http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/09/metro/3674115.htm
=======================

Bakau di Angke Rusak

Jakarta, Kompas - Hutan bakau di Taman Wisata Alam Angke Kapuk kini
rusak parah. Dari luas kawasan 99,8 hektar, 90 persen di antaranya
telah menjadi lahan terbuka berupa tambak, sedangkan tegakan bakau
tinggal 10 persen. Proyek reklamasi pantai pun harus menyisihkan 20
persen anggarannya untuk konservasi.

Kondisi hutan bakau yang rusak disaksikan sekitar 1.200 peserta acara
Mangrove Challenge '07 di Angke Kapuk, Jakarta Utara, Minggu (8/7)
pagi. Acara itu diselenggarakan bersama Kompas-Gramedia Cyclist, Orang
Tua, Polygon, McDonald's, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Sonora, dan
B2W Indonesia.

Peserta menanam lebih dari 1.100 anakan bakau, didahului dengan
kegiatan bersepeda sejauh 20 kilometer dari Kantor Kompas-Gramedia di
Palmerah Selatan. Dalam kegiatan yang terajut dalam spirit "Bersepeda
untuk Konservasi Alam" itu, ikut pula Menteri Kehutanan MS Kaban,
Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Darori,
Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, dan artis Olivia Zalianti.
Artis Ikke Nurjana bergabung saat menanam bakau di Angke Kapuk.

Pengelola Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Murniwati Harahap,
menjelaskan, dari luas total taman 99,8 hektar, 90 persen di antaranya
rusak, telah berubah menjadi tambak. Lahan dengan tegakan bakau
tersisa 10 persen.

Pihaknya, ujarnya, sudah menanam anakan bakau pada sebagian lahan
kosong atau rusak. Sebagian lainnya disisakan untuk ditanami para
pencinta lingkungan, antara lain yang dilakukan peserta Mangrove
Challenge.

MS Kaban prihatin atas kian parahnya kerusakan vegetasi hutan pantai,
terutama bakau, termasuk di Angke Kapuk dan sekitarnya di pantai utara
Jakarta. Secara umum dia mengatakan, dari sekitar 9 juta hektar hutan
bakau di Indonesia, 2,5 juta hingga 3,5 juta hektar di antaranya rusak
parah.

Dia juga mengakui reklamasi pantai Jakarta cukup banyak menekan
populasi bakau selain pembukaan tambak rakyat. Khusus pengusaha,
investor, atau pengembang yang mereklamasikan pantai agar menyisihkan
20 persen dari total biaya proyeknya untuk rehabilitasi, konservasi,
dan revitalisasi pantai.

Kegiatan Mangrove Challenge '07, kata Kaban, dapat menjadi contoh yang
baik bagi proses penyadaran publik tentang pentingnya bakau. "Kegiatan
ini sebagai bagian dari kampanye untuk mengingatkan masyarakat agar
peduli terhadap mangrove," katanya menjelaskan.

Kaban mengingatkan, kerusakan mangrove jauh lebih besar daripada upaya
rehabilitasinya. "Kerusakan 60 persen, perbaikan baru 40 persen. Dari
berbagai upaya yang terus kita lakukan, suatu ketika vegetasi bakau
pasti akan pulih. Persoalan itu harus beradu terus-menerus dengan
proses penyadaran terhadap masyarakat," katanya. (CAL) 

Kirim email ke