----- Forwarded Message ----
From: HRW Asia <[EMAIL PROTECTED]>
To: HRW Asia <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, July 4, 2007 10:09:01 PM
Subject: Indonesia: Police Abuse Endemic in Closed Area of Papua/Pelanggaran  
oleh Polisi Sering Terjadi di Wilayah Tertutup di Papua


For Immediate Release


Indonesia: Police Abuse Endemic in Closed Area of Papua

Government Should Open Central Highlands to Independent Observers

 

(Jakarta, July 5, 2007) – In the Central Highlands of remote Papua province, a 
region closed to outside observers, police appear to be routinely committing 
serious abuses, such as extrajudicial executions, torture and rape, with 
impunity, Human Rights Watch said in a report released today. Endemic police 
abuse is deepening mistrust of the national government in Jakarta and 
potentially inflaming separatist tensions. 

 

The 93-page report, “Out of Sight: Endemic Abuse and Impunity in Papua’s 
Central Highlands,” is the product of more than a year of research. The report 
documents daily abuses by police officers and other security forces in the 
mountainous and isolated Central Highlands area of the Indonesian province of 
Papua, located on the western half of the island of New Guinea. 

 

A key finding of the report is that the police, particularly BRIMOB officers 
(Mobile Brigade police, the elite paramilitary corps used for emergencies), are 
responsible for the most serious rights violations in the region today, 
although some reports of brutal treatment by Indonesian soldiers continue to 
emerge.

 

“Conditions in Papua’s Central Highlands are an important test of how 
Indonesia’s security forces perform when political tensions are high and 
regions are closed to outside observers,” said Joseph Saunders, deputy program 
director at Human Rights Watch. “The police are failing that test badly.”  

 

The new report follows Human Rights Watch’s report in February, “Protest and 
Punishment: Political Prisoners in Papua,” which documented severe restrictions 
on freedom of expression, assembly and association in Papua.  

 

Many of the police abuses documented in the report were particularly cruel. One 
man told Human Rights Watch what happened when 12 BRIMOB officers arrested him 
and some friends for a peaceful independence flag raising: 

 

My teeth fell out. Blood flowed out. I was hit. I was kicked twice and then in 
the stomach twice again. I was kicked in the nose, the mouth and the teeth. 
More kicks were ordered and this was repeated. I could not count the number of 
times. I saw all my friends given the same treatment. Blood was flowing from 
them and they were forbidden from going to the toilet. They ordered us to 
swallow our blood. My nose was bleeding. They ordered us to swallow the blood 
again. I do not know the name of the officer in command. They all punched us, 
taking turns.

 

Another man reported being beaten by the police while witnessing the arrest of 
another person:

 

I was beaten with the end of a gun on my back, and with fists to my face. My 
mouth and eyes were smashed and bleeding. I felt dizzy and fell. Straight away 
I was kicked by five members of the police and BRIMOB. They were all wearing 
complete official uniforms with guns ... I was barely conscious when five 
members of the police took me into the car. As they were taking me, they 
punched me to the back three times with rifle butts and then in the car I was 
beaten with a truncheon.

 

Human Rights Watch wrote to both the head of the police and the head of the 
military in Papua asking for information on all of the cases documented in the 
report, but received no response. 

 

A lack of internal accountability and a poorly functioning justice system mean 
impunity for perpetrators of abuses is the norm in Papua. 

 

“No one is being prosecuted for the crimes we documented,” said Saunders. “The 
police are acting as a law unto themselves.” 

 

The Indonesian provinces of Papua and West Papua are closed to outside human 
rights observers. Journalists have extremely limited access. Many diplomats 
have told Human Rights Watch that they have little understanding of the 
situation in the provinces since there is not much independent reporting on 
conditions there. Reliable information on the remote Central Highlands region 
is even harder to come by. 

 

Human Rights Watch called on the Indonesian government to open the provinces to 
independent observers in order to increase the amount and quality of 
information about conditions there and to allow independent and transparent 
investigations to take place.  

 

“By keeping the region closed to outside scrutiny, officials in Jakarta are 
receiving biased and partial accounts of what is taking place,” said Saunders. 
“Reliable information is essential if officials are genuinely interested in 
identifying problems and finding lasting solutions.”

  

For years, the Central Highlands region has been the site of often tense 
confrontations between Indonesian police and military units and small cells of 
guerrillas from the separatist Free Papua Movement (Organisasi Papua Merdeka, 
or OPM). The pro-independence guerrillas have conducted repeated low-level 
armed attacks against Indonesian security forces, which continue to conduct 
“sweeping” operations in civilian areas, spreading fear and panic and leading 
many villagers to flee their homes. 

 

To view the Human Rights Watch report, “Out of Sight: Endemic Abuse and 
Impunity in Papua’s Central Highlands,” please visit: 

http://hrw.org/reports/2007/papua0707/ 

 

For more information, please contact: 

In Jakarta, Charmain Mohamed (English, Bahasa Indonesia): +44-77-69-893-856 
(mobile)

In Jakarta, Joe Saunders (English, Bahasa Indonesia): +62-813-162-607-92 
(mobile)

In Cambodia, Brad Adams (English): +855-12-341-386

In London, Urmi Shah (English): +44-20-7713-2788

____________________________________________

 

Indonesia: Pelanggaran oleh Polisi Sering Terjadi di Wilayah Tertutup di Papua

Pemerintah Seharusnya Membuka Pegunungan Tengah bagi Pengamat Independen 

 

(Jakarta, 5 Juli 2007) Di Pegunungan Tengah di wilayah terpencil propinsi 
Papua, sebuah wilayah yang tertutup bagi pengamat luar, polisi nampaknya secara 
rutin melakukan pelanggaran HAM, termasuk pelanggaran berat seperti eksekusi di 
luar proses hukum, penyiksaan dan pemerkosaan, dengan impunitas, demikian 
dikatakan Human Rights Watch dalam sebuah laporan yang dikeluarkan hari ini. 
Pelanggaran polisi ini semakin memperdalam ketidakpercayaan terhadap pemerintah 
pusat di Jakarta dan juga potensial memancing ketegangan separatis. 

 

Laporan sepanjang 81 halaman ini berjudul “Out of Sight: Endemic Abuse and 
Impunity in Papua’s Central Highlands” dan merupakan hasil dari sebuah 
penelitian yang berlangsung selama lebih dari setahun. Laporan tersebut 
mendokumentasikan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh petugas polisi 
dan satuan keamanan lainnya di wilayah Pegunungan Tengah yang bergunung dan 
terisolasi. 

 

Temuan kunci dari laporan ini adalah bahwa polisi, terutama pasukan BRIMOB 
(Brigade Mobil, pasukan elit polisi yang digunakan untuk keadaan darurat), 
bertanggung jawab atas terjadinya pelanggaran-pelanggaran hak yang paling berat 
di wilayah tersebut, meskipun masih ada beberapa laporan yang terus bermunculan 
mengenai perlakuan brutal yang di lakukan oleh militer Indonesia.

 

“Kondisi di Pegunungan Tengah Papua merupakan ujian penting untuk melihat 
bagaimana kinerja pasukan keamanan Indonesia pada saat ketegangan politik 
sedang tinggi sementara wilayah tersebut tertutup bagi pengamat luar,” kata 
Joseph Saunders, Deputy Program Director pada Human Rights Watch. “Polisi gagal 
dalam menjalani ujian tadi.”  

 

Laporan baru ini dikeluarkan mengikuti laporan lain dari Human Rights Watch 
pada bulan Februari dengan judul, “Protes dan Hukuman: Tahanan Politik di 
Papua,” yang mendokumentasikan ketatnya pembatasan terhadap kebebasan 
berekspresi, berkumpul dan berserikat di Papua.  

 

Banyak pelanggaran yang dilakukan polisi dalam laporan ini yang merupakan 
kekejaman. Seorang lelaki bercerita kepada Human Rights Watch mengenai apa yang 
terjadi ketika 12 orang anggota BRIMOB menangkap dia dan beberapa orang 
temannya karena melakukan pengibaran bendera kemerdekaan secara damai: 

 

Gigi saya rontok.  Darah mengalir. Saya dipukul. Saya ditendang dua kali dan 
kemudian ditendang di perut dua kali lagi. Saya ditendang di bagian hidung, 
mulut dan gigi. Lalu mereka memerintahkan lebih banyak tendangan dan diulangi 
lagi. Saya tidak bisa menghitung berapa kali. Saya melihat semua teman saya 
juga menerima perlakuan yang sama.  Darah mengalir dari tubuh mereka dan mereka 
dilarang pergi ke toilet.  Kami diperintahkan menelan darah kami. Hidung saya 
juga berdarah. Kami disuruh menelan darah itu lagi. Saya tidak tahu nama 
petugas yang memimpin. Mereka semua memukul kami, bergantian.

 

Seorang lelaki lain melaporkan bahwa ia dipukuli oleh polisi sembari 
menyaksikan penangkapan seorang lainnya:

 

Saya dipukuli di punggung saya dengan memakai ujung senjata, dan di wajah saya 
dengan kepalan tangan.  Mulut dan mata saya hancur dan berdarah. Saya merasa 
pusing dan terjatuh. Langsung saja saya ditendang oleh lima orang anggota 
polisi dan BRIMOB. Mereka semua mengenakan seragam resmi lengkap dengan membawa 
senjata...Saya nyaris tak sadarkan diri ketika lima anggota polisi memasukkan 
saya ke dalam mobil. Ketika mereka mulai membawa saya pergi, mereka menghantam 
punggung saya tiga kali dengan popor senapan dan kemudian di dalam mobil saya 
dipukuli dengan pentungan.

 

Human Rights Watch telah mengirimkan surat kepada pimpinan kepolisian dan 
pimpinan militer di Papua untuk meminta informasi mengenai seluruh kasus yang 
tercatat dalam laporan, tetapi tidak ada tanggapan. 

 

Kurangnya akuntabilitas internal dan buruknya fungsi sistem peradilan yang 
menyebabkan adanya impunitas bagi para pelaku pelanggaran merupakan kebiasaan 
di Papua. 

 

“Hampir semua pelaku kejahatan yang telah kami dokumentasikan tidak pernah 
diajukan ke pengadilan,” kata Saunders. “Para polisi ini bertindak sebagai 
hukum bagi dirinya sendiri.” 

 

Propinsi Papua dan Papua Barat tertutup bagi pengamat hak asasi manusia dari 
luar negeri. Para jurnalis juga memiliki akses yang terbatas. Banyak diplomat 
yang mengatakan kepada Human Rights Watch bahwa mereka hanya sedikit memiliki 
pemahaman mengenai situasi di kedua propinsi tersebut karena tidak banyak 
laporan independen mengenai kondisi di sana. Jauh lebih sulit lagi untuk 
mendapatkan informasi yang dapat dipercaya mengenai wilayah Pegunungan Tengah 
yang terpencil. 

 

Human Rights Watch mendorong pemerintah Indonesia untuk membuka kedua propinsi 
tersebut bagi para pengamat independen demi untuk meningkatkan jumlah dan 
kualitas informasi yang didapat mengenai kondisi di sana dan untuk memungkinkan 
dilakukannya penyelidikan yang independen dan transparan.  

 

“Dengan tetap menutup wilayah tersebut dari pandangan masyarakat luar, pejabat 
berwenang di Jakarta menerima laporan-laporan yang bersifat bias dan memihak  
mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” kata Saunders. “Informasi yang dapat 
dipercaya sangatlah diperlukan apabila para pejabat ini sungguh-sungguh berniat 
mengidentifikasi masalah yang ada dan mencari pemecahan jangka panjang.”

  

Selama bertahun-tahun, wilayah Pegunungan Tengah telah menjadi lokasi 
terjadinya konfrontasi yang seringkali penuh ketegangan antara unit polisi dan 
militer Indonesia dengan kelompok-kelompok kecil gerilyawan yang berasal dari 
gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka atau OPM. Gerilyawan pro-kemerdekaan 
ini melakukan serangan bersenjata tingkat rendah secara berulang terhadap 
pasukan keamanan Indonesia, yang masih terus melakukan operasi “sweeping” di 
wilayah sipil, sehingga menyebarkan rasa takut dan kepanikan dan menyebabkan 
banyak penduduk desa meninggalkan rumah mereka. 

 

For more information, please contact:

In Jakarta, Charmain Mohamed (English, Bahasa Indonesia): +44-77-69-893-856 
(mobile)

In Jakarta, Joe Saunders (English, Bahasa Indonesia): +62-813-162-607-92 
(mobile)

In Cambodia, Brad Adams (English): +855-12-341-386

In London, Urmi Shah (English): +44-20-7713-2788

 

The Human Rights Watch report, “Out of Sight: Endemic Abuse and Impunity in 
Papua’s Central Highlands,” is available in English at: 

http://hrw.org/reports/2007/papua0707/



=====================================================
Pojok Milis Komunitas FPK:

1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke