mas agus, orang luar negeri itu apa banyak uangnya ya? mereka melakukan penelitian sampai ke luar negeri. kalau saya, boro-boro penelitian ke luar negeri, honor ngajar saja per pertemuan (2 sks) hanya 9 rebu rupaih. kapan kita bisa kayak mereka?
Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Oleh Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0706/10/persona/3589965.htm ===================== Waktu seperti dibekukan ketika Arlene S Lev (70) menyortir foto yang merekam sebagian kecil perjalanan almarhum Yap Thiam Hien SH. Wajah Arlene serius, kadang dahinya mengernyit ketika mencoba mengingat peristiwa-peristiwa dari serangkaian gambar tanpa tanggal dan penjelasan. Sesekali suara burung di luar meningkahi kesenyapan dan menghadirkan kenangan . Saya harus fokus. Waktunya tidak banyak," gumam Arlene. Sesekali dia mendiskusikan beberapa foto dengan Yap Hong Ay. Putri Yap Thiam Hien itu membawa sekotak foto untuk dipilih guna melengkapi penerbitan biografi ayahnya. Tenggat penerbitan buku itu sudah dekat. Kata Arlene, Benedict R Anderson, Profesor Emeritus dan Indonesianis dari Universitas Cornell, sahabat Dan, membuat kata pengantarnya. Penyuntingnya, Audrey Kahin. Tebalnya sekitar 350 halaman. "Judulnya masih dicari," ujar Arlene ketika ditemui di rumah Tuti Hadiputranto, salah satu sahabat pasangan Dan-Arlene di Jakarta, Kamis (7/5) petang. Naskah asli buku itu tebalnya sekitar 900 halaman. Satu setengah bab terakhir tak berhasil diselesaikan penulisnya, Prof Daniel S Lev. Kanker keburu mengantarnya berpulang di usia 73 tahun pada tanggal 29 Juli sekitar pukul 11.30 waktu Seattle, AS, tahun lalu, atau tanggal 30 Juli sekitar pukul 01.30 WIB. Buku itu pula yang rupanya "mengganjal" kepulangan Dan begitu ia disapa sahabat, teman, dan muridnyapada menit-menit paling kritis di ujung hidupnya. Menurut Arlene, Dan mengembuskan napas terakhir dengan sangat tenang setelah Ben Anderson membisikkan di telinganya bahwa tugasnya sudah selesai. Ia (Ben) akan melanjutkannya, sampai buku itu diterbitkan. Arlene berharap edisi bahasa Inggris-nya terbit pada akhir tahun ini. Dengan sumber dana pribadi yang terbatas, ia sedang berusaha agar buku itu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, lalu diterbitkan dan dijual dengan harga terjangkau. "Dan menulis buku ini untuk Indonesia," tuturnya, pelan. Biografi Yap Thiam Hien, menurut Arlene, merupakan upaya Dan memaparkan perjalanan sejarah hukum dan demokrasi di Indonesia, selain mengungkapkan bagian krusial dari perjuangan kelompok pemikir dan pejuang Indonesia keturunan Tionghoa untuk kemajuan demokrasi dan perlindungan hak-hak asasi manusia di negeri ini. Perjuangan itu jauh lebih berat dan karenanya lebih genuine, karena juga merupakan bagian dari pergulatan jati diri. Yap Thiam Hien (1913-1989), ahli hukum Indonesia dan aktivis hak-hak asasi manusia itu, dilahirkan dari keluarga Tionghoa yang buyutnya berimigrasi dari China Selatan pada tahun 1840-an. Dari ratusan foto kuno itu tampaknya tidak ditemukan satu pun foto Dan bersama Yap. Padahal, hubungan keduanya sangat dekat. Dan dan Arlene muda bahkan pernah tinggal di rumah Yap selama beberapa saat. "Saya sangat menghormati dan mengagumi beliau," lanjut Arlene. Yap pernah ditahan oleh penguasa karena mempertahankan keyakinannya akan prinsip hak-hak asasi manusia pada situasi paling krusial dalam perpolitikan di Indonesia. Meskipun dikenal antikomunis, Yap berani membela para tokoh tersangka G30S. Pengacara kelahiran Banda Aceh, 25 Mei 1913, itu juga dikenal sebagai "singa pengadilan" dalam urusan membela hak-hak asasi kelompok tertindas. "Pribadi yang luar biasa," lanjut Arlene, dengan pandangan menerawang. "Kisah hidupnya sangat inspiratif, tetapi juga sangat kompleks." Dan, kata Arlene, memiliki ikatan emosional dengan Yap. Namun, bukan itu yang menyebabkan suaminya menulis biografi Yap. Kekerasan Yap mempertahankan prinsip kemurnian hukum meski harus dibayar dengan pengorbanan yang besar, termasuk kehidupan pribadinya, itulah yang mendorongnya. Guru kelima Yap Thiam Hien adalah guru kelima atau guru terakhir bagi Dan. Bukan guru di dalam kelas, melainkan guru kehidupan. Ketika berbicara di ruang Perpustakaan Daniel Lev di Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) dalam acara yang diselenggarakan para sahabat almarhum suaminya, Arlene mengungkapkan lima guru yang paling berpengaruh dalam kehidupan Dan. Mereka itulah yang membuat Dan menjadi ilmuwan dengan sentuhan kemanusiaan yang kuat, yang secara konsisten menolak kekerasan, diskriminasi, dan ketidakadilan. Guru pertama adalah ayahnya, Louis Lev, seorang tukang kayu. Dari ayahnya, Dan belajar ketekunan, kejujuran, dan kepekaan pada persoalan kemanusiaan. "Guru keduanya Prof Kahin," lanjut Arlene. Prof Kahin-lah yang "membelokkan" penelitian disertasinya dari masalah sistem hukum menjadi politik dan transisi Demokrasi Terpimpin. "Dari Prof Kahin, Dan memahami arti belajar-mengajar, bahwa murid harus diperlakukan secara setara, tidak boleh dianggap bodoh." Guru ketiganya adalah Mr Besar Martokoesoemo. Dari ahli hukum yang ikut meletakkan dasar pembentukan Indonesia itu Dan belajar memanusiakan politik. "Pak Besar membuat Dan paham bahwa politik bukan hal yang abstrak. Dampaknya sangat konkret dalam kehidupan sehari-hari warga." "Guru keempat, dan ini hampir tak ada yang tahu, adalah Kiai Adnan. Saya sendiri belum pernah ketemu beliau," kata Arlene. Kiai Adnan mengajar Dan tentang Hukum Islam. Pengaruhnya sangat besar karena mencairkan skeptisisme Dan terhadap agama. "Beliau membukakan mata Dan bahwa ada hal yang revolusioner dalam agama untuk menentang penguasa yang sewenang-wenang," lanjutnya. Pengalaman panjang dan perjumpaannya dengan banyak orang di Indonesia membuat Indonesianis dan Profesor Emeritus dari University of Washington (UW) Seattle, AS, itu tidak menjadikan Indonesia hanya sebagai subyek pengamatan dan penelitiannya. Juga tidak sekadar menjadi "rumah kedua". Indonesia adalah rumahnya, secara intelektual dan spiritual. Ini membuat Dan selalu ingin "pulang" dan memberikan sumbangan konkret untuk negeri ini. Daniel S Lev Memorial Fund yang sedang diusahakan pembentukannya adalah bagian dari itu semua. Dana itu akan digunakan untuk merawat dan menjaga kesinambungan perpustakaan Daniel S Lev di Jakarta dan di UW, di samping sedikit dana untuk membantu mahasiswa Indonesia yang belajar hukum di UW, seperti dilakukan Dan sepanjang hidupnya. Juga bagi Arlene. "I'm home," adalah kalimat pertama yang ia lontarkan ketika tiba di Jakarta, Minggu tanggal 27 Mei 2007, setelah 10 tahun absen. "Dan percaya hukum adalah tumpuan terakhir bagi yang lemah dalam menghadapi kesewenang-wenangan penguasa," ujar Arlene. Ia juga meyakini optimisme Dan akan Indonesia yang lebih baik. Karena itu, ia tidak heran kalau Dan, di hadapan para jenderal dalam sebuah retret politik, berani menyatakan agar lembaga kehakiman Indonesia direformasi. "Dia selalu jujur dengan apa yang diyakininya," ujar Arlene. Pasangan Dan dan Arlene berada di Indonesia pada zaman di mana lembaga pengadilan di Indonesia begitu kuat dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan politik pihak mana pun. >kwS Sampai Maut Memisahkan Selama hampir 50 tahun pasangan Dan-Arlene selalu bersama. Hidup mereka tak selalu mudah, khususnya 10 tahun terakhir ketika kondisi kesehatannya menurun, membuat Arlene harus lebih banyak tinggal di rumah. Sementara Dan harus melanjutkan perjalanannya dan mengunjungi Indonesia sedikitnya setahun sekali agar tidak lepas dari perkembangan politik dan hukum di negeri ini. Ketika Arlene tak bisa lagi ikut, Dan tak pernah tinggal lama di Indonesia. Ia selalu ingin cepat tiba di rumah agar bisa menemani istrinya. Kepercayaan Arlene yang besar kepada Dan-lah yang membuat tekadnya bulat ketika memutuskan menikah dan mencintai suaminya dalam susah dan senang, seumur hidup. "Kami berdua berasal dari keluarga yang tradisional," tutur Arlene. Untuk pilihannya itu, Arlene rela melepaskan beasiswa yang sudah digenggamnya dari Universitas California di Berkeley, tempat Dan kemudian mengajar sebelum pindah ke UW yang lebih liberal dan tak mempersoalkan sikap Dan yang menentang perang Vietnam serta serangkaian kebijakan Pemerintah AS terhadap negara berkembang. "Saya belum pernah melihat orang yang saling jatuh cinta sampai seperti itu," kenang Yus Kayam. Pasangan muda Yus-Umar Kayam kemudian bersahabat dekat dengan Dan dan Arlene. Mereka berjumpa di Cornell tahun 1958. Saat itu Arlene adalah mahasiswa S-1, sementara Dan mahasiswa pascasarjana. "Pancaran mata yang penuh cinta itu saya temukan sampai mereka tua," sambung Yus. Pancaran mata yang penuh cinta itu pula yang tertangkap kalau Arlene menemani Dan berbincang dengan sahabat dan murid-muridnya. Kadang Arlene mengingatkan bagian-bagian dari detail sejarah yang mungkin lupa disinggung Dan Lev. Kelembutan, kecerdasan, dan kepekaan membuat Arlene yang ahli perpustakaan, pelukis, dan menekuni perkembangan seni itu seperti penyeimbang bagi Dan. Padahal, Arlene hampir tak pernah diajak Dan berdiskusi tentang masalah politik. "Saya hanya mendengarkan apa yang diperbincangkan. Kalau tidak tahu, saya tanya," Arlene mengenang. Keikutsertaan Arlene dalam berbagai kegiatan Dan membuatnya mengenal gagasan dan pemikiran sang suami. Arlene mengenal semua teman dan sahabat Dan dan mengingat dengan baik dari sejak awal Dan terlibat intens dengan Indonesia. "Waktu itu ada proyek penelitian tentang Indonesia modern di Cornell yang dipimpin Prof Kahin," Arlene kembali mengenang. Yang terlibat di situ tak hanya mahasiswa Amerika, tetapi juga mahasiswa Indonesia, seperti Soemarsaid Moertono. Juga Herb Feith yang kemudian tinggal di Australia. Mereka bersahabat, juga dalam pemikiran, sampai Herb berpulang tahun 2001. Arlene juga mengenal mahasiswa Indonesia lain yang kemudian menjadi seperti saudara, seperti, "Didie Djajadiningrat, Mas Moertono, dan Mas Selo," katanya. Maksudnya adalah sosiolog Selo Soemardjan (alm). Hidup yang indah Arlene mengikuti Dan ke Indonesia sesaat setelah mereka menikah pada tanggal 21 Maret 1958. "Nenek saya sempat khawatir. Ia tanya, 'Kamu mau pergi ke mana?' Saya bilang, 'Jangan khawatir, Nek. Di Indonesia semua (makanan) halal.'" Mereka berangkat ke Jakarta dengan menumpang kapal barang Denmark. Lamanya hampir 30 hari. Itulah bulan madu mereka. Selama perjalanan, Arlene, yang tertarik pada gerakan feminisme liberal, membaca buku Simone de Beauvoir, The Second Sex, yang dikatakannya, "Membukakan mata pada banyak hal menyangkut ketertindasan perempuan." Pasangan itu menetap di Indonesia selama tiga tahun. Mr Besar Martokoesoemo menganggap mereka sebagai anak-anaknya. Pun sebaliknya. Pulang ke Indonesia berarti menengok orangtua, sampai Mr Besar berpulang pada tahun 1980. "Pak Besar memberi jalan bagi Dan untuk bertemu tokoh-tokoh penting waktu itu," kenang Arlene. Dia sempat belajar melukis dan belajar menikmati gamelan yang cara menikmatinya berbeda daripada musik simfoni Barat. "Seperti mendengarkan suara hujan di atas genting," tuturnya. Pasangan itu kembali tinggal di Indonesia selama setahun pada tahun 1970. Meski diselingi pertengkaran-pertengkaran kecil dalam kehidupan perkawinan mereka, Dan-Arlene saling mencintai dengan cara-cara yang sederhana. Ketika merenovasi rumah mereka, misalnya, semua peralatan dapur dibuat agar Arlene yang tingginya sekitar 150 cm mudah mengoperasikannya. Padahal, Dan yang tingginya sekitar 170 cm itu lebih suka memasak dibandingkan dengan sang istri. Sangat dimengerti kepergian Dan membuat Arlene limbung. Kuas lukisnya dibiarkan menganggur hampir setahun. "Ketika pemilik galeri menanyakan kapan saya berkarya lagi, saya tidak bisa menjawab." Sekarang, rumah itu ia huni sendiri. "Saya masih suka bicara dengan Dan," bisiknya. Saat ini Arlene merasa sedang menapaki bagian ujung perjalanannya. Dalam perbincangan yang lebih intim ia sempat menguraikan perasaannya yang galau justru karena merasa telah dilimpahi kehidupan begitu indah, persahabatan yang tak lekang waktu dan cinta yang abadi. Sejarah tak mencatat peran Arlene, tetapi sejarah kecil seperti ini membuat kita memahami peran perempuan dalam kehidupan banyak orang besar. (MH/NMP) ------- Tentang Arlene S Lev Nama: Arlene S Lev Tempat/tanggal lahir: New York, 1 Mei 1937 Suami: Prof Daniel S Lev (alm) Anak: Claire dan Loui Cucu: 4 orang --------------------------------- Luggage? GPS? Comic books? Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search. [Non-text portions of this message have been removed]
