Prof Manneke,

Pak Ariel sudah bergabung dengan kita.

Salam,
AH

--- In [email protected], manneke budiman
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Arile bilang bahwa karakter manusia Indonesia sudah ALAMIAH dan
MEMANG BEGITU ADANYA? Wah wah wah, lha baca tulisan aja keliru kok.
Kalo memang itu pendapat Ariel, ngapain dia repot-repot menjelaskan
bahwa sebab musababnya adalah milterisme? Bung, kalo baca yang teliti.
Cari apa statement-nya, lalu cari dalam tulisan yang sama pula apa
penyebab dari keadaan itu. Makanya saya bilang, kekerasan di Indonesia
itu oleh Ariel dikaitkan dengan militerisme yang mengagung-agungkan
maskulinisme. Kok, malah Anda bilang bahwa menurut Ariel orang
Indonesia dari sononya sudah begitu? Tobat ampun....perlu ikut Kejar
Paket A nih.
>    
>   Makanya, Anda kecewa ya karena Ariel tak berupaya ngotot bilang
bahwa secara alamiah orang Indonesia begitu adanya? Begitu Ariel
menjelaskan bahwa penyebab kekerasan itu militerisme (bukan sifat
bawaan), si Andi kecele.
>    
>   Gampangnya gini aja: kalo perkosaan Mei betul-betul terjadi, maka
adanya perkosaan terhadap perempuan yang dilakukan secara
beramai-ramai di tempat umum (jalanan, dsb), maka berarti pernyataan
Ariel tak keliru: kekerasan terhadap perempuan tampaknya sudah menjadi
'norma' di negeri ini, dan tak lagi dianggap sebagai kebiadaban.
Kecuali, tentu saja, jika Anda diem-diem mau mengatakan bahwa
perkosaan mei cuma fiktif belaka dan tak ada perempuan yang diperkosa
secara massal.
>    
>   Pengertian Ariel bahwa masyarakat Indonesia kian memandang normal
kekerasan terhadap perempuan datangnya dari fakta, Bung. Dan hanya
orang yang tak pernah dengar berita, atau baca koran, atau nggak
pernah keluar rumah, atau meman udah mati rasa kemanusiaannya, yang
bisa bilang bahwa itu cuma impian Ariel belaka. Kalo Kompas hampir
tiap hari memuat berita tentang kekerasan terhadap perempuan, apa lalu
Anda mau bilang itu semua kebohongan Kompas belaka? Tapi, saya maklum
kalo Anda memang berpikiran demikian sih, kalo melihat sikap Anda
sejauh ini berkenaan dengan isu-isu perempuan. Yang perlu Anda
jelaskan jika ini memang adalah sikap Anda adalah, apa untungnya buat
Kompas dan para wartawannya bikin berita bohong soal kekerasan
terhadap perempuan?
>    
>   Jadi, tak ada yang luar biasa dari asumsi Ariel. Sebaliknya, hal
itu semestinya udah gamblang di depan mata. Bahwa Ariel lalu memakai
subjek "masyarakat Indonesia", ini tak salah-salah amat. Karena apa?
Karena kita "merestui" semua tindak kekerasan itu dengan berdiam diri
atau, bahkan, dengan bersikap seperti Anda ini. Anda, Bung Andi,
adalah wujud nyata dari fakta yang disebutkan Ariel itu. Nggak
ngerasa, ya? Intinya, kalo sampai tindak perkosaan jadi tontonan
dan,parahnya lagi, kemudian disangkali secara sistemik dan sistematik,
maka apa yang dikatakan Ariel adalah benar. 
>    
>   Selain itu, gejala kekerasan ini bukannya makin reda, malah kian
hari kian marak. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa orang Indonesia
sudah makin terbiasa menyaksikan kekerasan, bahkan menikmatinya (liat
aja acara-acara tivi yang rating-nya tinggi itu yang jenisnya kaya
apa). Nyawa sangat murah harganya di negeri ini. Atau menurut Anda ini
juga cuma impian kosong belaka? Ke mane aje, Bang?
>    
>   Mengenai penjelasan Ariel atas berbagai peristiwa kekerasan di
tanah air, ya itulah perpsektif dia. Bahwa orang juga bisa menjelaskan
kesemuanya itu disebabkan faktor ekonomi kek, psikologis kek, historis
kek, so what gitu lho? semua penjelasan ini saya sangsikan bahwa akan
saling menafikan satu sama lain. Justru semuanya bisa jadi akan saling
terkait dan mengukuhkan. Istilah "murka maskulin" (tafsir saya)
merujuk pada diambilnya kekerasan sebagai solusi mudah, murah dan
cepat dalam menyelesaikan banyak permasalahan. itu sebabnya, istilah
ini tak boleh dibaca lepas dari militerisme. keduanya saling mengadakan. 
>    
>   Kalo Anda mau melihat dalam institusi mana maskulinisme dibangun
dengan cara paling agresif dan keras, maka jawabnya sudah jelas dengan
sendirinya: dalam institusi militer. Bahwa 'penyakit' ini lalu dengan
cepat menular ke mana-mana, pun faktanya sudah gamblang: di mana-mana
orang demen pake seragam, pake sepatu lars, kopel rim, baret,
bawa-bawa pistol, dsb. Tinggal liat kelakuan petugas Tramtib, kejadian
di IPDN (masih gak ngerti juga ya kaitannya apa kok Ariel
menyebut-nyebut IPDN?), berbagai ormas dan satgas parpol, sampai FPI
dll itu. Liat aja kejadian di jalan-jalan di Jakarta sehari-harinya:
polisi yang nabrak tapi malah ngamuk-ngamuk ama yang ditabrak, tentara
yang nggak mau ngalah di jalan, orang sipil bersenjata yang maen
todong pistol kalo ngerasa tersinggung ama pengguna jalan lainnya.
Semuanya mengandalkan  2 hal: seragam dan senjata.
>    
>   Lha, apa pelakunya yang tercatat selama ini bukannya nyaris
semuanya laki-laki , Bung? Terus, Anda mau bilang tak ada hubungannya
sama maskulinitas, gitu? Gitu aja kok susah amat sih ngertinya?
>    
>   Soal si Occam, Andalah yang salah tafsir si Occam. Argumentasi pun
bisa jadi ajang inequality. Kalo tulisan Ariel di-posting di milis ini
oleh moderator, lalu Anda komentari dengan seenak udel dan salah
kaprah ke mana-mana, sementara Ariel-nya tak ada di milis ini untuk
membela diri atau menjelaskan tulisannya, ya yang terjadi adalah
cuap-cuap kacao-balao seperti yang Anda lakukan itu. Makanya, saya
anjurkan Mas Agus supaya undang Ariel ke FPK agar bisa lebih seimbang.
Comprende? Ati-ati, jangan-jangan Anda yang kena tebas silet si Occam.
>    
>   manneke
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Awalnya Ariel percaya bahwa manusia pada umumnya tidak
akan bisa 
> melakukan pemerkosaan massal dengan ditonton banyak orang; tidak 
> juga manusia yang rasis. Ergo, harusnya penjelasan peristiwa ini 
> bukan pada karakter manusianya karena manusia normalnya tidak 
> begitu. Sayangnya tulisannya tidak mengarah ke situ. Beliau malah 
> balik mengatakan bahwa karakter manusia Indonesia memang begitu 
> adanya. Kasarnya perkosaan massal itu wajar belaka untuk ukuran 
> kita, karena masyarakat Indonesia sudah parah dalam "seksisme anti 
> perempuan" sehingga kita sebagai masyarakat bisa 
> melakukan "pemerkosaan massal ditonton khalayak bersorak sorai".
> 
> Ada dua hal yang tidak kokoh tegaknya di situ: peristiwanya sendiri 
> dan penjelasannya. Benarkah kita sebagai masyarakat, secara alamiah, 
> sanggup melakukan itu? Ingat, kita sedang bicara masyarakat 
> Indonesia; bukan Laskar Jihad atau Kopassus atau preman Tanah Abang; 
> komunitas khusus dengan nilai moralnya sendiri. Ariel langsung 
> memvonis: ya, sanggup; sembari menyodorkan spekulasi bahwa semua itu 
> terjadi karena masyarakat kita yang makin maskulin. Maskulin dalam 
> pengertian beliau adalah suka kekerasan dan anti-perempuan. Entah 
> darimana datangnya pengertian ini. 
> 
> Jadi penulis berangkat dari asumsi luar biasa ini. Kemudian asumsi 
> itu dijelaskan dengan spekulasi soal maskulinitas (yang 
> didefinisikan sendiri). Kalau pendapat punya kaki, kaki pendapat ini 
> adanya di awang-awang, Pak. Namun berhubung pendapat Ariel sejalan 
> dengan pandangan politik Anda, maka secepat kilat Anda mengamini 
> tanpa memeriksa kokoh tidaknya argumennya.
> 
> Namun sampai di situ saya masih bisa memahami upaya Ariel 
> menjelaskan peristiwa 1998 yang membingungkan banyak orang itu. Tapi 
> parahnya, argumen yang sudah goyah ini kemudian dijadikan kuas besar 
> untuk mewarnai semua peristiwa kelam di tanah air: mulai dari 
> peristiwa 1965, petrus, kekerasan di IPDN, sampai KDRT. Semuanya 
> pukul rata: murka maskulin. Padahal, kembali lagi, setiap peristiwa 
> itu ada penjelasannya sendiri yang masuk akal dan lebih membantu 
> dalam menyelesaikan masalah. 
> 
> All things being equal dalam Occam's Razor tidak berkonotasi seperti 
> kata Anda itu (silakan di-Google, Pak; biar tidak katro). Being 
> equal artinya semua argumen harus beroleh kesempatan yang sama dalam 
> mengajukan bukti sebelum dibandingkan. Penjelasan yang sederhana 
> juga dibebani beban bukti yang sama dengan penjelasan yang rumit. 
> Penjelasan ala Ariel ini sudah lama putus disilet oleh si Occam 
> karena lemah di kedua bidang: tidak sederhana dan sukar dibuktikan.
> 
> Andi


Kirim email ke