justeru sebaliknya: orang kotalah yang ingin selalu on
line, masuk ke dalam berita, terutama mereka yang
ingin selalu dianggap selebriti. bahkan soal selingkuh
saja dibeberkan ke media elektronik. 
sementara itu, mereka yang dituding sebagai teroris,
adalah pilihan hidup mereka, pilihan ideologis. dan
hal itu tidak bisa dikomentari dengan cara
hahahahehehe. 
dan pasti mereka menyadari benar apa media massa itu,
dan bagaimana memilih momentum. tapi pilihan mereka
bukan seperti mereka yang ingin dianggap sebagai
"selebritis". bukankah peristiwa black september
membantai atlit yahudi pada waktu olimpiade di
munchen, jerman, tahun 1970-an awal merupakan pilihan
dalam kitan teater politik, yang kelompk itu menyadari
benar seluruh media akan meliputi mereka. asumsi itu
mereka gunakan lantaran bagi mereka selama ini media
massa yang dikuasai barat khususnya amerika tidak
memperhatikan perjuangan mereka.
jadi, jika kita m,elihat abu dujana dengan tenang
seperti dalam foto di kompas, adalah ketenangan
seorang yang matang dalam pilihan ideologis. setuju
atau tidak, kita harus menerima realitas itu.
halim hd.

--- Tri Handoko Seto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> itu hanya dugaan2 saja mas. yg mengarah ke teori
> konspirasi. tapi coba anda ikuti sidang2 amrozi.
> juga buku yg ditulis imam samudra. saya yakin kok
> mereka benar2 teroris. cuma saja ya seperti komentar
> sampeyan di blog itu: namanya juga teroris
> indonesia. bangga jadi teroris, bahkan ketika sudah
> tertangkap ya cuap2 sekalian. siapa tau bisa jadi
> selebriti. kan lumayan. dikenal orang banyak. karena
> selama ini riwayat mereka adalah orang2 pinggiran yg
> jauh dari hiruk pikuk berita di media. heheee

Kirim email ke