iscab:

AB itu antibiotik, ya?

Di Indonesia, orang bisa membeli antibiotik dengan mudah tanpa resep dokter.
Di negara lain, hal itu belum tentu bisa.

Di Jerman, dokter jarang memberikan antibiotik. Hanya orang yang demam parah
saja. Dokter hanya memberi resep vitamin dan kadang-kadang obat-obat batuk
pilek (kalau flu) serta menyuruh istirahat beberapa hari.

Di Indonesia, mungkin orang lebih senang budaya instan: lekas sembuh dengan
antibiotik. Karena beristirahat di rumah karena sakit, punya implikasi
tertentu dalam dunia kerja, seperti potong gaji atau citra buruk.

Manusia memiliki tukang obat terhebat dalam dirinya, yaitu sistem kekebalan
tubuhnya. Hanya penggunaannya membutuhkan waktu. Sudah saatnya, orang
Indonesia melatih sistem kekebalan tubuhnya. Kurangi begadang. Makan sayur
dan buah-buahan. Banyak minum air bening.

Di Semarang, saya sakit batuk  pilek setiap 2 minggu sekali. Selain karena
stress pekerjaan, juga karena harus bertemu dengan keluarga yang tinggal
bersama orang TBC yang malas berobat. Dokter selalu memberiku resep
antibiotik. Aku juga tidak bisa istirahat sakit, karena masih karyawan baru,
takut citra buruk.
Di Bremen, saya hanya sakit dua kali. Itu terjadi pada masa musim dingin.
Pergi ke dokter sekali, karena mengalami demam dan ada lendir di tenggorokan
yang susah keluar.

Oh, ya, setelah saya membandingkan anggaran kesehatan pribadi antara Jerman
dan Indonesia, ternyata hidup sehat di Jerman lebih "murah". Harga buah
kesukaan saya yaitu jeruk, katanya banyak vitamin C yang bagus buat sistem
kekebalan tubuh, antara Jerman dan Indonesia tidak jauh beda kalau
dirupiahkan. Dulu di Indonesia saya sengaja sisihkan gaji untuk beli
buah-buahan serta hemat penggunaan buah. Dengan penghasilan di Jerman, saya
bisa foya-foya makan buah-buahan. Apel lebih murah lagi, tapi saya kurang
suka apel. Dengan rajin makan buah-buahan di Jerman, saya jarang pergi ke
dokter.

Ibnu Rusyid pernah berkata, "Eat an apple a day, keep the doctor away"


Condro


On 6/7/07, kawuloalit <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kalau ini bukan sekedar humor loh...
> Dan nyaris dihadapai masyarakat kita..bahkan di jakarta lebih parah...ini
> yg
> saya dengar dari sharing ibu2 disebuah milis dengan member lebih dari 5000
> dan aktif.
>
> Sudah pasien tak sadar penyakitnya dokternyapun "taksadar" meresepekan
> obatnya....bahkan dengan dengan tidak tanggung-tanggung polyfarmasi dan
> AB.
>
> Kemarin baca di okezone......luar biasa......bahkan dengan alasan yang
> menurut saya prematurpun dokter meresepkan AB cuma gara2 habis
> operasi...untuk mengantisipasi infeksi bacteri.
>
> Ada ngga pak survei di endonesia......seberapa sering dokter meresepkan
> AB..apa mungkin 8 dari 10 dokter di endonesia meresepkan AB untuk setiap
> kunjungan pasiennya?
> bukan ndak setuju...lah wong cuma tul..tul..tul tanpa pemeriksaan
> penunjang/lab..etc...dah dibawain segepok obat dan tidak ketinggalan AB.
> saya setuju kl kemudian digunakan secara bijak dan rasional karena
> resistansi AB ini sangat mengkhawartirkan.
>
> Dan trendnya dari tahun lalu...begitu keluar dari ruang periksa ....resep
> sudah siap ditebus...alias resep online.
>
> salam,
> bapakeghozan--be smart be healthier
> http://ghozan.blogsome.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke