From: Pembebasan Papua <[EMAIL PROTECTED]>

Komentar:
Setelah 6 Tahun Permbelakuan OTSUS Papua, Dana Otsus yang diterima hanya 1
Trilyun Rupiah? Bagaimana dengan yang dipropagandakan PDI-P sewaktu mereka
melakukan kunjungan ke AS, kata PDI-P, dana Otsus Papua sudah ditingkatkan
menjadi 40 Trilyun Rupiah.

Kenyataan dilapangan membuktikkan lain. Apa komentar anda? Apakah ada
orang-orang PDI-P yang bisa mempertanggungjawabkan omongan mereka?

Dasar PENIPU!

------------------------------
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/06/utama/3664139.htm
------------------------------

*Jumat, 06 Juli 2007 *


   Hindari Pakai "Bintang Kejora"

Barnabas Suebu Akui Ada Kekecewaan Rakyat Papua

Jakarta, Kompas - Keinginan untuk menjadikan bendera "Bintang Kejora"
sebagai simbol kultural Papua, secara psikopolitik, perlu dihindari. Bendera
itu telanjur menjadi simbol gerakan Organisasi Papua Merdeka atau OPM
sehingga usul menjadikannya sebagai simbol kultural justru membuka
terjadinya bias.

Demikian diingatkan mantan Wakil Ketua Panitia Khusus Undang-Undang Otonomi
Khusus Papua Ferry Mursyidan Baldan di Jakarta, Kamis (5/7). Hal ini
disampaikan terkait dengan kemunculan Bintang Kejora dalam Kongres Adat
Papua.

Menurut Ferry, Peraturan Daerah Khusus Provinsi Papua memang bisa mengatur
simbol kultural, sepanjang tidak diposisikan sebagai simbol kedaulatan.
Penentuan corak dan warnanya harus melalui kesepakatan daerah. Pengibarannya
pun dilakukan seperti bendera provinsi atau daerah lain. Ketentuan itu
dinyatakan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 mengenai Otonomi Khusus bagi
Provinsi Papua.

Secara terpisah, mantan anggota Pansus UU Otonomi Khusus Papua RK Sembiring
Meliala menolak jika Bintang Kejora disebut sebagai simbol kultural Papua.
Jika merunut sejarah, bendera itu jelas simbol OPM yang berniat memisahkan
diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
*
Ada kekecewaan rakyat*

Sementara itu, Gubernur Papua Barnabas Suebu mengakui adanya kekecewaan
warga Papua atas pelaksanaan otonomi khusus. Hal itu karena pemanfaatan dana
otonomi khusus dirasakan kurang menyentuh rakyat, terutama di kampung yang
miskin.

Seusai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu anggota Kongres
Amerika Serikat asal Samoa, Eni Faleomavega, di Kantor Presiden, Jakarta,
Kamis, Barnabas menambahkan, otonomi khusus Papua sudah lima tahun berlaku.
Namun, baru tahun ini dana otonomi khusus (otsus) sekitar Rp 1 triliun turun
dan dirasakan rakyat miskin di Papua.

"Mereka kecewa dengan otsus karena dananya tidak diterima," ujarnya. Wujud
kekecewaan itu memang bisa muncul beragam.

Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal menyatakan, Presiden Yudhoyono
menjelaskan kepada Eni Faleomavega tentang kebijakan baru terhadap Papua,
yang menekankan pembangunan sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan,
infrastruktur, dan pemberantasan kemiskinan.

Kesempatan bagi putra daerah diperbesar. Pendanaan bagi pembangunan Papua
juga ditingkatkan untuk mengatasi ketertinggalannya. (dik/har/jon/nwo)

Kirim email ke