran
diperlukan untuk berani mengakui adanya kepemimpinan yang tertutup,
otoriter, dan lemah, manajemen tirani yang tidak mampu mengelola
kampus sebagai institusi akademis yang intelek terhormat serta sistem
pendidikan yang kacau sehingga perlu dilakukan perombakan menyeluruh
pada institusi itu.

Kejujuran partai politik untuk berani mengusung calon yang bersih
dalam setiap pemilihan dan mengedepankan kepentingan terbaik bagi
rakyat juga diuji. Masih ada ribuan contoh lain.

Seandainya...

Sebagai guru negeri dalam hal kejujuran, para pemimpin bangsa dituntut
untuk mulai memberi contoh-contoh nyata perilaku jujur, yaitu berani
mengungkap kebenaran, berani mengakui kesalahan, dan berani meminta
maaf secara terbuka kepada rakyat.

Sebagai murid, rakyat dengan mudah akan menangkap pelajaran kejujuran
yang dijelaskan guru, mampu memahami dan menguasainya dengan baik.

Seandainya semua itu terjadi, betapa bahagianya bangsa ini. Indonesia
akan semakin maju dan perkasa, berkembang setara dengan bangsa-bangsa
unggul lainnya di dunia.

Namun bila tidak, mungkin kita semua masih harus sabar menunggu satu
dua generasi lagi ke depan, yaitu dengan mulai mengajarkan makna
kejujuran kepada anak-anak kita sejak usia dini pada saat ini juga.

Seto Mulyadi Ketua Komnas Perlindungan Anak 

Kirim email ke