Siang semuanya..

Sebelumnya terima kasih atas informasi yang penting bagi para calon
pasangan pengantin.
Yang ingin saya tanyakan, diklinik / rumah sakit manakah yang dapat
memberikan paket pemeriksaan untuk calon pasangan pengantin ??
Berapakah biaya 1 paket pemeriksaan tersebut ???

Mohon infonya, terima kasih.

Mega
***********************************************************************************
On 7/16/07, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Oleh Lusiana Indriasari dan Pingkan Elita Dundu
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0707/08/keluarga/3641760.htm
> ========================
>
> Membina sebuah rumah tangga tidak semata hanya cukup bermodalkan cinta
> dan materi saja. Kesiapan psikososial atau mental, disertai sikap
> keterbukaan mengenai riwayat kesehatan calon pengantin, sangat
> dibutuhkan sehingga kelak setelah menikah tidak berdampak pada
> kekecewaan dan kemarahan bagi pasangannya.
>
> Sudah delapan tahun menikah, Lilis Aprilianti (33) dan Bayu Baskoro
> (40), warga Kemanggisan, Jakarta Barat, belum juga memiliki keturunan.
> Padahal, sebelum menikah mereka telah merencanakan untuk segera
> memomong anak.
>
> Keinginan memiliki anak belum bisa terwujud karena dalam rahim Lilis
> terdapat kista. Setelah melalui pengobatan intensif, kista itu hilang.
> Tetapi, usaha memperoleh anak terkendala karena sel telur Lilis tidak
> bisa dibuahi. Hambatan lain muncul dari suaminya, Bayu, yang kualitas
> dan kuantitas spermanya tak normal.
>
> Pasangan suami-istri ini mengaku, sejak awal mereka tidak menyadari
> kalau masing-masing dari mereka memiliki kekurangan dalam hal
> kesehatan reproduksi. Sebelum menikah, mereka tidak melakukan uji
> kesehatan secara menyeluruh.
>
> "Memang ketika konsultasi perkawinan menjelang menikah kami disarankan
> memeriksakan kesehatan. Tapi, karena bukan kewajiban, kami mengabaikan
> saran itu," kata Lilis yang bersama suaminya tidak saling menyalahkan
> dengan peristiwa ini. Mereka akhirnya memutuskan mengadopsi anak
> sembari tetap meneruskan pengobatan secara intensif.
>
> Kasus Lilis dan Bayu hanyalah salah satu contoh pasangan suami-istri
> yang memiliki masalah kesehatan dalam menjalani kehidupan berkeluarga.
> Tidak sedikit persoalan rumah tangga muncul akibat masalah kesehatan
> pasangannya.
>
> Uji kesehatan
>
> Dr William Willyarna SpOG, spesialis kandungan dari Universitas
> Indonesia, dan Dr Soedjatmiko SpAK MSi dari Rumah Sakit Cipto
> Mangunkusumo, secara terpisah mengatakan, sebelum memutuskan menikah,
> calon suami dan istri harus siap dari segi finansial, fisik atau
> kesehatan tubuh, dan psikososial.
>
> Khusus fisik, kata William, dibutuhkan pemeriksaan kesehatan. Langkah
> ini merupakan sesuatu yang penting untuk mencegah masalah rumah
> tangga. Tujuannya untuk membina keluarga sehat dan sejahtera.
>
> "Pemeriksaan kesehatan dianjurkan untuk mengetahui kesehatan secara
> menyeluruh, mengingat masing-masing calon pengantin lebih tahu kondisi
> kesehatannya," kata William yang sehari-hari menjadi spesialis
> kandungan di Rumah Sakit Hermina Podomoro, Jakarta.
>
> Serangkaian pemeriksaan dipandang perlu agar kelak pasangan
> suami-istri terhindar dari sejumlah penyakit dan kelainan, termasuk
> yang disebabkan penyakit atau kelainan bawaan yang diturunkan.
>
> Dalam pemeriksaan kesehatan ini yang dibutuhkan antara lain
> pemeriksaan darah, seperti Hb, trombosit, hemoglobin, dan leukosit.
> Selain itu, pemeriksaan golongan darah dan Rhesus, urinalisa atau
> kencing rutin, dan hepatitis, terutama B dan C.
>
> Pemeriksaan kesehatan juga diperlukan untuk menghindarkan calon suami
> dan istri dari penyakit menular, seperti tuberkulosis, Hepatitis B,
> HIV, dan penyakit kelamin. Selain itu, pemeriksaan kesehatan juga
> dibutuhkan untuk penyakit keturunan, seperti talasemia.
>
> "Kalau ada pasangan yang membawa talasemia, harap berhati-hati karena
> penyakit ini tak bisa dicegah. Anak yang dilahirkan bisa kena
> talasemia juga," kata Soedjatmiko, spesialis anak Konsultan Tumbuh
> Kembang dan Magister Sains Psikologi Perkembangan.
>
> William juga menambahkan, bila perlu dilakukan pemeriksaan tumor
> marker, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat kesehatan kanker
> dalam keluarga. Pemeriksaan ini sudah menjadi standar, sekaligus dapat
> mengetahui apakah seseorang menderita hepatitis, AIDS, atau pencandu
> narkoba.
>
> Selain mengetahui riwayat kesehatan, calon suami dan istri juga harus
> terbuka dalam hal kondisi sosial, antara lain status ekonomi dan
> perilaku yang tidak mendukung kehamilan, antara lain merokok, minum
> beralkohol, atau memakai obat-obatan psikotropika.
>
> Calon istri
>
> Bagi calon istri, terutama kepada pasangan yang sangat ingin segera
> memiliki keturunan, sebaiknya melakukan konseling menjelang menikah.
> Tujuannya agar kehamilan bisa dipersiapkan sebelumnya.
>
> Sebelum menikah, calon istri harus mendapat imunisasi TORCH atau
> toksoplasmosis, rubella, citomegalivirus, dan herpes. Bila sejak awal
> sudah ditemukan TORCH, sebaiknya pasangan menunda punya anak untuk
> pengobatan karena bisa menyebabkan kecacatan pada bayi yang
> dilahirkan. Sementara untuk calon ibu, bisa untuk mengantisipasi
> tekanan darah dan jantung.
>
> Dianjurkan juga pemeriksaan dengan ultrasonografi atau USG yang bisa
> mendeteksi apakah perempuan itu menderita kista, mioma, tumor, atau
> keputihan. Artinya, bila ditemukan adanya kelainan atau infeksi, bisa
> secara dini dibersihkan sehingga tidak mengganggu selama masa kehamilan.
>
> William menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium menjelang
> pernikahan sangat penting bagi calon istri. Langkah ini untuk
> mengetahui, sejauh mana kondisi organ reproduksi, rahim, dan status
> kekebalan terhadap penyakit rubela dan toksoplasma.
>
> Calon istri juga harus diimunisasi tetanus toksoit (TT) untuk mencegah
> tetanus pada bayi baru lahir serta pemeriksaan kadar Hb dan ferritin
> ibu. Dua unsur itu penting untuk perkembangan bayi.
>
> Baik William maupun Soedjatmiko menambahkan, sebelum menikah semua
> yang terkait dengan kesehatan pasangan sudah harus dibayangkan,
> dibahas, dan disepakati bersama. Bila kelak timbul masalah, pasangan
> suami-istri relatif lebih siap menghadapinya.
>
> Keduanya juga mengatakan, bila calon suami-istri tersebut memang tidak
> siap dengan hal-hal di atas dan risikonya, sebaiknya urungkan menikah.
>
>

Kirim email ke