Membaca artikel ini, saya juga teringat artikel ttg 
Sudan, Afghan jaman Taleban, Iraq jaman P Sadham 
Hussein sampai meng aneksasi Kuwait,kekejaman 
di Bosnia  dll

Kalau posisi sekarang ini , di Myanmar kebiadaban 
rezim militer Myanmar ini sungguh keterlaluan.
Sama dengan kebiadaban pemberontak Arab di Darfur
yg menyebabkan ribuan orang sudan afrika mati sia2
tanpa bisa membela diri.
Jelas kehadiran misi PBB nggak se sukses di Timtim
yg nyata nggak ada perlawanan baik dr Jakarta maupun
'sekutu2' Jakarta di PBB yg mau membela Indonesia
di forum internasional itu.
Kalau sdh begitu biksu2 dan yg tertindas di Myanmar itu
apakah akan dan harus dibiarkan sampai mati semua 
toh kalau sdh mati banyak, akan diam sepi kembali ?

Saya juga ingat sekarang ini soal Darfur, dulu soal Bosnia
dunia seolah2 berteriak , PBB bereaksi namun sebatas kata2 
seperti sekarang ini..
Amerika juga di maki2 karena pasifnya cuma teriak2 , entah 
CIA nya kerja nggak wallahualam bisawab...
Sampai2 EU meminta2 AS untuk partisipasi ngebom Beograd
Namun kalau saja diidentikan masalahnya dgn perang Irak dan 
Afghan sekarang AS yg sdh berkurban demikian banyak jiwa dan 
dana juga di maki2 dijadikan sasaran yg paling empuk dan efek
tif dalam kampanye politik dalam dan luar negeri.
Asean yg di dorong2 PBB buat berperan di Myanmar cuma bilang
itu urusan dalam negeri Myanmar, kita cuma menghimbau aja...

Persoalan di dunia ini kayaknya benar2 pelik, tergantung dr sisi 
mana mau melihatnya cuma kalau penggambaran artikel ini benar, 
dimana rasa keadilan dan kemanusiaan kita yah ?
Makanya saya nggak pernah mau inkonsisten maki2 AS karena 
invasi konyolnya di Iraq, karena saya juga selalu sedih siapa yg 
mau memikirkan dan menolong biksu dan rajyat yg tertindas 
di Myanmar saat ini....

Salam , martin - jkt
----- Original Message ----
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, October 20, 2007 10:20:50 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Jangan Abaikan Blogger










  


    
            http://www.kompas. co.id/ver1/ Iptek/0710/ 15/094140. htm



============ ========= =====



Ketika aksi demontrasi ribuan biksu dan masyarakat Myanmar berakhir

rusuh, Ko-Htike warga Myanmar yang tinggal di London, menerbitkan di

blog-nya berita-berita terbaru dari negaranya. Isi blognya, baik

tulisan, foto maupun video jauh berbeda dengan informasi yang

diwartakan media-media mainstream. Ia bahkan memrotes berita BBC yang

menyebutkan bahwa sekitar 200 biksu ditahan oleh junta militer.



"Yang terjadi jauh lebih buruk," tulis Ko-Htike. Ia baru saja menerima

telepon dari saudara perempuannya di Myanmar yang menceritakan tentang

penyerbuan tentara ke sebuah biara dekat kota Yangon.



"Serombongan pasukan tentara menyerbu sebuah biara yang dihuni sekitar

200 biksu. Tentara-tentara itu memerintahkan para biksu untuk berbaris

dan membenturkan kepala mereka satu per satu ke dinding biara. Satu

persatu para biksu yang cinta damai itu jatuh ke tanah sambil

berteriak kesakitan. Kepala biara digantung di tengah komplek biara

dan disiksa sampai mati," tulis dia.



"Ditahan bukanlah kata yang tepat. Mereka telah disiksa sampai mati,"

tegas Ko-Htike yang membubuhkan enam tanda seru di akhir kalimatnya.

Ia juga menerbitkan gambar mayat seorang biksu yang terbenam di lumpur

dengan tubuh memar. 



Foto-foto lain yang ditampilan dalam blognya menggambarkan kekacauan

di kota Yangon. Masyarakat dan tentara bersenjata lengkap saling

berhadap-hadapan. Sejumlah foto menampilkan gambar korban penyiksaan

oleh tentara. Beberapa foto terlihat tidak jelas dan buram. Namun,

foto-foto yang diambil dengan penuh risiko itu mereprentasikan 

kekuatan penolakan masyarakat Myanmar terhadap junta militer yang

berkuasa di sana.



Blog Ko-Htike hanyalah satu dari sekian situs di internet yang

menginformasikan kekacauan di Myanmar. Namun, situs ini menjadi

rujukan utama perkembangan berita di Myanmar. 



Kepada situs BBC, Ko-Htike mengungkapkan, ia memiliki 10 orang teman

di sejumlah lokasi di Myanmar. Mereka mengirim laporan kepadanya

melalui internet. Kadang melalui email kadang melalui telepon. Di

telepon, karena keterdesakan waktu,  kerap mereka hanya menyebut link

di internet tempat mereka menyimpan informasi untuk diterbitkan di

blog Ko-Htike. 



Aktivitas Ko-Htike mengingatkan kita pada Salam Pax, nama samaran

blogger Irak berusia 29 tahun, yang membagikan kesaksiannya saat

jam-jam pertama ketika bom tentara AS melumatkan gedung-gedung di

sana. Ia menuliskan semua yang ia saksikan dalam blognya

dear_raed.blogspot. com. Seperti juga Ko-Htike, blog Salam Pax dikutip

berbagai media. 



Kekuatan baru



Ko-Htike lagi-lagi menegaskan pada kita tentang dampak sebuah blog.

Tak bisa dipungkiri bahwa blog merupakan kekuatan baru dunia

informasi. Medium baru ini telah membuka ruang bagi seluruh warga

dunia untuk berkontribusi dalam arus informasi global.  Informasi

bukan lagi monopoli media-media mainstream. Suara para blogger tidak

bisa lagi diabaikan. 



Bayangkan, di Myanmar masyarakat yang memiliki akses internet hanya

0,56 persen dari populasi penduduk. Tapi, dalam peristiwa kerusuhan

kemarin, sepak terjang mereka berhasil membuka mata dunia tentang apa

yang sesungguhnya terjadi di sana. Junta militer bahkan harus memutus

seluruh jaringan internet untuk membungkam mereka.  Junta telah kalah

dalam perang telekomunikasi dengan orang-orang yang melek teknologi

yang jumlahnya tidak mencapai satu persen dari populasi penduduk

negara itu.



Berbeda dengan Myanmar, di Amerika para blogger sudah memiliki posisi

tawar yang solid.  Pemerintah maupun masyarakat di sana menyadari

kekuatan medium baru ini dalam membentuk opini publik. Negeri adidaya

itu mencatat sejarah ketika untuk pertamakalinya memberikan kartu pers

kepada dua orang blogger guna meliput pengadilan federal dalam kasus

mantan kepala staf Gedung Putih, Lewis "Scooter" Libby. 



Baru-baru ini juga diberitakan, Presiden Bush mengundang 10 blogger

untuk sebuah wawancara khusus mengenai isu-isu milter. Lepas dari

seluruh kritik atas pilihan blogger yang diundang, Gedung Putih

menyadari bahwa suara-suara manusia maya di blog perlu dirangkul

sebagai salah satu saluran penyebaran informasi.



Kehadiran blog atau weblog adalah isyarat lahirnya sebuah kekuatan

baru media. Tidak ada data yang pasti berapa jumlah blog di internet.

Technorati, lembaga penelusur blog, mengungkapkan, jumlah blog

bertambah dua kali lipat setiap bulan. Sementara, setiap hari tercipta

lebih dari 70 ribu blog baru di seluruh dunia.



Bagaimana di Indonesia? Berita yang mengejutkan tentang aktivitas

ngeblog di negeri ini  datang dari Majalah Business Week yang

memasukkan Jakarta dalam 30 kota  yang aktivitas ngeblog-nya tinggi.

Memerhatikan koneksi internet di Indonesia yang relatif masih mahal

dan kecil bandwithnya kita bisa melihat bahwa ada antusiasme yang

tinggi pada masyarakat Jakarta untuk berkiprah di jagad maya.



Kabar lain datang dari lembaga penyedia layanan blog Word Press.

Disebutkan, dalam statistik bulan Juni, setelah bahasa Inggris, bahasa

Indonesia berada dalam urutan ketujuh bahasa yang paling banyak

digunakan di situs ngeblog itu.



Memang belum ada penelitian yang pasti berapa pemilik blog di

Indonesia. Enda Nasution, yang mendapat julukan sebagai bapak blogger

Indonesia, memerkirakan jumlah blog di Indonesia sudah mencapai angka

130 ribu, bahkan diperkirakan lebih dari itu. Pertanyaannya, dimanakah

mereka? 



Pada 27 September mendatang, sejumlah blogger terkemuka di Indonesia

berinisiatif menggelar acara Pesta Blogger 2007. Ini merupakan acara

kumpul-kumpul blogger berskala nasional yang pertama di Indonesia.

Acara yang menggusung tema "Suara Baru Indonesia" ini dimaksudkan

sebagai wadah pertemuan dan diskusi bagi para blogger untuk

bersama-sama menciptakan iklum ngeblog yang positif di Indonesia.

Lebih dari 200 blogger Indonesia bakal hadir dalam acara ini. Kita

tunggu saja kiprah suara baru indonesia ini! 



Penulis: J Heru Margianto



Copyright 2006 Kompas Group      

Kirim email ke