Louise Arbour Diterima Presiden Yudhoyono di Istana

http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/14/Politikhukum/3683257.htm
==================

Jakarta, Kompas - Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia atau HAM
Perserikatan Bangsa- Bangsa Louise Arbour mengemukakan, kasus
pembunuhan aktivis HAM Munir bukan lagi perkara domestik Indonesia,
sebab sudah menjadi sorotan dunia internasional.

Oleh sebab itu, Arbour meminta ada kejelasan dan kesimpulan yang jelas
dan tegas dari semua proses investigasi kasus Munir yang dilakukan
aparat Indonesia selama ini.

"Berdasarkan pengetahuan saya, perkara ini sudah diselidiki
sungguh-sungguh meskipun ada kendala. Kasus ini juga menjadi sorotan
internasional. Sebagai aktivis HAM yang meninggal dalam situasi
demikian, harus ada penjelasan. Saya mengharapkan kita semua dapat
melihat kesimpulan yang jelas dan tegas dari proses investigasi ini,"
ujar Arbour di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (13/7).

Sebelumnya, Arbour diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pertemuan itu dijadwalkan Rabu lalu. Presiden Yudhoyono didampingi
staf khusus Dino Patti Djalal yang juga mendampingi Arbour ketika
bertemu wartawan.

Terkait pembunuhan Munir, Arbour mengaku sudah berbicara dengan
pejabat Departemen Hukum dan HAM serta Polri. Dari pertemuan itu
diperoleh informasi penyelidikan pembunuhan Munir sungguh-sungguh
dilaksanakan dan ada kemajuan. "Presiden Yudhoyono juga meyakinkan
kepada saya," ujarnya.

Sebelum bertemu Presiden, selama di Indonesia, Arbour bertemu sejumlah
pengurus lembaga swadaya masyarakat, ke Nanggroe Aceh Darussalam, dan
Bali. Di Aceh, dia mencermati proses rekonstruksi pascatsunami dan
proses damai sesuai Nota Kesepahaman Helsinki.

Dalam pertemuan sekitar 40 menit di Kantor Presiden, menurut Dino,
Presiden Yudhoyono memberi penjelasan cukup luas tentang perubahan
yang terjadi, terutama dalam pembangunan demokrasi dan kebijakan
pemerintah di bidang HAM.

Presiden Yudhoyono juga menekankan kegigihan Indonesia dalam memajukan
HAM di pentas internasional melalui keanggotaan di Dewan HAM PBB.
Indonesia juga berusaha memajukan perdamaian internasional, terutama
dalam perannya di Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Lebanon.

Penjelasan Presiden Yudhoyono itu seperti menjawab harapan Komisi HAM
PBB dan komunitas internasional mengenai peran kepemimpinan yang
diharapkan muncul dari Indonesia untuk memajukan agenda HAM
internasional dan di kawasan, terutama di Asia Tenggara.

"Saya menyerukan kepada Presiden Yudhoyono untuk menunjukkan pengaruh
Indonesia di kawasan. ASEAN (Asia Tenggara) sebagai kawasan
satu-satunya di dunia yang tidak mempunyai mekanisme HAM. Saya
berharap Indonesia akan mengambil kepemimpinan bersama dengan negara
lain untuk pembentukan Komisi HAM itu," ujar Arbour.

Sulit kumpulkan bukti

Secara terpisah, Jumat di Jakarta, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum
Abdul Hakim Ritonga mengakui, sulit untuk mengumpulkan bukti lengkap
yang dapat dipakai jaksa dalam pengajuan peninjauan kembali (PK)
perkara pembunuhan Munir. Namun, dia menolak menjelaskan, sebenarnya
kesulitan itu berada di mana dan bukti apa yang sulit dikumpulkan.

"Jika dikatakan orang dibunuh, harus ada yang melihat dan mengetahui.
Bukankah pembunuhan (Munir) itu dengan cara yang sangat licin," kata
Ritonga di Kejaksaan Agung.

Mengenai motif pembunuhan Munir, Ritonga mengakui, hingga kini belum
terlihat. Kejaksaan masih mengupayakan persiapan maksimal dalam rangka
pengajuan PK kasus itu. Hingga kini, setidaknya ada tambahan
keterangan lima saksi baru yang diserahkan polisi. (inu/idr) 

Kirim email ke