Ada statement harga beras import murah. Ini topik menarik.
Apa benar murah, petani dibayar sangat murah untuk berasnya.....walaupun ditambah biaya transport, masih lebih murah dari hasil petani indonesia? atau sebenarnya beras2 itu sudah tidak ada nilai harganya sehingga walaupun sudah dibeli dengan harga murah, masih bisa kasih komisi kepada petinggi bulog dalam jumlah yang tidak sedikit.... Koq bisa...sudah murah tapi bisa ngasih komisi.... Barangkali memang beras yang kita import itu sebenarnya beras yang sudah tidak ada nilainya.....artinya beras hasil panen sebelumnya yang harus dibuang karena tempat - gudang cadangan beras harus dikosongkan untuk menerima hasil panen petani beras yang baru...... Kalau mau dibilang beras afkir......koq tega-teganya yah pejabat kita beli beras afkir.....tentunya tidak khan....? Mau dibilang beras murah.....yah pasti murah lah, kalu tuh beras tidak di keluarkan dari gudang.....mau taruh hasil panen baru dimana? Eh ternyata, untuk biaya mengosongkan gudang mereka ada pejabat dari negara kaya yang mau mengalokasikan dana negara untuk membayarnya asal boleh mengambil beras yang mau dibuang nya tersebut.... ......yah.....dari pada dikosongkan dengan biaya sendiri....lebih baik dijual ke negara tersebut khan................. Untuk makan rakyat nya........ Rudy Th -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Haniwar Syarif Sent: 09 Juni 2007 9:35 To: [email protected] Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Visualisasi Mimpi dan "Sense of Details" Yang saya dengar juga, di Cina harga kebutuhan pokok ( sandang pangan ) murah. Lha yg dimasukkan ke Indonesia dr Cina aja murah..Lihat aja produk eks cina di pasar kita.... masa kita nggak percaya bhw disana lebih murah lagi. Jadi walau upah buruh nya lebih rendah dari buruh di iNdonesia, daya belinya masih jauh lebih tinggi. Kita ini salah kaprah... gaju buruh mau dinaikkan.. tapi harga kebutuhannya naik lebih tinggi... :( mInyak goreng, naik dr. Rp10.000 per 2 l jadi Rp.17.000. harga gula dari Rp.4.000 jadi naik Rp.6.500 per kg, , beras dari Rp3.000 pe rkg jadi Rp.7.000 per kg , ( ini semua terjadi dijaman SBY lho) , ikan kembung naik dari rp.10.00 jadi Rp.18.000 per kg, ayam naik dr Rp.9.000 pe rkg jadi Rp.15.000 per kg... Coba bayangkan.. kalau yg kita tuntut adalah naiknya nilai tukar..alias gaji boleh nggak naik.. tapi harga bahan poki turun... Coba amati ... kita impor beras dr Vietnam cuma USD 270 [er ton, alias 0.27 diollar pe rkilo, alias kira kira Rp.2.600 per kg, sedang kita disini harus beli beras, sampai Rp.7.000 per kg. Coba amati harga daging sapi di Malaisia aja cuma Rp.20.ooo per kg, sednag dikita Rp.50 rb per kg.. Ayo pilih, punya gaji Rp. 900.000 ( upah minimum kita ) tapi apa apa mahal, atau lebih rendah , katankanlah Rp.600.000 , tapi harga bhn pokok cuma setengahnya, misak beras Rp.3.500 baju juga murah, tanah garapan tersedia.. Dan... investor jadi tertarik nanam modal... Ada yang salah dalam efisiensi di Indonesia.. ada yang salah dalam struktur biaya di negara ini, ada yang salah dalam pemertaan pendapatan di Indoensia... Persoalannya bukan menaikkan gaji buruh atau petani, tapi bagaimana menaikkan nilai tukar drai pendapatan mrk..., persoalanny abagaimana mrk bisa dapat lebih banyak dr pendapatan mrk sat ini. Bisa juga, misalnya kalau gaji tetap tapi pengeluaran berkurang karena sekolah dan kesehatan gratis..dan adanya transportasi yang murah Bis ajuga.. dgn menaikkan produktivitas.. sehingga volume bertambah harga menurun tapi pendapatan bertambah.. Salam Haniwar
