Rekan-Rekan FPK, Akhirnya saya tahu mengapa rekan-rekan anti nuklir begitu menggebu- gebu, rupanya KURANG PAHAM duduk persoalannya.
ENERGI NUKLIR dan PEMANASAN GLOBAL jelas ada hubungannya. Saat ini ENERGI NUKLIR adalah teknologi yang siap (mature) untuk menggantikan energi lain (batubara,minyak bumi,gas) tanpa menyebabkan PEMANASAN GLOBAL. Semua bentuk energi punya KEUNGGULAN dan KEKURANGAN. Silakan lihat di : http://www.nucleartourist.com/basics/why.htm Saya rasa kita harus sepakat dulu dalam hal ini sebelum kita bicara hal-hal yang lain. Kalau tidak, jadinya Jaka Sembung naik Ojek, Tidak Nyambung Jek... Kalau ada yang keberatan dengan pernyataan saya di atas, mari kita buat jelas/CLEAR dulu masalah ini. Jangan dialihkan ke udang dan bakwan, saya jadi lapar nih :) Btw, saya tidak doyan jengkol :) Kita tidak perlu mengadakan penelitian untuk memprediksi adanya BANYAK PABRIK TUTUP dan PENGANGGURAN. Kita gunakan saja LOGIKA, kalau tarif listrik per Kwh di Indonesia 2000 rupiah, sedangkan tarif listrik per Kwh di Cina dan India 1000 rupiah, apakah produk tekstil kita bisa berkompetisi. Apakah investor tidak lari ke Cina dan India? Pabrik ditinggal lari investor, artinya TUTUP dan karyawan-karyawannya jadi PENGANGGURAN. Kita tidak usah ngomong masalah BIAYA EKONOMI TINGGI, kalau tarif listrik saja kalah bersaing tidak usah bicara yang lain. Btw ini bukan masalah kuncinya, kita fokus saja dulu apakah ENERGI NUKLIR dan PEMANASAN GLOBAL ADA HUBUNGANNYA??? Betul energi nuklir memang ekonomis, malah kompetitif dengan batubara, silakan lihat grafiknya di: http://www.nucleartourist.com/basics/reasons1.htm Di situ malah disebutkan bahwa harga yang kompetitif tersebut sudah termasuk biaya pembuangan waste-nya. Kalau decommissioningnya sudah masuk hitungan untuk harga energi nuklir 4,5 cent dolar per Kwh. Selengkapnya lihat di : http://www.batan.go.id/tmp_news.php?id_berita=47&db_tbl=Berita Saya tidak pernah bicara akan menghancurkan hutan apalagi masalah pulau kecil. Saudara Yaya saja yang kelihatanya melantur ke mana- mana. Kebanyakan jengkol kali? :) Kalau masalah KRISIS LISTRIK coba dilihat dulu di: http://www.pelangi.or.id/othernews.php?nid=2922 Bahkan sudah ada yang merencanakan boikot pembayaran listrik, lihat di: http://www.kompas.com/ver1/Nusantara/0706/18/210657.htm Btw, teori konspirasi PLN Saudara Yaya sebaiknya ditunjukkan dulu sumbernya, kalau tidak bisa, hati-hati, bisa dianggap fitnah... Kalau di Pakistan, pemadaman listrik sudah begitu parah sampai terjadi kerusuhan, silakan lihat di : http://www.dailytimes.com.pk/default.asp?page=2007%5C06%5C14% 5Cstory_14-6-2007_pg12_2 Tapi saya berterima kasih sekali atas informasi link GNEP http://www.gnep.energy.gov/gnepProgram.html Link di atas menunjukkan bahwa salah satu keuntungan dari GNEP adalah MEMUNGKINKAN NEGARA-NEGARA BERKEMBANG MENGGUNAKAN ENERGI NUKLIR UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI SECARA AMAN. Berarti tahun 2016 jauh lebih aman lagi alias RESIKO lebih kecil lagi. SETUJU bahwa energi terbarukan diberi peningkatan peran apalagi yang berkaitan dengan bahan bakar kendaraan bermotor. Bukan berarti bisa menggantikan PLTN karena areanya beda. PLTN ada di area Pembangkit Listrik, kalau renewable cocoknya di bahan bakar kendaraan bermotor (seperti minyak jarak) kecuali ada terobosan (breakthrough) di masa yang akan datang (kita tidak tahu kapan). Masih ada TANYA KENAPA lainnya? Sebelum reply, sebaiknya baca dulu hal-hal berikut untuk meningkatkan pemahaman rekan-rekan mengenai ENERGI NUKLIR dan PEMANASAN GLOBAL: 1) http://www.nucleartourist.com/basics/why.htm 2) http://www.pelangi.or.id/pub.php?pid=12 Setelah membaca materi di atas, niscaya tidak bakal mabuk jengkol :) Make up your mind, lets get some things done. Best Regards, Rudyanto --- In [email protected], "Nur Hidayati (Yaya)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Beginilah kalau salah mengajukan pertanyaan...maka akan salah juga jawabannya. > > Pertanyaannya bukan pilih mana antara ENERGI NUKLIR atau PEMANASAN > GLOBAL, karena itu sama sekali nggak ada hubungannya. Dua hal ini > seolah-olah atau dibuat menjadi ada hubungannya karena ada udang di > balik bakwan (baca: ada proyek dibalik krisis iklim). > > Saya sering mengibaratkan "solusi" semacam itu seperti "ingin > menghilangkan bau jengkol dengan makan petai". > > Apakah Pak Rudyanto sudah melakukan penelitian atau bisa menyebutkan > hasil penelitian yang menyebutkan bahwa BANYAK PABRIK TUTUP dan > PENGANGGURAN diakibatkan oleh krisis listrik? Ataukah memang strategi > pembangunan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah yang gagal > total? Bukankah itu jadi seperti ingin melakukan simpilfikasi terhadap > masalah yang sedemikian kompleksnya? Atau pembodohan mungkin? > > Apakah iya, energi nuklir lebih ekonomis secara jangka panjang > dibandingkan dengan teknologi ramah lingkungan? (saya menghapus kata > 'lainnya' dari tulisan Pak Rudyanto karena saya tidak menganggap bahwa > nuklir merupakan energi yg ramah lingkungan). Bagaimana dengan > soal-soal decommissioning (penutupan dan pembongkaran reaktor) setelah > masa operasi PLTN yang rata-rata cuma 40 tahun itu? Siapa yang harus > menanggung biayanya? > > Yang aneh lagi, kok ya cara berpikir Bapak jadi kayak Wapres kita yang > bilang, hancurin aja hutan Indonesia...daripada dihancurin orang lain? > Atau kayak MenESDM kita beberapa tahun lalu yang bilang, mendingan > pulau2 kecil kita ditambang aja, toh daripada nanti tenggelam juga? > > Kalau cara berpikir para pejabat dan kalangan menengah terpelajar > (saya berasumsi Bapak merupakan kalangan menengah terpelajar) seperti > ini, bisa gawat nih warga bangsa ini... > > Memang tidak ada panasea untuk semua hal, apalagi hal-hal yg kompleks > seperti soal2 yg terkait dengan pembangunan di Indonesia. Tapi coba > lah dicek dulu, apa iya telah terjadi krisis listrik? Kalau iya, > dimana saja itu? Berapa besar gap-nya? Jangan2 PLN melakukan pemadaman > supaya ada alasan bagi entah siapa untuk membangun pembangkit > baru...biasa lah, ada proyek berarti ada "bakwan dan udang" (bukan > rahasia lagi). > > Lalu soal energi terbarukan, sudah saatnya Indonesia mulai berpikir > secara serius ke arah situ. Kita harusnya melakukan leap-frog, > bukannya mengekor dan membebek negara-negara lain yang pada intinya > cuma mau jualan teknologi. Btw, GNEP itu juga bertujuan untuk > 'melakukan ekspansi teknologi nuklir' alias dagang teknologi. (silakan > lihat: http://www.gnep.energy.gov). > > Selama pemerintah masih kasih insentif gede-gedean untuk teknologi > fosil, ya susah lah bagi energi terbarukan untuk bisa bermain di > playing field yang sama. Lagi-lagi musti ada afirmatif action yang > konkrit dari pemerintah. Saya kira di BPPT dan universitas2 bejibun > tuh ahli-ahli teknologi renewable, iya nggak? > > Salam, > Yaya >
