Jadi inget keponakan saya, kami pernah tinggal di Halim ( maklum anak kolong itu istilahnya ), kadang ada rasa rindu ingin napak tilas waktu kecil dulu. Suatu hari saya dan adik2 saya membawa anak2 semua, yaaah semua keponakan deh, tidak termasuk anak saya karena dia sudah dewasa jadi tidak berminat untuk ikut. kita melewati rumah yang dulu pernah kita tempati dan menunjukkan ke mereka dimana kita sekolah dulu, di TK Angkasa, SD 1 berada dibelakang rumah,SD 2 sekarang sudah berubah jadi Bandara Halim dan SMP 80, sewaktu kita mau keluar kompleks Halim kita melewati hamparan sawah2 yang hijau dan tiba nyeletuklah Didi keponakan saya waktu itu kelas 3 SD, ...... Wa' kita sekarang ada di desa ya? nama desanya apa? ............... ha ha ha ha jadi dia heran lihat ada sawah, dia kira kita sudah keluar kota dan ada sawah dan kebonya................... Dasar anak2 dikira yang ada sawah dan kebo itu hanya didesa ??????
ajpw Bambang Riyanto <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [email protected] 11/26/2007 09:19 AM Please respond to Forum-Pembaca-Kompas To: [email protected] cc: Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] JAM - Jika Aku Menjadi..... Mas Satrio, JAM edisis perdana membawa nuansa berbeda. Unsur edukasi dalam menumbuhkan kepekaan sosial kuat disampaikan. Profisiat atas ide kreatifnya.....ditunggu JAM edisi berikutnya dengan kejutan2nya... Live in seperti ini kiranya perlu dilakukan di sekolah2 elite. Dulu setahu saya pernah dilakukan oleh beberapa sekolah elite di Jakarta, dengan live in bersama petani di daerah pelosok di Kab. Wonogiri. Entah sekarang masih berlanjut tidak. Tujuan utama adalah menunjukkan realitas kehidupan sosial yang jauh dari apa yang para siswa alami sehingga tumbuh kepekaan sosial. Tapi ternyata banyak hal2 baru yang terlihat sepele. Waktu itu ada anak SD terheran2 melihat ayam. Dia tanya ke gurunya, kok ayam berbulu???? Ternyata yang dia lihat selama ini ayam yang sudah gundul digantung di restoran siap masak...... Ada juga siswa SMU yang teriak2 kegirangan, "Hei, ada kebo....ada kebo...." Salam, riyanto
