iscab: Jakarta tidak bebas banjir, makanya PLTN tidak ditaruh di Jakarta. PLTN direncanakan di Muria karena posisinya relatif aman dari bencana alam tertentu.
Oke, sekarang kita tahu di mana lokasi PLTN. Seperti kata Kawan Fau, kita juga ingin tahu cetak biru pengangkutan bahan radioaktif (dari dan ke) PLTN tersebut: lewat pelabuhan mana, lewat jalan mana, pengamanannya seperti apa. Juga cetak biru penanganan resiko: gempa, gunung meletus, banjir, pencurian, teroris, komputer error, pipa bocor, tembok retak, dll. Nah, kita juga perlu tahu limbahnya mau diolah siapa atau ditaruh di mana. Kalau ditaruh di Indonesia, maka kita harus tahu seperti apa dampaknya bagi lingkungan dan manusia. Kalau terjadi bencana, maka juga ada cetak biru, apa saja yang harus dilakukan negara, rakyat, korporasi, dll. Seperti kasus Lapindo, seharusnya ada cetak biru, apa yang harus dilakukan rakyat kalau tiba-tiba ada lumpur datang, apa yang harus dilakukan negara ketika lumpur menggenangi wilayahnya, apa yang harus dilakukan korporasi ketika dia ikut berperan dalam keluarnya lumpur sialan. Nah, kalau kaga ada cetak birunya, makanya yang ada kebingungan dan banyak mismanagement. Semuanya saling menyalahkan, tidak melakukan apa-apa yang berguna, dan korban tetap saja merana. Oh, ya, bicara tentang cetak biru. Ada lagi kisah aneh. Pembangunan jembatan buat tol maupun monorail di Jakarta tersendat-sendat karena banyak pipa dan kabel di bawah tanah tidak klop dengan cetak biru. Banyak yang bergeser bermeter-meter dari cetak biru. Saya bukan mau terima atau tolak PLTN, saya cuma mau bukti bahwa kita memang layak membangun PLTN. Menangani hal sederhana seperti memberangkatkan Pramuka dalam Jambore saja kita kacau balau. Juga hal rutin seperti keberangkatan haji tiap tahun, masih kaga beres, padahal orang pergi haji juga sejak Indonesia belum merdeka. Kita juga punya ratusan ahli pesawat terbang lulusan dalam dan luar negeri, tapi mengurus PT DI kita kaga becus. Kita punya ratusan ahli mobil, tapi Indonesia kaga punya merk mobil kelas dunia. Kita juga punya ahli mikroteknologi dan nanoteknologi, tapi kaga ada pabriknya di Indonesia. Semuanya karena masalah manajemen. Jadi kalau kita ingin membangun dulu PLTN lalu masyarakat menyesuaikan diri, itu enak sekali ngomongnya. Menteri yang ngomong seperti ini kan tahun 2009 diganti, tapi PLTN tetap saja berjalan terus walau Menteri gonta-ganti. Dia kaga perlu bertanggungjawab atas kata-katanya. con... On 8/1/07, Awang BinSaS <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Lha iya Pak felix... > > Kalo pak Felix yakin bhw PLTN itu RAMAH LINGKUNGAN, AMAN, sebaiknya pak > Felix juga mengusulkan dgn sungguh2 bhw PLTN itu DIBANGUN di JAKARTA saja > atau Jabodetabek. Ngapain jauh2 dibangun di seputaran JEPARA. > > Kalo saya sih tetap berpendapat bhw semua kemungkinan buruk bisa terjadi > thd PLTN. Dan kalo benar terjadi, saya pun akan kena imbasnya, karena kota > saya Jogja gak jauh2 amat dgn Jepara. Bisa kena debu radioaktif. > > Masih byk sumber daya alam Indonesia yg belum dimaksimalkan penggunaannya, > hanya saja pemerintah tidak mau serius. Maunya instan, tinggal panggil > pemborong PLTN dr Luar Negeri, bangun PLTN disini, beres. > [Non-text portions of this message have been removed]
