Benar sekali Mas, kita harus mampu secara jujur menilai kinerja kita sendiri, yang kondisinya dewasa ini sangat mustahil dapat memenuhi tuntutan standard teknis dari "kendaraan rel" berkecepatan tinggi. "Bummel KA" berkecepatan mungkin appr. 50 kmh, sedangkan TGV diatas 200 kmh, katakanlah empat kali lipat, tapi "GAYA" yang harus "dikuasai" adalah exponential!! Berarti minimal enam belas kali lipat!! Menggembirakan sekali mendengar kesan bahwa "pabrik KA" di Madiun "sangat modern" (saya belum beruntung untuk dapat berkunjung kesana), tapi hal-hal yang relevan untuk dapat memenuhi tuntutan teknis yang "gigantis" seperti ini, umumnya bukan sesuatu yang terkesan secara optis, melainkan lebih menjurus ke teknis yang tak terlihat, misalnya: system pengereman (brake system), system suspensi, system rel, atau juga material kaca yang bila pecah harus memenuhi criteria khusus .. .. dsb dsb. Seperti pendapat kebanyakan rekan lain, menurut saya memang lebih realistis bila diupayakan lebih dulu, apa yang sudah ada agar berfungsi sesuai "penemu/founder" nya, misalnya atap gerbong BUKAN tempat duduk, rel kereta bukan buat dicongkel-congkel, apalagi digergaji. Salam, Bodo
--- In [email protected], Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Betul Pak Wal, > Saya sejak jaman masih banyak loko uap yang dipakai PJKA sampai sekarang adalah pengguna setia KA untuk perjalanan jarak jauh. > > Tapi makin lama kok tambah morat marit pelayanan KA di negeri kita ini. > KA makin sering terlambat. > > Kalau mau memperbaiki PT KA, mulailah dengan hal yang sepele. Mulailah misalnya dengan menghilangkan percaloan tiket KA. Ini saja masih belum bisa kok ya mau membayangkan yang "ndakik ndakik". > > Apa perlu aksi percaloan tiket di Gambir dipotret dan fotonya dicantumkan di milis FPK? Saya kira banyak rekan fotografer yang bisa motret hal ginian dengan teknologi lensa kamera digital SLR masa kini....he,he,he > > Salam,
