Oleh Yudi Latif http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/08/lebaran/3908098.htm ===================
Dalam kembara, sepanjang tahun kita nikmati berkah langit yang turun bak air hujan. Saat Idul Fitri menjemput, berpulanglah seperti akar meneruskan air hujan ke sungai, lantas mengalirkannya hingga ufuk terjauh. Demikianlah, Allah memberikan tamsil kehidupan dunia laksana air hujan yang menjadikan tumbuhan gembur-subur di muka bumi, kemudian tumbuhtumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin (QS 18: 45). Betapapun menyenangkan, harta dan anak-anak hanyalah perhiasan dunia yang mudah muspra. Amal salehlah yang membuatnya kekal, yang mengalirkan berkah bagi kehidupan (QS 18: 46). Al Ghazali mengibaratkan "materi" ibarat kuda yang ditunggangi jiwa dalam pengembaraan jati dirinya. Sang jiwa harus memenuhi kebutuhan tunggangannya agar bisa mencapai tujuan. Namun, jika terlalu banyak menyita waktu memberikan makan dan mengaguminya, sang jiwa akan terempas di perjalanan ketimbang mencapai tujuan. Tujuan hidup untuk kebahagiaan, dan kebahagiaan tertinggi terengkuh ketika manusia mampu menemukan makna hidupnya. Untuk mengerti makna hidupnya, manusia harus memahami dirinya. Untuk memahami dirinya perlu meraba hatinya. Bukan hati dalam arti organ tubuh, melainkan fakultas batin yang memiliki daya reflektif tentang eksistensi manusia sebagai pengembara yang merindukan kepulangan. Maka kerinduan mudik Lebaran, dengan segala marabahayanya, adalah kerinduan eksistensial demi meraih kebahagiaan. Momen kebahagiaan ini tercapai ketika manusia bisa serempak pulang ke "kampung" Ilahi dan kampung halaman. Kepulangan ini terasa lebih nikmat ketika pemudik membawa oleh-oleh bagi kerabat dan tetangga. Setelah setahun menyerap hujan berkah langit, saatnya pengembara merembeskan air kebahagiaan bagi warga bumi. Kebahagiaan terasa sempurna ketika kesuburan bumi terjaga berkat kerelaan berbagi. Al Quran melukiskan nafkah yang dibagikan ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan setiap bulir berbuah seratus biji (QS 2: 261). Semakin banyak memberi, semakin banyak menerima, sehingga kesuburan dan kesejahteraan negeri bertambah. Maka jika kita memberi, lakukan dengan senang hati. Jika kita tak punya uang, berikanlah pelayanan. Kita tidak pernah kekurangan dalam apa yang dapat diberikan. Setelah sebulan berpuasa dan beribadah, marilah kita nikmati kepulangan. Bukankah manusia hanyalah anak-anak sang waktu yang mengalir dari titik ke titik persinggahan sementara. Setiap jejak tidaklah sia-sia. Setiap kata yang disapakan memberikan gairah kepada hidup. Setiap darma yang disumbangkan memberikan tenaga kepada sesama. Semoga mudik kita merekahkan berkah! Yudi Latif Dosen Universitas Paramadina Jakarta
