Tolong sampaikan kepada para pengelola tv swasta kita, apa nggak punya duit
buat menayangkan kejuaran bulutangkis tingkat dunia Piala Sudirman ? Bandingkan
dengan program liga Inggris, liga Italia, liga Spanyol, bahkan F1 atau MotoGP
yang pesertanya pun tak ada yang berasal dari Indonesia tapi bisa “berkorban”
ratusan juta sampai milyaran rupiah untuk sebuah hak eksklusif.
Nongolnya justru di tv kabel, seolah tayangan bulutangkis adalah sesuatu
tontonan kebanggaan yang musti diperoleh dengan cara bayar berlangganan. Btw,
pertandingan antara Indonesia vs Inggris, sayang bukan di urusan sepakbola.
Beralih topik, ada fenomena menarik soal pilkada. Kalau di US, para kandidat
presidennya lagi sibuk menghimpun dana sumbangan dari simpatisan dan pendukung,
beda ama di Jakarta justru para calon gubernur udah yang mesti “setor upeti” ke
parpol biar dapat suara parpol.
Entah apakah ini karena dianggapnya jabatan gubernur adalah suatu investasi,
“menanam” simpati dulu terus sesudah berkuasa baru mengeruk keuntungan lebih
dalam lagi. Nyaris mustahil sekarang ini mencari sosok pemimpin sekaligus
berkarakter pelayan masyarakat. Mereka yang mengaku wakil rakyat pun setali
tiga uang, cuman ribut mikirin nasib sendiri dan golongannya.
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]