Pembentukkan KOMPAK (Komisi Anti Perdagangan Perempuan
dan Anak Kertawirama)

Oleh : Ria Permana Sari

INSTITUT PEREMPUAN-Bandung: Tingginya tingkat
trafiking dan banyaknya buruh migran dari daerah Jawa
Barat telah menjadikan banyak perempuan dan anak
menjadi korban. Oleh karena itu, sosialisasi kepada
masyarakat mengenai trafiking akan memberikan
pemahaman yang benar mengenai trafiking sehingga
masyarakat akan lebih waspada, dan menjadi bagian dari
usaha pencegahan trafiking.

Hal tersebut yang kemudian mendorong kepedulian
perempuan-perempuan di Desa Kertawirama, Kabupaten
Kuningan untuk berkumpul dan mensosialisasikan
trafiking kepada masyarakat. Dalam rangka 18 hari
kampanye anti kekerasan terhadap perempuan dilakukan
pemutaran film mengenai trafiking anak. Acara
pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi yang
difasilitasi oleh INSTITUT PEREMPUAN kemudian
dilanjutkan dengan pembentukkan kelompok. 

Dalam pertemuan tersebut disepakati nama kelompok
tersebut adalah KOMPAK, Komisi Anti Perdagangan
Perempuan dan Anak Kertawirama. Kelompok ini sendiri
bertujuan untuk mencegah trafiking, membantu perempuan
dan anak, dan mempererat persaudaraan. Sri Heryatin
terpilih sebagai ketua KOMPAK. Kelompok ini
selanjutnya akan aktif untuk mensosialisasikan
trafiking serta perlindungan hak perempuan dan anak di
desa Kertawirama. Hal ini penting mengingat cukup
banyaknya perempuan di Kertawirama yang berangkat
sebagai buruh migran, serta rendahnya pendidikan anak
(perempuan) yang telah menyebabkan banyak anak
perempuan menjadi pekerja anak. Hal ini tentu saja
menyebabkan mereka rentan terhadap trafiking. Melalui
diskusi tersebut, ditemukan ada beberapa kasus yang
ditemui di desa tersebut, termasuk pemalsuan dokumen.

Melalui pertemuan tersebut, masing-masing anggota
berkomitmen untuk melakukan sosialisasi mengenai
trafiking di keluarga dan lingkungannya. Sehingga
nantinya masyarakat mengetahui apa itu trafiking serta
bagaimana bermigrasi yang aman. Kurangnya informasi
mengenai hal tersebut, tentu saja akan menyebabkan
banyak perempuan dan anak yang menjadi korban
trafiking. “Permasalahan yang biasa dihadapi adalah,
kurangnya sosialisasi mengenai trafiking kepada
masyarakat terutama yang berada di desa-desa. Oleh
karenanya perlu ada sosialisasi yang kontinue kepada
masyarakat pedesaan, sebagai upaya pencegahan terhadap
trafiking,” kata Ria, INSTITUT PEREMPUAN. 

Keinginan dari perempuan-perempuan tersebut untuk
berkumpul dan melakukan sesuatu untuk melindungi
perempuan dan anak di desanya, terutama berkaitan
dengan masalah trafiking adalah suatu hal yang
menggembirakan. Langkah ini tentu saja diharapkan akan
memberi kontribusa terhada upaya pencegahan trafiking.
(*)

INSTITUT PEREMPUAN
Jl. Dago Pojok No. 85, Coblong
Bandung 40135
Telp/ Fax : 022 –2516378
E-mail : [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
www.institutperempuan.or.id,
www.institutperempuan.blogspot.com





      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke