Oleh Triyono Lukmantoro
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/08/swara/3907434.htm
====================

Sinetron merupakan nama populer dari sinema elektronika. Sekalipun
kisah yang disajikan tidak logis, cenderung melecehkan akal sehat, dan
bahkan merendahkan martabat perempuan, sinetron tetap menjadi andalan
dalam industri tontonan.

Ketika Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta
Swasono menyayangkan sinetron dan film yang dinilainya tidak
mencerdaskan kaum perempuan, ada benarnya. Dalam penilaiannya,
sinetron dan film yang banyak ditonton kaum perempuan, ibu-ibu, dan
anak-anak justru sekadar mengajarkan kejahatan, kejudesan, dan
perilaku licik. Pertanyaannya, mengapa sinetron semacam itu tetap
diproduksi? Mengapa penonton dominan perempuan menyenangi tayangan itu?

Jawaban utamanya, mekanisme pasar. Dalam industri televisi, pasar
tidak sekadar menjadi arena permainan untuk menjalankan aktivitas
penawaran dan permintaan. Pasar televisi merupakan ajang pendisiplinan
tentang tayangan apa yang harus disukai atau ditolak.

Ketika sinetron disukai bukan semata-mata karena sinetron itu pantas
ditonton, tetapi karena berhasil menjadi seperangkat teknologi
pengawasan yang mengharuskan penonton menunjukkan kesetiaan menyimak
cerita yang tidak masuk kualifikasi nalar.

Hukuman dan imbalan

Sinetron mendisiplinkan penonton yang kebanyakan perempuan melalui
teknik pemberian hukuman dan pengerahan imbalan. Tidak menyaksikan
sinetron berarti penonton akan kehilangan tontonan yang mengiris-iris
perasaan. Sebaliknya, menonton sinetron terus- menerus menjadikan
penonton mendapatkan hiburan yang mampu memuaskan hati. Apakah
sinetron merendahkan derajat dan kehormatan perempuan bukan menjadi
problem moral bagi pengelola televisi dalam industri televisi yang
sepenuhnya didikte keinginan pasar.

Persoalan krusial yang layak diungkap, mengapa sinetron sangat disukai
perempuan? Sebagai genre cerita, sinetron tidak berbeda jauh dari
opera sabun. Peristiwa yang menimbulkan efek kesedihan, kekaguman,
kemarahan, kejengkelan, dan keharuan sengaja dieksploitasi.

Dramatisasi yang berlebihan dan melampaui kewarasan nalar itu justru
semakin diminati. Prinsip yang menyatukan sinetron dan opera sabun
sepadan dengan metode tabloidisasi pada koran kuning, yaitu if it
bleed, it leads. Semakin berdarah-darah semakin bagus.

Feminis menunjukkan keprihatinannya atas situasi tak sehat itu sejak
dekade 1980-an dengan mencoba mengungkap mengapa opera sabun
(sinetron) sedemikian populer bagi perempuan.

Tania Modleski (sebagaimana dikutip Jorge Reina Schement [ed],
Encyclopedia of Communication and Information: Volume 3, 2002: 930)
menyatakan perempuan tertarik pada opera sabun karena perempuan mampu
mengikuti cara bertutur (naratif) yang bercorak feminin ketimbang yang
maskulin. Jadi, opera sabun (sinetron) sengaja diciptakan dengan
mengikuti cara berpikir dan berperasaan perempuan.

Modleski mendefinisikan narasi feminin pada opera sabun sebagai: (1)
cerita bersifat nonlinear, yang berarti tidak ada kejelasan tentang
permulaan, bagian tengah, dan akhir cerita, (2) didasarkan pada dialog
ketimbang tindakan, (3) memuat sejumlah interupsi, dan (4) menyebarkan
perhatian dan kesetiaan bagi penonton.

Modleski juga berargumentasi, tidak sebagaimana narasi maskulin yang
klimaksnya penyelesaian masalah, opera sabun menghadirkan antisipasi.
Kenikmatan menyaksikan opera sabun terletak pada antisipasi itu.

Penangguhan resolusi

Tampaknya hal itulah yang menjadikan opera sabun atau sinetron selalu
dapat dibuat dalam rangkaian cerita yang panjang. Setiap persoalan
sengaja ditangguhkan resolusinya. Dapat dikatakan setiap persoalan
justru mendapat antisipasi sehingga cerita seakan tidak pernah tuntas.
Emosi penonton secara kontinu diaduk-aduk karena setiap kali cerita
akan diakhiri justru melahirkan masalah baru.

Christine Geraghty (dalam Women and Soap Opera, 1991) menyatakan,
genre opera sabun menekankan pada protagonis perempuan yang mengundang
khalayak memberikan dukungan. Dalam genre ini sengaja ditampilkan: 1)
pemisahan ruang publik dan wilayah privat, 2) ruang laki-laki dan
ruang perempuan disajikan secara berurutan, dan 3) keunggulan
perempuan dalam cerita didasarkan pada pemahaman dan pengendaliannya
terhadap kemampuan emosionalnya.

Fantasi dan eskapisme perempuan disajikan dengan mengeksplorasi isu
melalui penciptaan utopia. Artinya, nilai yang diasosiasikan dengan
wilayah personal ditampilkan dominan. Selain itu, opera sabun juga
menghadirkan tampilan distopia, yang berarti konsekuensi terhadap
pengabaian nilai tadi sengaja dibiarkan.

Utopia maupun distopia dalam sinetron dan opera sabun adalah dunia
rekaan belaka. Utopia dapat bermakna sebagai dunia yang tidak ada sama
sekali dan juga dunia mahasempurna. Bukankah dalam sinetron kita sosok
antagonis yang jahat digambarkan sangat buruk dan begitu biadab,
sebaliknya figur protagonis dihadirkan sangat baik dan penuh
kesempurnaan? Adakah dunia serba hitam-putih selain dalam sinetron?

Tragisnya, dunia yang serba utopis itu menjadi menu sehari-hari yang
"wajib" disantap kaum perempuan dan anak-anak akibat rezim
pendisiplinan televisi telah menyusup secara sangat rapi dalam narasi
feminin.

Triyono Lukmantoro Pengajar Sosiologi Komunikasi pada Jurusan Ilmu
Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang



Kirim email ke