Oleh Maria Hartiningsih http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/01/keluarga/3645187.htm ===================
Apakah seorang anak yang tidak naik kelas adalah anak yang bodoh? Kalaupun dianggap tidak memenuhi "standar" yang ditentukan suatu lembaga pendidikan agar anak naik kelas, apakah anak layak diperlakukan sebagai pecundang? Ini kisah Bianca. Usianya 13 tahun. Ia baru saja "divonis" tidak naik ke kelas II sekolah menengah pertama sebuah sekolah ternama di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Beberapa hari setelah pengumuman, Ratna, seorang psikolog, ibu dari Bianca, memberi banyak waktu untuk berdua saja dengan anak sulungnya itu. Ia bertekad membantu menyembuhkan luka-luka batin sang anak. Ibu tiga anak itu tidak lupa detik-detik Bianca dinyatakan tidak naik kelas. Pagi itu, setelah upacara ritual keagamaan, kepala sekolah menekankan di depan semua orangtua murid, kalau sampai anak tidak naik kelas itu adalah masalah "siapa dia", bukan karena faktor lain. Guru, menurut Ratna, tidak menjelaskan apa pun kepada orangtua yang anaknya tidak naik kelas. Tugas itu diambil alih guru BP (Bimbingan dan Penyuluhan) yang berkomentar, "Bianca cuek sih ", serta guru matematika yang meminta Ratna dan suaminya menandatangani surat pernyataan pengunduran diri Bianca, sesuai pernyataan yang mereka tanda tangani ketika Bianca diterima. Bayangan ketika Bianca akhirnya tahu ia tidak naik kelas tak pernah lepas dari benak Ratna. "Ia meraung di lorong sekolah di sela suara yang tercekat. Pedih sekali rasanya. Anak saya terluka, saya tak bisa menolong, kecuali memeluknya erat-erat ." Proses untuk tiba kepada hasil akhir "tidak naik kelas" itu sebenarnya bisa dideteksi. Bukan proses pendidikan, melainkan proses penghakimannya. Suatu hari, menjelang acara pentas di mana Bianca ikut, kepala sekolah memanggil Ratna dengan lambaian tangan dan mengatakan, "Coba dipikir apa Bianca bisa memenuhi standar sekolah ini." Ratna diberi informasi nama sekolah yang standarnya "lebih rendah" dan dianggap lebih cocok untuk Bianca. Enam bulan di kelas I SMP, oleh guru kelasnya Bianca dipaksa mengaku telah merusak kacamata teman sekelasnya. Ketika akhirnya ketahuan siapa pelaku sebenarnya, Bianca kembali dimarahi karena ia mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan. "Saya terkejut dengan sikap guru kelas. Bukankah dia figur otoritas dan anak saya dalam kondisi inferior yang dia paksa mengaku?" ujar Ratna. Bianca diterima di SMP itu sebagai siswa cadangan. Ketika akhirnya diterima, pada hari pertama kepala sekolah menegurnya, "'Oooo ... ini anak yang kecil-kecil sudah pacaran. Kamu genit ya . Ibu kasih tahu ya, laki-laki yang baik hanya akan memilih wanita baik-baik.' Saya melihat pandangan mata Bianca yang marah, tetapi dia diam." Bianca, kata Ratna, tidak bodoh. Meski nilai matematikanya rendah, ia memiliki kekuatan di bidang seni dan bidang-bidang lain. Namun, anak yang dari kecil sangat peka pada penderitaan orang lain itu tumbuh menjadi anak yang peka kritik, kehilangan empati, sangat takut melanggar aturan sekolah, sampai menjadi agresif. Bullying oleh teman-temannya waktu ia di sekolah dasar yang samadan luput dari perhatian gurubisa jadi membalikkan tingkah lakunya yang santun. Saat ini Bianca menunggu hasil tes di sebuah sekolah internasional di kawasan Jakarta Selatan yang diyakini Ratna memperlakukan peserta didik secara lebih setara. Dengan cinta Kasus Wahyu (8) sedikit berbeda. Tahun lalu, ia tidak naik ke kelas II SD. "Kami memindahkan Wahyu ke sekolah yang lebih dekat rumah. Ternyata di situ pun tetap berat buat dia," ujar Wisnu Prayudha, sang ayah. Wisnu pernah diajak sekelompok orangtua yang anaknya juga tidak naik kelas untuk datang ke guru kelas dan memberi sesuatu agar anaknya naik. "Saya marah. Bagi saya ini adalah bagian dari proses anak, meskipun tidak naik kelas dapat mengganggu perkembangannya." Wisnu tetap optimistis kepada Wahyu. "IQ-nya di atas 105," ujarnya. "Ia cuma butuh perhatian. Saya kira itu tuntutan bawah sadar anak yang tidak dikehendaki," sambungnya. Wahyu diadopsi dari sebuah yayasan di Yogyakarta ketika anak itu berusia lima tahun. "Kata ibu ketua yayasan, ia ditemukan di tempat sampah. Anak itu sudah dianggap meninggal di rumah sakit sehingga jarum infusnya dicabut. Saat diangkat dan dipeluk oleh ibu dari yayasan itu, tiba-tiba ia menangis keras-keras. Istri saya jatuh cinta kepada Wahyu pada pandangan pertama." Wisnu tidak mau mengukur kecerdasan anak hanya dari kecerdasan intelektualnya. "Anak memiliki kecerdasan ganda," ujar Wisnu. Ia meyakini, setiap anak istimewa. "Saya percaya, setiap anak punya nilai dan maksud untuk apa ia hadir di dunia ini. Kalau anak diabaikan karena ia dianggap 'bodoh' atau nakal, tidak memenuhi 'standar' yang dibuat entah oleh siapa, artinya kita mengabaikan keistimewaan itu," kata Wisnu.
