Kok pelit untuk nyekolahin anak !
<http://rovicky.wordpress.com/2007/07/14/kok-pelit-untuk-nyekolahin-anak\
/>   Juli 14th, 2007 — Rovicky 
<http://rovicky.wordpress.com/wp-admin/post.php?action=edit&post=903>
Aku barusan baca tulisan yg isinya tentang pendidikan di mailist cfbe 
<../../../../../cfbe/message/29207> yang sumbernya dari Kompas
<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/13/humaniora/3681607.htm> .
Yang agak menggelitik, bikin jari ini gatel  untuk nulis, ini disebabkan
adanya kalimat dibawah ini

Jika orang kota menghabiskan 4,27 persen dari pengeluaran per kapita
dalam sebulan untuk pendidikan, orang desa hanya 2,27 persen dari
konsumsi bulanannya.

Whaddduh pelit amat mengeluarkan uang pendidikan buat anaknya sendiri
saja kurang dari 5% konsumsi. Aku alhamdulillah beruntung almarhum
bapakku dulu berani mengeluarkan uang buat pendidikanku. Yang lebih
mengagetkan lagi angka yang kurang dari 5% inipun bukan dari penghasilan
tetapi dari belanja (konsumsi) bulanan. Lah gimana pengeluaran dari
konsumsi yang tidak produktip misalnya merokok ?

Ke-pelit-an ini juga tidak hanya masyarakatnya tetapi juga akhirnya
tercermin dalam anggaran pemerintah (APBN), tapi tunggu dulu menurut Sri
Mulyani
<http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/01/08/brk,20070108-90809,i\
d.html> , APBN 2007, anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 11,8
persen, Nilai ini setara dengan Rp 90,10 triliun dari total nilai
anggaran Rp 763,6 triliun. Jadi pemerintah justru lebih memikirkan
pendidikan ketimbang masyarakatnya. Sedangkan angka yang 4.27% dan 2,27%
itu memang nominalnya juga sangat kecil, menurut Litbang Kompas :

Mayoritas penduduk di desa memiliki besaran pengeluaran Rp 100.000
hingga Rp 149.000 sebulan. Sementara penduduk di kota lebih besar
pengeluarannya, yaitu pada rentang Rp 200.000 hingga Rp 299.000

Kompas memang konsen dengan kesenjangan kota dan desa. Tetapi
kesenjangan itu memang bisa disebabkan banyak hal termasuk kebutuhan
belanja dan penghasilannya. Aku sendidi awalnya ragu dengan tulisan yang
aku sitir di kompas itu. Tetapi kalau saja kita beranggapan bahwa
anggaran belanja menunjukkan seberapa besar kita rela berkorban untuk
pendidikan, Tentunya diasumsikan ada korelasional antara kesanggupan
mengeluarkan biaya konsumsi bulanan dengan biaya pendidikan. Seandainya
mengeluarkan belanja lebih dari 5%, berarti anda sudah diatas rata-rata
pemikiran masyarakat kebanyakan. Semoga saja anda akan selalu berada
diatas rata-rata.

20% anggaran untuk pendidikan

Angka yang diinginkan digembor-gemborkan oleh politisi adalah hingga 20%
dari total APBN, ini merupakan "tuntutan" undang-undang yang
sudah kita buat bersama, eh DPR nding yang buat  [:(]  . Sebenernya
kalau dibandingkan dengan sebelumnya angka 20% ini sudah cukup bagus
kalau mampu dipenuhi. Tetapi semestinya pendidikan juga bukan hanya dari
pemerintah, justru harus dari masyarakat sendiri. Gemboran-gemboran
politisi inilah yang akhirnya memberikan candu ke masyarakat sehingga
mereka enggan untuk mengeluarkan kocek pribadinya untuk sekolah anak dan
lebih "menuntut" pihak lain memenuhi kebutuhannya.

Lah, kalau begini siapa sakjane yang ngga konsen dengan pendidikan ?
Kita sendiri atau pemerintahnya ?

  [:(]  "Pakdhe ini pro pemerintah ya ?"
  [:D]  "Ora ngono kuwi Tole, pemerintah itu pejabatnya sebelumnya
juga rakyat kalau sedang tidak menjabat. Kemandirian kita dari uluran
tangan pihak lain yang perlu ditegeskan supaya kita tidak sekedar
menengadahkan tangan, Tole"
  [:(]  "Ah jangan-jangan Litbang Kompas kurang teliti dengan angka
kaliii …."



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke