Sebenarnya penolakan ini bisa merugikan warga Pondok Indah sendiri.
Tidak ada transjakarta pun, setiap tahun waktu tempuh perjalanan di
Jl. Metro Pondok Indah semakin bertambah. Semisal pada tahun 2000,
waktu tempuh rata-rata dari perempatan Carrefour hingga depan PIM
ataupun sebaliknya berkisar antara 10-15 menit. Sekarang tahun 2007,
waktu tempuhnya menjadi rata-rata 15-40 menit. Setiap tahun waktu
tempuh bertambah menjadi lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya,
dan ini diakibatkan dari bertambahnya kendaraan bermotor tetapi tidak
diimbangi dengan bertambahnya luas Jl. Metro Pondok Indah, alias
pertumbuhan jalan yg sudah mentok dan stagnan. Hal ini berimbas pada
perusakan lingkungan Pondok Indah secara gradual, polusi setiap tahun
meningkat dan kemacetan bukannya berkurang malah bertambah. Menolak
kehadiran transjakarta sama saja mempertahankan status yang sekarang
terjadi, akibatnya tinggal menunggu waktu saja lingkungan Pondok Indah
menjadi salah satu lingkungan terpolusi di selatan Jakarta.

Sementara itu pemerintah juga mengulang kembali kekurangan dan
kesalahan yang sama dalam pembangunan proyek transjakarta.
Kesalahan-kesalahan seperti minimnya transparansi, sosialisasi, dan
kurangnya keterlibatan partisipasi warga dalam proyek ini membuat
proyek ini kurang dipercaya oleh masyarakat. Alasan klise penolakan
masyarakat seperti takut membuat jalan semakin macet, penebangan
pohon, dsb sebenarnya karena pemerintah tidak bisa meyakinkan
masyarakat bahwa proyek ini berguna untuk jangka panjang. Hanya
pemerintah yang berkepala batu yang bisa menjamin proyek ini tetap
jalan meskipun ditentang sebagian warganya.

Menolak busway di PI tidaklah menjamin lingkungan PI tetap asri dan
kemacetan berkurang. Tetapi menerima busway BISA MENJAMIN ada angkutan
yang bebas macet yang siapa tahu bisa mengurangi penggunaan mobil
pribadi yang berimbas pengurangan polusi udara.

p

--- In [email protected], "Agus Hamonangan"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> http://www.kompas.co.id/ver1/Metropolitan/0709/16/044654.htm
> =========================
> 
> PONDOK INDAH, WARTA KOTA - Warga Pondok Indah, termasuk para remaja
> alias ABG, berunjuk rasa di Bundaran Jalan Metro Pondok Indah, Sabtu
> (15/9) petang. Demo langka ini dimaksudkan untuk menentang rencana
> pembangunan busway koridor VIII.
> 
> Unjuk rasa warga yang diikuti puluhan anak baru gede (ABG) penghuni
> Pondok Indah itu membuat arus lalu lintas dari arah Lebak Bulus dan
> Kebayoran Lama tersendat. Mereka membentangkan kain putih sebagai
> bentuk penolakan pembangunan jalur khusus bus  tersebut. "Jika
> aspirasi kita tidak diperhatikan, kami akan mengajukan class action
> terhadap Gubernur DKI Sutiyoso ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
> Gugatan akan kami layangkan pekan depan," ujar juru bicara Tim Peduli
> Lingkungan Pondok Indah, Louis M Pakaila, di sela-sela aksi.
> 
> Demonstrasi yang juga diikuti puluhan ibu-ibu itu berlangsung tertib.
> Mereka membentangkan kain putih bertuliskan 'Pohonku, Nafasku'. Kain
> putih dengan panjang sekitar 100 meter itu dipasang di setiap pohon
> besar yang terdapat di taman di Bundaran Jalan Metro Pondok Indah.
> Jalan ini hanya memiliki dua lajur. Jika proyek busway dilaksanakan,
> maka hanya tersisa satu lajur sehingga akan memperparah kemacetan di
> kawasan tersebut.
> 
> Sebagai wujud kekompakan, mereka memakai kaus putih dan meriakkan
> yel-yel berisi penolakan pembangunan koridor VIII. Kendati jarang
> berunjuk rasa, warga Pondok Indah terlihat tidak canggung ketika
> menyuarakan tuntutan mereka. "Kami menolak kalau ratusan pohon di
> sini, ditebang untuk keperluan proyek busway," ujar peserta demo
> bernama Manda (21).
> 
> Louis mengatakan, aksi damai ini digelar sebagai bentuk kekecewaan
> warga terhadap Pemprov DKI yang tidak memperhatikan aspirasi mereka.
> Ia telah mengirim surat ke Gubernur Sutiyoso terkait penolakan rencana
> pembangunan busway koridor VIII itu."Tapi, sampai sekarang surat itu
> tidak pernah ditanggapi. Gubernur malah menanggapi keluhan kami
> melalui media massa," ujarnya.
> 
> Tuntut amdal
> 
> Penolakan warga Pondok Indah karena proyek tersebut belum dilengkapi
> analisa mengenai dampak lingkungan (amdal). "Adanya busway yang
> melintas di sini juga akan menambah kemacetan dan polusi akibat gas
> buang kendaraan bermotor. Lihat saja sekarang kondisinya sudah macet
> begini," kata Louis.
> 
> Jika pembangunan proyek busway dipaksakan berarti 560 pohon berbagai
> jenis yang telah berusia di atas 30 tahun akan musnah. Pondok Indah
> pun akan berubah gersang dan berpolusi. "Yang jelas  lingkungan di
> sini akan rusak akibat proyek tersebut," kata Austriono, Sekretaris
> Tim Peduli Lingkungan Pondok Indah.
> 
> Austriono mengatakan, pada prinsipnya warga tidak menolak busway.
> Tapi, jika harus mengorbankan ratusan pohon mereka dengan tegas
> menolak pembangunan itu. "Coba tunjukkan dulu amdalnya ke kita,"
ujarnya.
> 
> Perumahan Pondok Indah terletak di Kelurahan Pondokopinang, Kebayoran
> Lama. Kawasan elit ini dihuni sekitar 12.000 warga yang terbagi dalam
> 5 RW.  Koridor VIII yang dibangun di Pondok Indah akan melintasi Jalan
> Metro Pondok Indah hingga ke Lebak Bulus sepanjang 3,2 kilometer.
> 
> Dira (20), warga Pondok Indah lainnya, dengan tegas menolak penebangan
> pohon untuk keperluan pembangunan busway. "Saya suka naik busway.
> Tapi, kalau harus ngorbanin pohon, saya tidak setuju," ucap mahasiswi
> semester III Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.
> 
> Gerahnya warga Pondok Indah terkait proyek ini mulai terlihat awal
> September. Mereka pun sudah mengaku ke DPRD untuk mengadakan
> negosiasi. Warga hanya menyetujui proyek tesebut sampai di Pondok
> Indah Mall (PIM) I dan PIM II. Developer kawasan itu akan menyediakan
> bus khusus untuk mengantarkan warga sampai ke Terminal Bus Lebak
> Bulus, sesuai rute awal busway koridor VIII yaitu Lebak Bulus-Harmoni.
> (wid)
> 
> 
> Sumber: Warta Kota
> 
> 
> Copyright 2006 Kompas Group
>


Kirim email ke