Oleh Ilham D Sannang
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/09/humaniora/3587984.htm
=====================

Penggandengan kata "agama" dan "senggama" pertama kalinya saya dengar
di MP Book Point Cipete, Jakarta, dalam acara peluncuran memoar God's
Call Girl, Sang Pelacur Tuhan (Voila Books). Memoar itu mengisahkan
pergulatan hidup Carla Van Raay, mantan biarawati yang terjerumus
dalam bisnis pekerja seks, lalu bertobat.

Sungguh menarik dan mengejutkan telinga dan isi kepala ketika gagasan
"agama" dan "senggama" ditelisik hubungannya. Apalagi, salah satu
pembicaranya adalah seorang agamawan (yang berselibat; tidak
bersenggama), Romo Haryatmoko, dosen filsafat lulusan Sorbonne,
Perancis, yang kini mengajar di sejumlah universitas bergengsi di
Tanah Air.

Pengaitan "agama" dan "senggama" sendiri sebenarnya adalah sesuatu hal
yang klasik, namun tak lepas dari kontroversi. Bagi tradisi
budaya/masyarakat tertentu, agama diasosiasikan dengan "kesucian",
sedangkan "senggama" diasosiasikan dengan "kekotoran" dan "dosa", atau
setidaknya "tabu". Seks menjadi sesuatu hal yang tabu dibicarakan di
depan umum karena "memalukan", sedangkan agama adalah hal yang selalu
didengung-dengungkan/dirayakan dalam berbagai kesempatan, walaupun
belum tentu diamalkan.

Mungkin ini bedanya agama dan senggama: agama selalu dibicarakan,
ritualnya dirayakan, tapi hakikatnya malas diamalkan. Senggama
sebaliknya: tabu dibicarakan, tapi rajin diamalkan. Mengapa? Berbicara
tentang agama adalah terpuji. Berbicara tentang seks dan senggama
dianggap keji.

Hanya orang-orang tertentu sajalah yang berhasil berpantang diri dari
senggama, dan mampu menyalurkannya secara positif lewat sublimasi
sehingga melahirkan kreativitas dan karya- karya yang hebat. Walhasil,
seks dan agama selalu saja bergandengan, walaupun tidak selalu
bersimbiosis dengan nyaman.

Yesus, figur sentral dalam agama Kristen, dan nabi yang juga
dimuliakan umat Islam, menerima dengan baik seorang mantan pekerja
seks yang bertobat, yang lalu menjadi wanita terhormat. Perempuan ini
bahkan begitu mencintai Yesus sehingga ia rela membasahi kaki gurunya
tersebut dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian,
ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi (Lukas,
7:38). Kaum pria yang menyaksikan peristiwa tersebut menganggapnya
sebagai pelecehan, tetapi Yesus sendiri tidak menganggapnya demikian.

Dalam Islam, bersenggama bahkan berpahala, asal dilakukan istri dan
suami. Bukankah kalau bersenggama dengan selain istri/suami sendiri
adalah dosa? Maka, demikianlah, jika dilakukan sesuai tuntunan Tuhan,
senggama mendatangkan ganjaran pahala. Menurut ajaran yang dibawa Nabi
Muhammad SWA ini, agama bahkan berjalin erat dengan senggama.
Bagaimana tidak? Bukankah salah satu kebaikan yang akan terus mengalir
sampai hari kiamat adalah doa anak saleh kepada orangtua?

Bahkan, fungsi rekreasi duniawi ini dikatakan sebagai "prolog" saja
agar manusia semakin bersemangat mengejar kenikmatan surgawi yang jauh
melampaui dimensi duniawi. Fungsi rekreasi suami-istri ini begitu
ditekankan oleh Nabi. Beliau menasihati agar laki-laki tidak
menghampiri para istri dengan semangat mementingkan diri sendiri.
Namun, hendaknya memulai dengan mengirimkan "rasul-rasul" (utusan)
pembawa "risalah" (pesan). Ketika para sahabatnya bingung dengan
maksudnya, Rasul menegaskan bahwa "utusan dan pesan" itu berupa ciuman
dan pelukan.

Ini adalah komunikasi dialogis (timbal-balik) tubuh, sebagai hidangan
awal sehingga sang istri siap memasuki hidangan utama. Jika "utusan
dan pesan" ciuman dan pelukan ini diabaikan, para istri tidak akan
merasa nyaman dan akan merasa hanya dimanfaatkan layaknya barang.

Budaya patriarki

Namun, alangkah sayangnya ketika agama yang suci ini dikotori oleh
persepsi dan budaya patriarki. Dengan persepsi patriarkis ini,
perempuan selalu menjadi obyek penderita (yang sering kali benar-benar
menderita), sedangkan laki-laki menjadi subyek pelaku yang "serbakuasa
serbatahu". Seks menjadi alat dan simbol kuasa.

Memang, laki-laki adalah imam/pemimpin di rumah tangganya. Namun, bias
patriarki yang kental akan membuat kepemimpinannya tidak disertai
tanggung jawab dan cinta. Ayat pemimpin itu (laki-laki adalah pemimpin
bagi wanita, QS, 4:34) dicabut rohnya. Padahal, memimpin berarti
mencintai yang dipimpin. Mencinta berarti memberi, bukan mengambil.

Dalam perspektif patriarki, menjadi pemimpin dianggap sebagai hak.
Padahal, dalam perspektif yang seimbang sesuai tuntunan Nabi dan
Tuhan, menjadi pemimpin seyogianya terlebih dahulu dianggap sebagai
kewajiban. Setelah kewajiban terlaksana, barulah hak diterima.

Cinta adalah menunaikan tanggung jawab sebelum menuntut hak. Bahkan,
cinta yang tulus murni tidaklah menuntut hak sama sekali. Ia hanya
sibuk memberi. Dengan demikian, terjadi hubungan timbal-balik yang
harmonis, saling melindungi jiwa dan raga. "Laki-laki adalah pakaian
bagi perempuan, dan perempuan adalah pakaian bagi laki-laki" (QS,
2:87). Demikian Al Quran membimbing.

Pakaian melindungi pemakainya dari panas dan hujan, melindungi
kehormatan pemakainya, menimbulkan rasa nyaman, bahkan mempercantik
dan mempergagahnya menjadi rupawan. Pakaian selalu lekat di badan.
Hanya sekali-kali saja pakaian kita lepaskan. Demikian pula peran
suami-istri. Suami- istri berupaya sekuat tenaga saling melekati,
melindungi, mempercantik, mempergagah.

Maka, tidak heran, dalam budaya masyarakat patriarki agama
diselewengkan. Coba lihatlah film-film bioskop tema horor- setan. Atau
sinetron-sinetron "religi" di teve-teve, yang dibuka dan ditutup
dengan ceramah rohani. Sang ustadz dan agamawan selalulah laki-laki.
Adapun Mak Lampir, pocong, kuntilanak, sundel bolong, hantu bangku
kosong, suster ngesot, semuanya perempuan.

Ke manakah perginya Pak Lampir? Abah bolong? Mantri ngesot? Mengapa
hantu-hantu itu selalu perempuan? Dan, mengapa sang pengusir hantu itu
selalu laki-laki agamawan? Ini adalah produk-produk budaya patriarki;
segalanya dilihat dari perspektif laki-laki.

Nasib perempuan

Bila ada laki-laki pecandu narkoba, atau mantan perampok, yang
bertobat, lantas menjadi ustadz, maka masyarakat menyambut hangat.
Adakah sambutan yang sama diberikan pada mantan pelacur-nista, yang
berbalik mendalami agama? Berita seperti ini rasanya jarang sampai di
telinga. Adakah masyarakat kita siap menerimanya?

Sering kali kita sendiri yang menghalang-halangi saudari- saudari kita
itu untuk kembali ke jalan suci. Dengan memakai standar ganda,
"perempuan harus lebih bisa menahan diri dan lebih suci daripada laki-
laki". Pria berdosa ditoleransi karena "manusiawi". Namun, jika wanita
berdosa dicaci maki, bahkan sering kali oleh wanita sendiri.

Dosa kejatuhan Adam ke bumi dipersalahkan pada Hawa. "Memang
perempuanlah penyebab bencana-kejatuhan", begitulah mereka punya
pernyataan. Maka, tidaklah heran jika setan-setan dan hantu di film
bioskop maupun sinetron teve kebanyakan perempuan.

Padahal, bukankah Adam juga tidak bisa menahan diri? Dan, menurut
firman Tuhan dalam Al Quran, Adam dan Hawa justru sama-sama tidak
dapat menahan diri (QS, 7:19-25). Jadi, sudah selayaknyalah jika diri
sendirilah yang disesali. Tidak perlulah mengambinghitamkan istri,
suami, atau siapa pun di luar diri. "Hitung-hitunglah diri," demikian
wasiat sang sufi, Abdul Harits Al-Muhasibi.

"Jangan mengambinghitamkan keadaan," itulah pula hikmah yang dipetik
oleh Romo Haryatmoko dari kisah Carla van Raay di atas; kisah sang
mantan biarawati yang terperosok ke dalam bisnis pelacuran, namun
akhirnya sadar kembali ke jalan yang benar.

Carla memang pernah diperkosa ayah kandungnya sendiri; pengalaman yang
pasti selalu membekas jika ia berhubungan dengan laki-laki. Ia ingin
lari dari derita, lalu masuk biara. Namun, ketika kedamaian tak
kunjung tersua, ia justru menyalahkan biara dan agama. Dan, karena
impitan ekonomi, terpaksa ia mengambil jalan dengan melanggar susila
demi melayani nafsu pria.

Carla adalah korban determinasi psikologis yang diciptakannya sendiri,
dengan "bantuan" kejahatan dan penderitaan yang menimpanya. Nasib
buruk yang beruntun menimpa hidupnya menjadikannya berputus asa meraih
kebaikan. "Mungkin sudah nasibku masuk dalam lembah hitam, maka
sekalian saja harus kuhayati, nikmati, dan jalani peran dan suratan
kehidupan". (Bahkan, manusia pun mencari makna dalam kejahatan yang
dia lakukan!)

Bukankah kita tetap dapat meraih keselamatan, tanpa harus mengabaikan
kesenangan- kesenangan karunia Tuhan?

Ilham D Sannang Editor Sebuah Penerbit di Bandung



Kirim email ke