Wah... pak moderator kita ini jauh lebih pintar dari yang kita 
ketahui yah. Forum ini di hidangkan bagai campuran gado2 yang sangat 
lezat. Setelah berminggu2, di jejali berita2 politik yang kadang 
membuat pusing. Kini hadir dengan berita ringan tentang warteg, 
hmmhhh...harum. Aromanya hampir terlihat di layar komputer.
Thanks pak Agus, go FPK

salam
Vik sintus
http://belajar-html.blogspot.com/


. --- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oleh Neli Triana
> http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/20/metro/3933257.htm
> =====================
> 
> Rasa lapar melilit perut mendorong saya agar segera santap siang di
> tengah hari yang terik, September lalu. Seorang kawan 
merekomendasikan
> agar mencicipi hidangan sederhana ala warung tegal pinggir jalan,
> tetapi sekaligus menjanjikan cita rasa yang unik dan enak.
> 
> Tanpa pikir panjang, kami segera meluncur ke Jalan Kramat Sentiong,
> Kelurahan Senen, Jakarta Pusat, lokasi warung itu.
> 
> Rasa ragu-ragu tebersit saat melihat warung mungil di pinggir jalan
> itu. Tidak ada yang istimewa dari tampilan luar warung. Hanya 
namanya
> yang menggelitik. "Warung Nasi Sarang Semut", begitu tulisan yang
> terpampang pada spanduk di pintu masuk warung.
> 
> "Silakan, makan di sini atau dibungkus," kata Nyonya Ku Tjin Tjen
> (49), pemilik dan koki tunggal Warung Sarang Semut.
> 
> Hidangan aneka masakan lauk-pauk, sayur, dan gorengan tersaji di 
meja
> dan di etalase kaca. Sekilas memang mirip dengan tatanan ala warung 
tegal.
> 
> Akan tetapi, sajian masakan yang terlihat berbeda adalah sajian
> masakan sayur segar, ditumis atau dimasak santan. Sop berisi irisan
> wortel, kol, dan sayuran lainnya dengan kuah kaldu segar menjadi
> sajian yang selalu ada setiap hari.
> 
> "Saya minta kari kakap, nasi porsi satu, dan sop. Makan di sini.
> Jangan lupa, teh manis hangat," seru seorang pembeli.
> 
> Tjin Tjen atau akrab dipanggil Enci sigap meladeni sendiri
> pelanggannya. Tidak sampai lima menit, semua sajian tersedia. Nasi
> hangat dan kuah sop menggoda selera. Air liur tak kuasa ditahan 
ketika
> kari kakap dengan kuah kuning keemasan kental disuguhkan.
> 
> Tak berpindah tempat
> 
> Enci membuka warung sejak 1977. Warung ini tidak pernah membuka
> cabang, apalagi berpindah tempat. Luas bangunan maupun interior di
> dalamnya, seperti penataan kursi panjang bersandaran terbuat dari 
kayu
> serta meja kayu, nyaris tidak berubah sejak dibuka.
> 
> Enci melengkapi warung kecilnya dengan tiga etalase kaca. Selain 
untuk
> menggelar masakan, etalase kaca digunakan menampung aneka minuman
> kaleng, botol, dan makanan ringan.
> 
> Konsep warung tegal diadopsinya karena warung ini merakyat dan jelas
> sasaran pelanggannya. Akan tetapi, ia meramu sayur, daging, ikan
> dengan bumbu-bumbu masakan khas China (oriental). Istilahnya, serupa
> namun tak sama dan jelas lebih lezat, demikianlah rasa masakan Enci
> dibandingkan dengan masakan ala warteg lain.
> 
> "Masakan di sini selalu berbeda dari hari ke hari agar pelanggan 
tidak
> bosan," katanya.
> 
> Rata-rata sajian lengkap per porsi untuk satu orang dengan minuman 
es
> jeruk atau teh manis hanya membutuhkan biaya Rp 6.000-Rp 10.000.
> Sajian sudah dilengkapi kerupuk penambah kenikmatan bersantap.
> 
> Menggaet pelanggan, menurut Enci yang bersuamikan R Tanto (59),
> pemilik bengkel sepeda motor dan mobil, diperlukan tips khusus, 
yaitu
> menjaga harga masakan tetap murah tetapi rasa harus dipertahankan.
> 
> Nama "Sarang Semut" untuk warungnya ada kaitan dengan pelanggan yang
> selalu kembali dan berkumpul di warung milik Enci. Nama ini 
diberikan
> mertua Enci, Tan Ke Fie almarhum, sejak awal berdirinya warung tegal
> rasa oriental ini. Enci konsisten menggunakan nama tersebut agar
> rezeki tetap mengalir, ia dan pelanggan pun senang.
>


Kirim email ke