Duh Mbak Reni yang ilmuwan,

Saya setuju banget dengan pendapat Mbak Reni,
seperti kebanyakan pendapat2 dalam posting Mbak Reni 
di milis ini..[ saya hidden admirernya Bu Reni lho ..]

Kayaknya saya nggak menulis untuk mengabaikan soal 
agama dan ajarannya , bukan kelas saya sih ...
Yg saya keluhkan, bagaimana penghargaan bagi yg scientist
rieel, konkrit sungguh sangat timpang dibanding pada 
yg jago debat, bicara yg abstrak terus sampai bingung 
mencari solusinya .
Yg berani teriak2 , vokal, ngancam dlst [ nggak bicara
target mereka ..] itulah yg dapat perhatian kadang2 
nggak terbatas [ baca: biaya, kedudukan, kesuksesan dll ]
Makanya kita bingung soal penyelesaian Sidolumpur 
[saya nggak menyebut lumpur lapindo ] soal boikot EU
thd maskapai penerbangan kita dll yg buat saya merupakan 
akumulasi dari hasil policy pemimpin2 bangsa kita selama ini...

Salam , martin - jkt



----- Original Message ----
From: reni renata <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, July 2, 2007 10:35:01 AM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Nanoteknologi, Peluang Kita









  


    
            Martin :

Perhatian yg terlalu ekstra bagi politisi2 yg cuma

suka 

atau pintar ngeyel debat kusir juga bagi yg sok agamis

mestinya bisa dibatasi, hingga kita bisa benar2 men

dahulukan yg rieel dibutuhkan untuk kesejahteraan 

bangsa .



Reni

Dunia ini bukan hanya  rieel, pak Martin, juga ada

yang ghaib yang tidak bisa dijawab oleh logika.

Adanya langit apakah itu rieel? Bagaimana ilmu

menjangkau nya? Agama dapat menjawab yang non logika.

jangan dicampur adukan antara agamis dan kemajuan

teknologi.

Kita boleh mengembangkan ilmu tak terbatas tapi tetap

saja akan menjumpai keterbatasan. Seperti contohnya,

peruraian bahan polimer oleh mikroorganisme, sangat

terbatas oleh karena kemampuan mikroorganisme

menguraikan polimer yang rantai molekulnya sangat

panjang memerlukan enzim yang tidak semuanya dipunyai

oleh mikroorganisme. Sehingga dalam memproduksi

polimer juga harus dipertimbangkan bagaimana kelak

kalau polimer ini sudah menjadi limbah yang tentu saja

di buang ke alam.

Alangkah baiknya kita juga berfikir akan keterbatasan

alam untuk menghindari bahaya kemajuan teknologi.

Salam

Bu Reni

Kirim email ke