*Orang Nomer Satu *
Iringan mobil sedan berhenti di depan Gedung Kepresidenan. Sepasang
sepatu mengkilap menyeruak dari pintu mobil. Langkahnya sangat terburu-buru.
Jarak antara pintu utama dengan ruang depan terasa jauh sekali. Andre
seolah-olah merasa berlari puluhan kilometer untuk mencapai pintu bergaya *
gothic* itu. Di langkah terakhir, sebelumnya tangannya mencapai grendel,
bayangan di sebelah pintu menghentikannya.
"Maaf, Bapak sedang melakukan pembicaraan internasional," ujar si
empunya suara. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar dibalut safari lengan
pendek hampir menutup satu sisi daun pintu. Tubuh Andre terhenti mendadak,
kemeja batiknya bergoyang lirih.
Andre mengatur nafas. Keliatan tenang dari luar, tapi jantungnya tetap
berdetak kencang. Sebagai juru bicara kepresidenan dia harusnya bisa leluasa
bertemu orang nomer satu. Tapi terkadang aturan protokoler mengharuskan
lain. Tapi sebenarnya semua tergantung mood si "Bapak".
Andre masih ingat permbicaraan di mobil tadi. Bikin tubuhnya sentak
tak nyaman. Gerah di tengah udara di dalam sedan mewah yang dingin.
"Bapak harus tahu malam ini juga, sebelum beritanya muncul di koran
besok pagi. Kamu harus kasi tahu Bapak," ujar Ahmad, Sekretaris
Kepresidenan. Sial. Giliran yang pahit dan tak enak, *gue* yang dirusuh.
Kalau berita bagus, dia yang langsung telepon. Yang menambah kesal, orang
ini selalu memanggil dirinya dengan kamu. Yang artinya lebih merendahkan
daripada bernada keakraban.
Andre memutar lengannya. Hampir pukul 24, batas terakhir Presiden
boleh membicarakan urusan kantor. Kalau tidak *urgent*, dia sudah
ongkang-ongkang kaki di ruangan kerjanya menunggu panggilan. Tadi katanya
bisa langsung bertemu, sungutnya dalam hati. Kesal. Ah, tapi dia tidak bisa
menyalahkan kepala urusan rumah tanggal kepresidanan.
Pintu terbuka setengah. "Silahkan, Pak," ujar staf protokoler yang
cukup ramah. Dia meminta Andre mengikutinya. Andre mengambil posisi duduk
yang ditunjuk staf tadi. Jaraknya sekitar 5 meter dari meja besar di tengah
ruangan. Dia sibuk mengatur duduk senyaman mungkin. Detik berikutnya pintu
samping yang lebih besar bergerak.
Presiden berjalan menelusuri dua buah kursi besar, lalu meraih bibir
meja. Dia menghentakkan tubuhnya yang besar ke dalam selongsong kursi paling
lebar di ruangan itu. Wajahnya agak suram, tapi warna piyama yang cerah
berhasil menutupi kesuramannya.
"Ada yang harus Bapak Presiden ketahui....," suara Andre memecahkan
beberapa detik keheningan.
"Soal interpelasi, saya sudah tahu itu," suaranya berkali-kali lipat
lebih bertenaga dibanding lawan bicaranya. "Anak-anak itu maunya apa.
Persoalan ini kok keluar dari substansinya. Yang perlu didiskusikan
bagaimana resolusi PBB keluar, bukan persoalan saya datang atau tidak, "
ujar Presiden serius.
Andre masih ingat ketika pertama kali orang nomer satu di negeri ini
menyebut para anggota dewan sebagai "anak-anak". Dia selalu berdoa ucapan
itu tidak terlalu sering keluar dari mulut bosnya. Bukan apa-apa, kalau ada
pernyataan kontroversial, dia juga yang sibuk meyakinkan banyak pihak.
Untungnya cuma dalam pembicaraan dengan beberapa orang di sekitar istana,
termasuk dirinya.
"Mereka mulai gusar, Pak" kata Andre. Dia sangat hati-hati memilih
kata.
"Marah maksud kamu? Saya sudah lupa kapan terakhir kali anak-anak itu
tidak gampang marah. Semakin dekat pemilu, semakin sering mereka marah.
Waktu yang mereka punya semakin sedikit," potong Presiden.
"Maksud Bapak?"
"Beberapa dari mereka akan berubah hidupnya setelah pemilu," jawab
Presiden pendek. Andre masih tidak puas dengan jawaban itu, tapi tak pernah
terpikirkan untuk bertanya lebih jauh.
"Apakah saya perlu menghubungi beberapa koran malam ini, Pak, sebelum
turun cetak," tanyanya. Menanti jawaban dari pertanyaan itu membuat
duduknya tidak selesa. Gusar. Yang membuatnya lebih kuatir, untuk beberapa
kasus, urusan seperti ini tidak perlu ditanyakan langsung. Cukup
berinisiatif. Gunakan daya pikirmu.
Presiden berdiri. "Untuk apa? Biarkan saja mereka memuat ucapan
anak-anak tadi siang. Kalau setiap ada kasus seperti harus menelepon koran,
ditertawakan kita nanti. Saya juga ingin tahu sekeras apa ucapan mereka."
Sampai detik itu Andre merasa tugasnya sudah selesai. Tidak ada beban
yang dibawanya pulang. Dia mengatur posisi tubuh untuk permisi. Tapi
Presiden justru berjalan mendekatinya.
Dulu mereka pernah sangat dekat. Seakrab dua mahasiswa perantauan. Di
tengah keakraban itu pula terbersit tawaran jadi juru bicara kalau menang
Pemilu. Mereka sama-sama dicalonkan dua partai yang perbedaan jumlah
massanya ibarat bumi dan langit. Peluangnya memang lebih besar dibanding
Andre.
Andre menerima tawaran itu. Dia meliatnya sebagai petualangan, bukan
peluang mencari uang. Kapan lagi bisa meliat langsung cara kerja pengambilan
keputusan di istana. Bukan cuma meliat dan merasakan, tapi dia juga
dilibatkan. Pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Lagi pula, profesi
pengajar masih bisa diteruskannya ketika tua nanti.
Dulu mereka saling memanggil nama. Ssering pula menanyakan kabar
keluarga masing-masing. Semua berubah ketika angka-angka polling memihak
namanya. Banyak yang ingin mendekat. Lebih banyak lagi yang meminta waktu
untuk bertemu. Mulai dari pengusaha, birokrat, para profesional, tokoh
masyarakat, LSM, sampai penyanyi dangdut.
Lama kelamaan mereka semakin berjarak. Andre lupa persisnya kapan,
yang pasti dia sudah jadi anak buah dan cuma staf di Istana Kepresidenan.
Begitu banyak bos yang harus disupai. Sangat sulit mencari waktu untuk
bicara dari hati ke hati. Jarang ada berbicara di luar jadual protokoler.
Presiden duduk persis di depannya. "Saya ingin kamu mengatur sesuatu
malam ini. Masalah kecil, tapi sebaiknya tidak banyak yang tahu. Soal Bagus.
Tadi dia nelpon ibunya. Dia mulai merasa bosan di sana." ujar Presiden.
Statusnya sulit dibedakan ketika itu. Apakah seorang kepala negara, bapak
yang peduli dengan anaknya, atau seorang suami yang takut istri.
Bagus, putra kedua Presiden, yang baru setahun lulus akademi militer
angkatan darat. Saat ini dia sedang berada di luar negeri. Dia salah satu
prajurit yang diutus ke daerah konflik berada di bawah bendera PBB. Sejak
awal Andre merasa kurang sreg dengan keikutasertaan Bagus. Sangat berbau
politis, tidak tepat ditunjukkan di masa awal kepemimpinan Presiden.
Andre ingat waktu dia dipanggil ke Istana secara mendadak. Di sana
udah hadir Presiden dan Ibu Negara, Panglima Angkatan Bersenjata, Menteri
Luar Negeri, Komandan Pasukan Khusus, dan Sekretaris Negara. Dia datang
paling belakangan, meski orang terakhir masuk ruangan adalah Bagus, sang
putra orang nomer satu. Semua berpakaian resmi, kecuali Bagus yang
mengenakan kasual biasa.
Andre satu-satunya orang sipil laki-laki. Tapi tidak ada nuansa
militer di ruangan itu. Bagus keliatan malas-malasan di depan komandan
teetingginya. Presiden tertawa-tawa lepas bersama para petinggi militer.
Semua mengambil posisi ketika petugas protokoler Istana membisiki
Presiden. Andre memberi hormat pada Presiden dengan menundukkan kepala.
Entah kenapa dia selalu tidak nyaman jika di sekitarnya ada yang pakai
seragam militer.
"Terima kasih, semuanya sudah datang. Kita diundang Bapak Presiden.
Beliau ingin menyampaikan sesuatu. Silahkan, Pak Presiden," ujar Sekretaris
Negara sambil tersenyum. Jangan pernah tertipu dengan senyumannya. Orang ini
sangat sulit ditebak. Dia bisa jadi orang yang sangat kita benci dan
melakukan apa saja untuk posisi yang diincarnya.
Presiden berdiri. "Saya baru ditelpon Sekretaris Jenderal PBB. Dia
meminta pasukan kita diberangkatkan dalam waktu 48 jam. Saya setuju. Saya
ingin tahu persiapan masing-masing tim," tanya Presiden.
Setiap orang memberi penjelasan atau laporan. Presiden tidak banyak
bertanya. Sesekali berbincang dengan Ibu Negara. Apa yang mereka bicarakan
sepertinya tidak berhubungan dengan laporan masing-masing tim.
Lamunan Andre dibuyarkan suara pintu. Sososk gemuk tapi berisi Ibu
Negara perlahan keliatan.
"Apakah Bagus ingin pulang, Pak," tanya Andre.
"Bukan, dia ingin pergi ke suatu tempat untuk relaksasi...." ujar
Presiden yang dipotong oleh suara lain.
"Paris. Dia ingin ke Paris selama seminggu," suara lembut tapi bernada
perintah itu keluar dari balik pintu. Tubuh Ibu Negara yang gemuk tapi masih
keliatan sisa-sisa keindahannya keluar dari pintu samping. Andre berdiri
memberi hormat. Ibu Negara terus berjalan menuju meja Presiden.
"Baik, Bu. Saya akan bicara dengan pimpinan pasukan kita di sana."
"Tidak boleh ada yang tau, tidak juga pimpinan di sana. Orang di sini
taunya Bagus tetap bertugas. Kamu siapkan satu orang prajurit menggantikan
dia selama tidak di tempat, " ujar Ibu Negara. Wajahnya sangat serius. Dia
tidak main-main dengan masalah ini. Andre bisa membayangkan percakapan Bagus
dan Ibu Negara, antara ibu dan anak, di telpon tadi.
Tiba-tiba kepala Andre pusing. Terlalu banyak nama yang berseliweran
di kepalanya. Nama-nama yang harus ditelpon untuk memuluskan rencana ini.
Jendral A, staf departemen luar negeri, petugas di bandara, si anu, si
anu....
"Satu lagi, ini jadi sampai keluar. Termasuk istrinya tidak boleh tau.
Selama di Paris dia tidak mau diganggu." ujar wanita yang kalau di tivi
ucapannya sangat lembut.
Tidak lama, Ibu Negara menghilang dibalik pintu. Dia pergi
meninggalkan berbagai pertanyaan yang berserakan di ruangan itu. Presiden
cuma diam. Beberapa detik kemudian dia juga berdiri. Sebelum melangakah, dia
sempat memegang pundak Andre.
"Saya akan membantu menelpon beberapa orang malam ini. Tapi semuanya
harus beres besok, " kata Presiden sambil meninggalkkannya.
Dengan cepat Andre merapikan tasnya. Tergopoh-gopoh menuju pintu yang
langsung terbuka ditarik seorang staf protokoler. Dia melangkah sangat cepat
menuju depan gerbang istana. Mobil sedan menunggu. Dia kembali merasa gerah
di dalam mobil yang ber-AC sangat dingin itu.
*Jakarta, 22 Juni 2007 *
[EMAIL PROTECTED]
[Non-text portions of this message have been removed]