yang salah siapa ya ?
Nike salahkah karena mencari pabrik yang lebih murah dan lebih bagus
kualitasnya ?
Apakah mereka pernah menandatangani kontrak yang berisi tidak boleh
menghentikan order ?
Kalau NIKE diminta bertanggung jawab, tanggung jawab seperti apa yang
diminta ?
Apakah semua perusahaan luar yang bekerja sama dengan pabrik lokal harus
bertanggung jawab kalau produksi pabrik kita jelek ?

Kalau kita membeli suatu produk, dan ternyata produk itu jelek, apakah kita
akan memberikan kesempatan buat pabrik produk tersebut untuk memperbaiki
mutunya atau justru produk itu akan langsung kita lempar ke tempat sampah ?


Regards,
Paulus T.


On 7/17/07, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/17/ekonomi/3694449.htm
> =======================
>
> Jakarta, Kompas - Lebih dari 1.000 buruh anggota Serikat Pekerja
> Nasional PT Nasa dan PT HASI berunjuk rasa, menuntut manajemen sepatu
> merek Nike tidak memutus kontrak kerja dengan perusahaan tempat mereka
> bekerja, Senin (16/7).
>
> Mereka mendatangi kantor perwakilan Nike yang satu gedung dengan Bursa
> Efek Jakarta di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta, sejak pagi hingga sore.
>
> "Pemutusan kontrak kerja tersebut bakal menyebabkan sebagian besar
> dari kami menganggur. Kami menuntut Nike meneruskan kontrak kerja
> dalam jangka waktu yang tidak mengikat, bukannya berencana memutus
> kontrak seperti sekarang ini," kata koordinator pengunjuk rasa, Agus
> Widodo.
>
> Pekan lalu, manajemen Nike mengumumkan akan menghentikan ordernya dari
> dua perusahaan itu pada akhir tahun 2007. Alasannya, kedua pabrik itu
> tidak mampu menjaga standar minimum mutu dan pengiriman produk selama
> lebih dari dua tahun. Pengiriman terakhir dari kedua pabrik itu adalah
> Maret 2008.
>
> Erin Dobson, Direktur Corporate Responsibility Communications Nike
> Inc, dalam siaran persnya kemarin mengatakan, walaupun keputusan itu
> diambil, pihaknya akan tetap mempertahankan 20 persen produksinya di
> Indonesia dan akan terus bekerja sama dengan lebih dari 30 pabrik
> kontraktor sepatu dan perlengkapan olahraga di Indonesia.
>
> Menurut Agus, beberapa kali perwakilan pekerja dan perusahaan
> berunding dengan perwakilan Nike agar tidak memutuskan kontrak dengan
> pertimbangan sosial kemanusiaan. Namun, semua perundingan gagal.
>
> Dua perusahaan yang berlokasi di Pasir Kemis dan Pasir Jaya,
> Tangerang, Banten, ini mempekerjakan sekitar 14.000 buruh.
>
> Beberapa perwakilan buruh diterima perwakilan Nike. Namun, aspirasi
> mereka baru dijanjikan akan segera disampaikan kepada General Manager
> Nike Indonesia John Richard.
>
> Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno
> mengemukakan, pihak Nike harus ikut bertanggung jawab terhadap
> keputusannya.
>
> Erman, di sela-sela mendampingi Presiden Yudhoyono meresmikan pabrik
> motor India di Karawang, Jawa Barat, Senin, mengatakan telah mendapat
> laporan dari Hartati Murdaya, pemilik perusahaan yang akan
> ditinggalkan Nike, dan serikat pekerja. Langkah berikutnya, Erman akan
> bertemu Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri
> Perindustrian Fahmi Idris lebih dulu.
>
> Persoalan utama yang akan dibicarakan adalah mencari solusi bagi
> 14.000 pekerja tersebut. Soal pertemuannya dengan Hartati, Erman
> mengatakan, Hartati mengaku kaget dan menilai keputusan Nike tidak
> sepatutnya.
>
> "Hartati menilai keputusan itu sepihak. Walaupun mereka beralasan ada
> penurunan kualitas, seharusnya adil, memberi kesempatan perbaikan.
> Harus ada pembinaan," ujar Erman. (nel/INU)
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke