Mas/Mbak Sadjuga,
Sedih deh mendengarnya bahwa sebenarnya "keuangan" lah yang menyulitkan
perkembangan teknologi di Indonesia.
Dan para pemimpin bisanya hanya mengatakan "tutup saja" Kementrian Ristek,
tanpa memberikan solusi yang jelas dan memberikan semangat kepada para ilmuawan
muda-muda Indonesia untuk lebih tercambuk dan berusaha untuk mencapai cita-cita.
Yang anehnya kebanyakan "Uang Korupsi, kok larinya ke Luar Negri" ya?
Ataupun untuk memajukan business nya masing-masing pejabat?! Ini kan namanya
"salah kaprah!"
Uang rakyat Indonesia hanya dipakai untuk kepentingan pribadi-pribadi yang
berkuasa. Kita diharuskan membayar pajak, tetapi para business people malah
pada "nunggak" pajak, ataupun malah mencari jalan supaya pembayaran pajak lebih
banyak berkurang?
Makanya sekarang kita harus berbenah untuk memilih pemimpin yang bisa
mengatakan:"No" kepada para pengemplang uang rakyat.
Jangan gara-gara partai politik nya dibantu pada saat pemilihan umum, maka
orang-orang yang tidak bijak menempati kedudukan yang sangat amat merugikan
masyarakat luas, be it environmentally; economically or their livelihood.
Cari pemimpin yang mengutamakan pengembangan dalam hal pendidikan dan yang
menjaga martabat dan keamanan masyarakat luas di Indonesia kita tercinta ini.
Bagaimana kita punya negara jika pemimpin nya tidak bisa menjamin perasaan
"aman" bagi semua masyarakat nya dan tidak serba membingungkan dan membodohkan
rakyat nya?
Salam,
Yuli
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Kawan-2,
Saya menangkap komentar tentang pembubaran Ristek juga positif. Mestinya,
karena alasan utamanya adalah karena menerima bantuan dari luar negeri dan
semua kebutuhan kita diimport, maka cambuk buat semua, tanpa kecuali.
If (jika), kondisi-kondisi itu kan, nggak bisa di penuhi oleh single
institution seperti Kementerian Ristek. Maukah beliau yang berkuasa
menjadi koordinator untuk seluruh pemangku kepentingan, duduk bersama
mencarikan jalan keluarnya?
Berapa lama India mengembangkan program Agni nya hingga bisa mengirim
satelit ke orbit. Mulainya sih, hampir bareng dengan Indonesia (40
tahunan). Bedanya India konsisten, sementara indonesia "mboten". Untuk
membuat roket berjarak jelajah 40 km aja kembang kempis duitnya (bukan
keahliannya, loh).
Banyak hal yang janggal di negeri ini.
Fakta.
Defakto "manajemen" negara RI sangat dipengaruhi (ditentukan, klo nggak
bisa dikatakan dikuasai) oleh "pemegang senjata". Namun demikian tidak ada
senjata canggih satupun yang dapat dibuat di dalam negeri. Kemampuan buat
pesawat ada, kemampuan puat Armed Personeel Carier juga ada, kemampuan
buat alat komunikasi ada. Namun demikian kok belanja peralatan sensitif
ini tetap saja dipenuhi dari pihak luar. Masa ada sih, pabrik gembok
(padlock) yang tidak membuat master key nya. Jadi alat sensitif yang kita
beli tentu bisa dipatahkan oleh pembuatnya. Gimana kita dapat berdaulat.
Urusan pemutusan hubungan kerja merek spatu olah raga terhadap salah satu
pabrik merupakan keputusan bisnis murni. Tapi mengapa pemecahannya
melibatkan pemerintah. Sementara pemutusan hubungan kerja itu pernah
terjadi di pabrik lain, tanpa gejolak. Pada saat jayanya merek spatu olah
raga tertentu menjalin dengan sekitar 25 pabrik di Indonesia, sekarang
tinggal 15 an. Nah jadi selama ini kan udah banyak pemutusan. Tanpa
gejolak.
Urusan kegagalan pengeboran di daerah porong itu urusan bisnis tapi
mengapa pemerintah seolah-olah yang salah.
Dll dll, dll ....
Tentang industri berat yang tumbuh dari industri tenun saya mempunyai
pengalaman tersendiri waktu meninjau tempat itu di Subang.
Menurut saya, pasti ada agenda "tersembunyi" yang amat besar (bukan
uangnya yang hilang, loh). Lokasinya sangat luas, peralatan yang waktu itu
akan dibangun sangat luar biasa. Bisa untuk buat tank. Pemiliknya cukup
gigih dan agak suka "trobos". Nah, melihat kenyataan itu saya menjadi
tersadar bahwa kehancuran group ini bukan murni masalah bisnis tapi selalu
ada unsur politiknya (memang bisnis klo udah tinggi nggak lepas dari
politik, kita tahu semua dan kita sedang mengalami saat ini juga). Mungkin
berdirinya juga didorong oleh politik juga.
Apa boleh dikata negara ini lebih syarat dengan politik dagang (yang tidak
mendukung perkembangan teknologi di tanah air) dari pada politik teknologi
mandiri.
Lets do our best. Semua ada waktunya. Diperlukan perseverance untuk
memperjuangkan sesuatu.
Merdeka,
Sadjuga